Di tengah apatisme masyarakat terhadap partai politik, kehadiran partai-partai baru yang tampil beda patut diapresiasi. Bagi orang yang punya apatisme akut, mungkin tak ada gunanya mengampanyekan partai baru. Toh, baginya semua partai sama saja. Partai politik cuma mau menipu saja. Awalnya penuh dengan janji-janji manis, tapi ujungnya tetap saja tak ada bedanya dengan partai-partai yang ada.

Tapi, nanti dulu. Mari kita ambil sikap “the benefit of the doubt” untuk sementara. Kita buka mata-hati kita, untuk menerima satu-dua partai baru. Tentu saja dengan tetap awas dan pandangan kritis. Tidak ada salahnya mengetahui atau mempelajari satu-dua partai baru. Siapa tahu ada juga sisi positifnya. Siapa tahu partai ini memang partai yang kita harapkan.

Saya mau bicara tentang Partai Solidaritas Indonesia (PSI), sebuah partai yang akhir-akhir ini menyita perhatian saya. Jangan curiga dulu. Bukan karena ketua umumnya cantik dan mantan penyiar TV yang terkenal itu, tapi karena cara PSI mendekati orang, khususnya di sosial media, cukup simpatik dan menarik perhatian.

Semula saya seperti kebanyakan orang, tak terlalu suka dengan kehadiran partai baru. Aneh juga, dengan partai lama muak, tapi dengan partai baru tak bisa menerima. Ini sebetulnya perasaan yang tak sehat. Jika kita terus punya perasaan seperti ini, demokrasi Indonesia tak akan membaik.

Nah, suatu saat, saya melihat promosi menarik dari PSI dalam sebuah fanpage di Facebook. Saya pikir, itu sebuah fanpage untuk mengenang sebuah partai lama yang pernah ada di Indonesia, yakni Partai Sosialis Indonesia, yang akronimnya juga sama. Tapi, ternyata itu partai baru. Saya pikir, mungkin pendirinya pengagum PSI lama sehingga dia ingin membangun PSI baru dengan akronim yang mirip.

Cara mendekati dan berkampanye PSI cukup unik. Pertama-tama, mereka sangat gencar berkampanye kepada pemilih muda. Mereka tampaknya tahu bahwa generasi milenium ini kurang suka TV tapi keranjingan internet. Dengan alasan itu, mereka fokus berkampanye di sosial media.

Jumlah "Like" pada fanpage PSI cukup besar. Kurang dari setahun, jumlah “follower” di fanpage itu sudah di atas 1 juta, sebuah angka fantastis untuk partai baru. Tentu saja, jumlah ini di-boost lewat iklan dan berbagai promosi lainnya.

PSI juga fasih menggunakan multimedia. Ada banyak gambar-gambar dan video yang bercerita tentang apa itu PSI dan apa kegiatan para petingginya, yang rata-rata anak-anak muda itu. Generasi milenium memang lebih senang menonton video atau melihat gambar ketimbang membaca.

Yang menarik dari PSI adalah cara mereka merekrut para pengurus partai. Tak satupun pengurus partai yang berusia di atas 40 tahun. Semuanya di bawah usia 40. Memang, ini kebijakan resmi partai. Jika ingin jadi pengurus, Anda harus berusia di bawah 40. Tidak ada ampun.

Itu mungkin syarat yang cukup “nekad.” Dengan persyaratan seperti itu, PSI menutup pintu rapat-rapat kepada calon-calon pemimpin yang baik yang usianya sudah menginjak 40. Tapi, mereka punya alasan yang masuk akal: soal regenerasi. Menurut mereka, regenerasi macet selama ini, salah satunya, karena tidak ada kebijakan soal usia dalam pangurusan partai. Tak heran kalau hampir semua partai besar di negeri ini dipimpin oleh para kakek.

Sambil mengucapkan selamat kepada PSI yang baru saja merayakan ulang tahun pertama, saya berdoa agar partai ini berjalan lurus, sesuai dengan semangat yang mereka gelorakan. Sekali lagi, saya mau berprasangka baik dulu dengan kelahiran partai baru. Semoga PSI tidak seperti partai-partai lain.