Setahun yang lalu, buku Anak Muda dan Masa Depan Indonesia terbit oleh Mizan. Saya ingat bagaimana dalam buku itu, saya menuangkan kegelisahan saya soal perempuan dan keterwakilan dalam politik. Soal bagaimana kuota 30% tidak pernah efektif karena tidak menjawab substansi persoalan perempuan dan tidak mengakomodasi kebutuhan perempuan dalam kebijakan publik.

Saya juga menuliskan bagaimana perempuan masih kerap diajak menjadi pajangan semata dalam politik. Umumnya metode perekrutan berasal dari lingkaran keluarga. Artinya, keterwakilan perempuan rentan dengan politik dinasti semata.

Tepat pada 1 Oktober, yang sebagai orang Katolik diperingati sebagai awal bulan Maria, saya menjadi saksi sejarah Ketua DPR RI pertama adalah perempuan. Puan Maharani namanya, putri Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kiemas (alm), dan cucu proklamator Soekarno.

Sebelum kita berpesta pora merayakan pecah telornya Puan sebagai Ketua DPR, mari kita melirik kembali sejarah pergerakan perempuan. Adapun Cornelia Hendrika Razoux Schultz-Metzer menjadi perempuan pertama yang duduk di Dewan Rakyat Hindia-Belanda (Volksraad).

Dilansir dari Historia, Cornelia berhasil menduduki kursi Dewan Rakyat pada 1935 melalui penunjukan dan memperoleh hak pilih pasif, yakni bisa dipilih tapi tak bisa memilih.

Kebetulan, suami Cornelia merupakan orang cukup penting. Razoux Schultz bekerja sebagai insinyur bidang perawatan kesehatan di kantor Pusat Dinas Kesehatan Rakyat Batavia.

Perempuan satu ini sangat fokus pada isu pendidikan dan kesehatan. Cornelia juga aktif memperjuangkan hak pilih perempuan ketika menjadi anggota Dewan Rakyat. Tak heran jika Cornelia adalah salah satu orang yang gencar mendorong keterwakilan perempuan pribumi dalam parlemen.

Alhasil jelang pemilihan kembali anggota Dewan Rakyat tahun 1939, para perempuan kembali berkumpul. Sarikat Kaum Ibu Sumatera menyatakan Maria Ullfah sebagai kandidat yang paling pantas untuk mewakili perempuan Indonesia. Tidak hanya Maria Ullfah, ada calon lain yang diajukan organisasi perempuan, yakni Rangkayo Chailan Syamsu Datu Tumenggung.

Meski sudah berusaha semaksimal mungkin, suara para perempuan Indonesia tak didengar. Pemerintah Kolonial kembali memilih Cornelia menjadi anggota Dewan Rakyat pada 1939. Tak ada wakil perempuan Indonesia di sana.

Namun sebenarnya, perjuangan berlanjut saat pemilihan Dewan Kota. Ada 4 perempuan pribumi yang berhasil masuk parlemen berkat hak pilih pasif Dewan Kota pada Februari 1938.

Kongres Perempuan Indonesia (KPI) III di Bandung, Juli 1938, membahas tentang kemungkinan diraihnya hak pilih aktif bagi perempuan dan strategi mengajukan wakil perempuan di Dewan Kota dalam pemilihan berikutnya. Hasilnya, empat perempuan Indonesia terpilih di Dewan Kota pada 1939.

Pertama, adalah Sri Oemiati atau biasa disapa Yat, adalah adik dr. Soetomo, pendiri Budi Utomo. Selain mendapatkan akses pendidikan Belanda, Yat hidup dalam lingkungan yang tentu memaksanya berpikir progresif.

Kedua, Siti Sundari Sudirman. Dia merupakan aktivis lama dalam organisasi Putri Budi Sejati. Organisasi asal Surabaya ini memang bergerak pada bidang pemajuan pendidikan perempuan. Siti lalu menikah dengan R. Soedirman, politisi Parindra asal Surabaya.

Ketiga, Siti Sukaptinah. Dia adalah Ketua Organisasi Isteri Indonesia selama dua periode. Organisasi Isteri Indonesia fokus memperjuangan hak pilih perempuan pribumi. Siti Sukaptinah juga kerap bergerak pada organisasi perempuan dan organisasi kaum nasionalis. Tak heran akhirnya di Semarang dia bergabung Parindra dan masuk ke Dewan Kota melalui partai ini.

Terakhir, Emma Poeradiredja, sejak mahasiswa aktif di Jong Java dan aktif menulis di Majalah Tri Koro Darmo. Emma juga bergabung pada Jong Islaminten Bond pada 1925. Emma juga mendirikan Dameskring dan Pasundan Istri.

Di sisi lain, kita mengenal Marsinah. Seorang buruh perempuan yang vokal pada perjuangan hak buruh perempuan. Nahas, hidupnya berakhir di tangan oknum dan meninggalkan luka kemanusiaan dalam sejarah kita.

Dari sejumlah kenangan itu, ada beberapa pola yang perlu kita teliti dengan baik. 

Pertama, ternyata lingkaran keluarga dan pergaulan perempuan akan sangat menentukan seperti apa dia nantinya. Kedua, pengalaman hidup seorang perempuan, dinamika dan perjuangan dia akan sangat menentukan seperti apa dirinya. 

Hal ini seolah mematahkan argumen saya bahwa perempuan dalam dinasti politik tak melulu sebuah keburukan, bisa jadi dalam alam itulah dia berkembang dan menemukan dirinya.

Kehadiran sosok Puan sekilas menjadi jawaban bahwa perempuan akhirnya diberi kesempatan. Padahal substansinya bukan semata soal itu.

Sosok Mba Puan menanggung beban berat pada representasi kepemimpinan perempuan. Minimnya prestasi Puan selama menjadi Menko PMK menguras habis optimisme sebagian orang bahwa dia tak mampu memimpin dengan baik, bahwa dia tak punya visi.

Mbak Puan seharusnya tahu, semua mata sedang tertuju padanya. Aroma distrust yang terlalu kuat seharusnya menjadi alarm bagi Mbak Puan untuk serius menjadi pemimpin dan sekaligus menunaikan peran sebagai perempuan. Kepemimpinan Puan akan menjadi cerminan sejauh mana dia sebagai yang katanya cucu proklamator memahami pemikiran kakeknya yang tertuang dalam Sarinah.

Akhir kata, rasanya terlalu jauh jika para politisi mengirim sinyal posisi strategis Puan akan membawa dia menuju Pilpres 2024. Lima tahun ke depan ujianmu baru dimulai Mbak Puan. Dalam pundak Puan juga akan diukur sejauh mana agenda perempuan diluluskan, dan sejauh mana perempuan Indonesia mampu berperan layaknya Nancy Pelosi yang hendak menggulingkan Trump.

Kepempinan Puan bisa mengafirmasi posisi perempuan Indonesia ke depan, betapa krusialnya itu bagi saya.

Jadi bagi orang-orang PDIP khususnya, janganlah bersorak-sorai bahwa kepemimpinan Puan semata adalah bentuk perjuangan kesetaraan gender. Bahwa perempuan telah diberi kesempatan. Itu tak lebih dari logika memberi ruang perempuan sebagai pion semata bukan petarung. Maka berpikirlah bahwa ada konsekuensi logis dari keputusan ini, bagaimana partai pemenang juga harus memperjuangkan hak-hak perempuan ke depan. Siap?

So, selamat berjuang, Mbak Puan. Semua mata tertuju padamu, termasuk mataku.

Sumber: