Donald J Trump, Presiden ke-45 Amerika Serikat, adalah bukan saja musibah bagi Uwak Sam, tapi juga pertanda malam panjang akan segera datang. Sepanjang kampanye, Trump begitu masif mengkampanyekan anti pada pendatang. Terutama, Trump menyoroti imigran dari Meksiko dan dunia Islam.

Semasa bersaing dengan Hillary, Trump berjanji akan membuat tembok pemisah antara Meksiko dan Uwak Sam. Bagi dunia Islam, agenda Trump membuat para “pemilik” minyak di jazirah Arab geram.

Setelah berkuasa, Trump sedikit demi sedikit merealisasikan impian. Seusai membuat larangan masuk ke Uwak Sam dari sejumlah negara mayoritas Islam,  kini Trump membuat wajah Uwak Sam kian suram. Bagaimana Uwak Sam tak malu, Presiden Trump hendak menghapus amandemen Johnson.

Amandemen yg disahkan tahun 1954 ini dinilai penting  untuk memberikan garis pembatas antara gereja dan negara. Tiada lain tiada bukan, Trump ingin meraih simpati kalangan gereja konservatif. Kata malam tentu saja merujuk pada kondisi semacam ini. Ketika politik dikuasai serigala pengoyak rasa keberagaman.

Membayangkan Trump seketika teringat pilpres di tanah air tiga tahun silam. Dalam masa kampanye, Prabowo didukung bejibun kalangan muslim konservatif sampai radikal. Tidak mengherankan, pasalnya Prabowo seringkali mengumbar janji manis bernada islami.

Kondisi ini tambah ngeri-ngeri sedap dengan beredarnya obor rakyat. Media hoax itu rajin benar mengirim sinyal-sinyal kebencian dengan SARA sebagai barang dagangan. Jokowi jadi sasarannya. Walhasil Prabowo dapat banjir doa dan dukungan dari Daarut Tauhid hingga Petamburan.

Strategi Trump dan Prabowo tampaknya juga berlanjut di pilgub DKI Jakarta 2017. Sebagai “kaki tangan” Prabowo dan Partai “kepanjangan tangan” Ikhwan, Anies sontak merapat ke Petamburan. Bagi para pecinta Anies Baswedan, tentu tidak sedikit yang menyesalkan.

Bagaimana tidak, tulisan dia di Kompas beberapa tahun lalu menginspirasi banyak kalangan tentang pentingnya merawat tenun kebangsaan. Tapi apalah daya tenun Kebangsaan digadaikan untuk perebutan kekuasaan. Anies dan timses bisa bersilat lidah, tapi tak bisa memungkiri telah menelan ludah.

Anies tidak lagi hanya bicara mengenai pendidikan, kini Ia pun turun tangan mengurusi persoalan selangkangan. Tengok saja betapa giatnya Anies berupaya menutup Alexis yang konon merupakan tempat memadu cinta satu malam. Anies menjadi politisi yang gemar berjual moral.

Tapi, tak apa kabarnya kini dengan wajah Islami, mantan rektor Universitas Paramadina itu mampu mendongkrak suara. Setidaknya “jagoan” Prabowo tidak lagi ada di posisi buncit. Suaranya melejit, AHY tersalip.

Lebih dari soal perselangkangan, Anies juga berupaya mengkotak-kotakan warga ke dalam dikotomi tertentu. Asli-Pendatang, Islam-bukan. Jika tak percaya, tengok saja  dalam acara debat pertama. Anies menyoal penduduk ber-KTP ibukota dan pendatang. Selanjutnya, dalam acara Mata Najwa beberapa waktu lalu, tanpa rasa malu, Anies pun sempat mengutarakan “mengikuti” Al-maidah 51 soal kepemimpinan.

Bahkan, tak kalah mengerikan Anies beritikad memulangkan Ahok ke kampung halaman jika naik ke kekuasaan. Pencetus gagasan tenun kebangsaan tampak tengah mabuk imaji kekuasaan sehingga kepalanya penuh dengan perbicaraan seperti Trump yang xenophobic nian. Anies membuat banyak hal seperti ancaman mulai dari warna kulit, KTP, hingga perkara iman.

Tapi, patutlah kita berbaik sangka pada cucu pejuang. Barang kali, ini memang strategi politik belaka. Pasar warga konservatif di Ibukota dan di Uwak Sam memang masih banyak. Trump, Prabowo, dan Anies sadar benar dengan kondisi khalayak. Karena irisan kue konservatif yang masih banyak ini lah, orang sekular sekelas Trump, Prabowo, atau dalam hal ini Anies Baswedan sedia menceburkan diri ke kubangan.

Trump telah menang. Prabowo sudah tumbang. Anies menguji peruntungan bermain dengan SARA di persilatan kekuasaan. Trump tengah menjadikan Amerika lebih “religius” dengan antiimigran dari dunia Islam. Ditambah, Trump tengah berupaya menghapus amandemen Johnson yang sudah tentu akan mengaburkan batas antara Gereja dan negara. Anies tengah mengotak-kotakkan warga antara yang Islam dan bukan.

Bukan tidak mungkin jika Anies berhasil merebut kekuasaan, demi menyenangkan Petamburan akan berlaku serupa dengan Trump. Anies akan sibuk mengurusi seluk beluk perselangkangan hingga perkara iman. Bukan soal pembangunan jalan, apa lagi wacana keberagaman.

Sebagai warga pendatang, Saya berharap warga Jakarta semoga memilih masa depan, bukan malam kelam. Jangan mengulang kekeliruan Rakyat Uwak Sam. Menyedihan sekali andai ibu kota dipimpin oleh orang yang mengoyak tenun kebangsaan demi kursi kekuasaan.