Satu nyamuk lagi mati dipipi kiri Mujeni. Plok!!! Darah. Sementara tangan lainnya belum wijik, tangan satunya lagi sudah sibuk ngelus-ngelus, ngorek-ngorek, lalu nyuik koreng bosok yang tumbuh subur di pantatnya. Diluar, angin bertiup semilir. Katak bersenandung betot. Jangkrik tak kalah gemrincingnya dari suara pohon cecek sebelah Mushola. Ada suara kentongan tiga kali dari Gardu ujung desa. Tek,tek,tek!! mengiring sekelebat kelelawar ngiprit bersama gemruduk kucing buduk menubruk decit-decit perih tikus got.

Pancuran menetes tenang  kolam kecil tempat jentik-jentik berkeliaran.  Serambi sunyi. Mujeni sendiri. Kemarin, dirinya baru saja menabrak tiang depan. Edan!! Padahal dia sudah sangat hapal dengan tempat ini. Dari pintu gerbang, tiga langkah kedepan hingga serambi, dua langkah kekanan tiang, kedepan lagi pintu masuk. Lalu, lima langkah depan  lagi mikropon tergeletak disisi peng-imaman. Tapi kenapa masih nabrak juga? Dasar nasib yang memang  lagi sial. Mungkin.

Bicara Mujeni, pasti tak lepas dari serambi. Begitu juga serambi Mushola takkan bisa lepas dari Mujeni. Begitu getirnya makhluk satu ini, Saat Siti Fatimah memutuskan untuk pergi. Bukan, bukan Fatimah yang pergi. Tapi Mujeni yang tak tahu diri, wanita sebaik  dia disia-siakan begitu saja. Padahal lima tahun yang lalu dirinya jadi sosok yang sangat dikagumi. Saat berhasil menyunting Siti Fatimah anak Haji Ramli juragan cengkeh yang selama ini jadi bahan imajinasi para bujang tua dan para duda.

“ Pasti Mujeni pake pellet! Masa Siti mau sama dia?”

“Iya, dia kan buta!!”

“Walah!! Mimpi apa Mujeni itu!!”

“Salut!! Ck,ck,ck,…”

****

Saat itu bulan Juni, saat kuncup melati dan sokasari bermekaran. Saat musimnya orang-orang munafik mensucikan diri.  Pergi ketanah suci. Kemudian, pulang berputih peci untuk kemudian kembali pada profesi aslinya masing-masing. Bupati Tukmis, camat bengis, bahkan garong halus dan copet sukses ikut andil dalam ritual ini. Itung-itung piknik sembari membersihkan nama.

“Kang Mujeni ikut haji yah?” lembut suara Siti.

“Ndak usah, kamu saja. Kalau aku ikut hanya akan merepotkan nanti,…”.

“Tapi kakang ndak marah kan?”

“Ndak, ndak papa kok!” nyegir kuda, Mujeni senang hati. Penolakannya di terima tanpa curigat oleh Siti. Haji Romli sekeluarga berangkat ke tanah suci beribadah penuh khidmat berharap berkah Ilahi. Mujeni di rumah ditemani Mbok Sum, Pegawai setia Haji Romli. Yang walau sudah cukup usia parasnya masih menyisakan sisa-sisa kecantikan masa mudanya. Itu pendapat Mujeni meski tentu ia tidak mampu melihatnya.

****

           

Waktu merembet, jarum jam masih setia mengitari angka angka dalam gelap dan sunyi malam. kesempatan tak datang dua kali. Hidup adalah pilihan, iman dan godaan serupa pasangan serasi atau dua sejoli yang tengah dilandan cinta dan mabuk asmara.Seorang pujangga pelan menyuarakan bisik dikuping penuh kopok. Merayu-rayu agar tak ragu menunaikan bujukan-bujukan indah pengabdi setan.

“Diamlah mbok Sum,…..”. Pelan Ia berbisik.

“Tapi pak,…..”.

“Sudahlah,… tak aka nada yang tahu, Kamu tenang.”.

Garang! tikus berdecit. Ranjang berderit. Sepotong sarung tergelitak disisi kolong numpang diatas jarit lurik. Beberapa rayuan, Sedikit pemaksaan, secuil penolakan, kemudian sama-sama senang. Begitulah jika setan telah berhasil membekap iman, jika rayuan nafsu sudah menguasai otak pikiran. Tak akan ada lagi kegamangan akan dosa, hanya awang-awang gelap penuh kenikmatan.

Pahit memang bagi Siti, ketika sepulang haji justru mendapati suami sedang nggenjot pembantu yang sudah seperti orang tua sendiri.  Tak ada pilihan lain untuk Siti Fatimah selain berteriak,meronta, mengutuk, menjerit keras lalu gelap dan pingsan. Sekonyong-konyong Haji Romli menghampiri kegaduhan tersebut.

“Asu! Ketek koe Mujeni!! Nggak tau diri, kurang ajar! Setan!!” Buk,bak, buk, bak! Romli marah. Dipukulinya Mujeni berkali-kali.

“Pergi dari sini, dasar Anjing buta!!” teriaknya memuntahkan segala kemarahan dan kekesalan.

Haji Romli lupa bahwa setan tak pernah memandang siapa yang akan ia rasuki. Maling, kyai, haji, atau orang buta sekalipun. Bisa saja berbuat khilaf dan dosa. Tak ada geger-gegeran kalangan. Semua harus di simpan dan di jaga Demi nama dan kehormatan keluarga katanya. berita tidak menyebar. Hanya beberapa pegawai haji Romli bergunjing lirih.

“Mujeni diusir Pak Haji,….” “Kenapa?”

“Ndak tau,….. katanya nyuri tempenya Mbok Sum,….!”

“Emangnya Mbok Sum punya tempe?” heran.

“Sst,.. sudah-sudah, diam ada Pak Haji.”. sepi.

Dari tanah kembali ketanah, itulah prinsip hidup. Jadi Mujeni tak merasa bersedih dan kecewa, dari gembel serambi mushola kembali ke serambi mushola. Kelihatan bersahaja. Tak ada yang tahu kalau setan-setan menari didalamnya.

           

  1. “ Lurus kedepan, ada pohon cengkeh, 2 langkah kekanan, terus kekiri, lurus lagi, sampai kubangan pembuangan air haji Romli. Berhenti. Raihlah dinding dapur, merapat sampai jendela. Tepat!!!”
  2. “Mbok sum,… aku datang”.
  3. “sst,.. jangan keras-keras, nanti Pak Haji bangun. Ayo naik!!”