Arsiparis
2 bulan lalu · 64 view · 4 menit baca · Budaya 50025_18286.jpg

Bergesernya Feodalisme Sebuah Payung

Sebagai negara tropis yang mempunyai dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau, maka intesitas penggunaan payung di Indonesia begitu besar. Payung menjadi alat pelindung dari panas maupun hujan untuk menyiasati kegiatan sehari-hari.

Ada yang menarik perihal payung ini, yaitu bahan yang digunakannya. Untuk generasi sekarang, mungkin sudah sering melihat payung yang berbahan kain. 

Sebenarnya ada bahan yang dipakai selain kain, yaitu kertas. Payung kertas biasanya bermotif bunga-bunga dan bentuknya agak datar serta lebih sering digunakan untuk berlindung dari terik matahari.

Budaya payung kertas bukanlah asli Indonsia, karena payung kertas ditemukan oleh orang Cina. Penemunya adalah Lu Ban, seorang pengrajin dari Tiongkok yang membuat payung untuk melindungi istrinya dari terpaan sinar matahari dan hujan.

Melihat motif hiasan yang digunakan payung kertas memang kental sekali nuansa Cina-nya. Biasanya gagang yang digunakan adalah kayu tanpa ada satupun unsur besi di dalamnya. Ringan dan praktis. 

Khusus untuk payung hujan, kertas yang digunakannya biasanya dilapisi lilin untuk menahan agar kertas tidak rusak kena rembesan air hujan.

Payung sebagai Simbol Status Seseorang

Tidak mudah bagi orang biasa untuk berpayung. Mungkin harganya mahal atau juga dianggap tidak lazim jika rakyat jelata menggunakan payung. Mereka adalah makhluk yang harus kuat diterpa panas dan hujan saat berjalan-jalan.


Dulu, payung merupakan simbol status seseorang, apakah ia dari golongan bangsawan atau orang berada. Dalam foto-foto lama, sering kita jumpai seorang pejabat kolonial yang berjalan dengan dipayungi oleh budaknya. Atau ada juga seorang saudagar yang berjalan dipayungi oleh abdinya.

Kisah perjalanan raja selalu identik dengan keberadaan abdinya sebagai pembawa payung. Mereka seolah menjadi pendamping yang memeberikan perlindungan pada tuannya. 

Besar-kecilnya payung yang dibawa menunjukkan tingkatan jabatan dari ndoro yang ia dampingi. Makin tinggi jabatannya, makin besar pula payung yang ia bawa.  

Tidak semua orang bisa memakai payung pada saat itu. Hanya golongan tertentu yang dirasa perlu untuk dilindungi dari panas dan hujan. Payung adalah kemewahan bagi pemiliknya.

Noni-noni Belanda pun tak lepas dari gaya hidup berpayung ini. Mereka akan selalu ditemani inang perempuan setiap kali bepergian yang bertugas untuk memayunginya. Di zaman kolonial, payung menjadi gambaran jelas status yang dimiliki oleh pemiliknya.

Bahkan dalam upacara-upacara kenegaraan maupun kegiatan masyarakat, masih digunakan payung besar sebagai pelindung sang Tuan pada saat itu. Meski cuaca tak panas maupun tak hujan, payung menjadi salah satu barang yang harus ada dalam setiap seremonial.

Bergesernya Nilai sebuah Payung

Seiring berjalannya waktu, penggunaan payung tak lagi menjadi monopoli orang-orang yang punya pangkat atau golongan kaya. Terbukti ketika payung diproduksi secara masal di Eropa dan menjadi bagian dari mode berpakaian mereka. Payung menjadi egaliter bagi semua kalangan.

Begitu pula di Indonesia, payung kertas menjadi penampakan biasa di jalan-jalan maupun di pasar-pasar tradisional desa. Payung menjadi bagaian penting dalam beraktivitas tanpa harus dilihat siapa latar belakang pemakainya.


Di tahun 80-an ke bawah, budaya menenteng payung kertas masih banyak terlihat di jalanan atau di pasar. Sejak hancurnya kolonialisme, payung tak lagi menjadi monopoli golongan tertentu saja. Payung adalah benda pakai biasa dan makin mudah diakses kepemilikannya.

Bergesernya nilai pada payung ini membuat payung makin merakyat dan makin tersebar pemakaiannya. Meski demikian, corak motifnya hampir tidak berubah, yaitu bunga-bunga. Apakah ini karena identik penggunaan payung hanya untuk perempuan? Bisa jadi.

Karena persebaran yang luas itu, perkembangan selanjutnya adalah payung mulai menemukan ciri lokalitas masing masing.

Di Eropa, payung pernah ngetren sebagai aksesoris mode. Gaya lebih anggun dan flamboyan ditampilkan dengan gambaran sosok model yang menenteng payung.

Lu Ban mungkin tak menyangka bahwa apa yang dibuatnya akan menyebar ke seluruh dunia. Semua mengetahui payung dan bisa memakainya kapan saja tanpa harus melihat status penggunanya.

Menariknya, payung yang bukan produk budaya asli Indonesia namun keberadaannya masih awet karena alasan penggunaan dan kemanfaatan. Payung telah melebur asal-muasal yang sering menjadi sentimen kita. Sebagai budaya dari Cina, payung kokoh tanpa perdebatan sebagai sarana berlindung dari panas dan hujan.

Ketika sebuah barang dimanfaatkan fungsinya sebagaimana mestinya, maka sentimen kedaerahan menjadi terabaikan. Tak ada yang mempermasalahkan jika ada yang menggunakan payung kertas di jalanan. Kebermanfaatan menjadi lebih utama; alasan seseorang berpayung bukan karena berniat menunjukkan bahwa ia dari suku tertentu.

Kini hampir sulit ditemukan payung kertas di sekitar kita. Payung kertas hanyalah sebagai hiasan semata-mata. Bahan yang mudah sobek itu telah tergerus oleh payung dari kain yang lebih kokoh dan tahan lama.

Payung kertas mempunyai keunggulan karena lebih ringan dan tentunya lebih kuat dari terpaan hujan. Untuk payung kertas itu sendiri, memang sudah jarang dipakai untuk berlindung dari hujan. Namun untuk berlindung dari panas mentari, payung kertas tetap menjadi pilihan.


Tersingkirnya payung kertas mungkin disebabkan oleh langkanya bahan baku, atau bisa juga karena payung kertas sudah ketinggalan zaman sehingga penggunanya merasa udik jika memakainya.

Biar bagaimanapun, payung kertas pernah mengisi dan menjadi penanda sebuah era ketika feodalisme masih kuat di tengah-tengah kita. Kini kita hanya bisa menemui di museum-museum atau di acara upacara adat. 

Payung kertas adalah simbol feodalisme yang bergeser menuju kesetaraan dan tiba-tiba kita kehilangan jejaknya. Dan sering kali kita terlena saat mengenangnya.

Artikel Terkait