Akhir-akhir ini nama Rocky Gerung cukup menyita perhatian publik Indonesia. Nama yang dahulu dikenal di kalangan terbatas, kini muncul dan dibicarakan khalayak Indonesia. 

Bukan karena apa-apa, nama RG (demikian penulis akan menyingkat nama ini) muncul karena pernyataan kontroversi-kontroversinya mengenai kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo beserta jajarannya. Belum lagi pernyataan-pernyataan tersebut sering kali menggunakan istilah-istilah filosofis (ilmu filsafat).

Pernyataan-pernyataan RG yang menggunakan istilah-istilah filsafat di satu sisi dapat menjadi penguat argumen bagi dirinya sendiri, sementara di sisi lain dapat menjadi blunder bagi dirinya dan orang lain. Salah satu bukti adalah anggapan filsafat yang sebagai ilmu atau cabang ilmu pengetahuan yang dianggap "susah" kini mendapatkan stigma baru, yaitu sebagai "alat" untuk "melawan pemerintah". 

Namun pada dasarnya tulisan ini tidak ingin sedang "menyerang balik" apa yang disampaikan oleh RG selama ini, sebab RG melakukan hal itu semua karena tentu dengan adanya pertimbangan-pertimbangan dan alasan-alasan logis tertentu. Bahkan tulisan ini bukan dalam konteks untuk membela salah satu paslon atau sebagai ajang kampanye. 

Bagaimanapun juga, pemikiran dan pilihan politik praktis RG dalam keilmuan filsafat juga tetap perlu diapresiasi. Akan tetapi, dampak negatif yang dihasilkan seperti adanya pandangan yang semakin buruk terhadap filsafat dan orang semakin bingung mendefinisikan filsafat, membuat penulis merasa terpanggil untuk "menjelaskan ulang" tentang apa itu filsafat dalam bahasa yang lebih sederhana.

Sejarah Awal Munculnya Filsafat

Berbicara tentang filsafat tentu tidak dapat dilepaskan dari sejarah Yunani Kuno. Sekitar abad 6-8 sebelum Masehi, banyak orang Yunani Kuno yang sudah memikirkan hal-hal kecil. Mereka bermula dari melihat apa saja yang terjadi di alam semesta ini, mulai dari adanya api, air, udara, dan lain-lain. 

Filsafat muncul sebagai bentuk "keheranan", "keingintahuan", dan "pencarian yang mendalam". Aristoteles sebagai salah satu filsuf Yunani Kuno yang terkenal dalam bukunya yang berjudul "Metafisika" mengatakan bahwa berfilsafat (dan bermetafisika) tidak bisa lepas dari rasa "kepo" alias rasa ingin tahu yang sejelas-jelasnya dan segamblang-gamblangnya. Bagi Aristoteles, hal itu sangatlah manusiawi sekali. Manusia merasa heran, lalu ia mencoba mencari tahu mengapa sesuatu itu terjadi dan sesegera mungkin mulai mencari yang paling dalam kehidupan ini.

Pencarian tersebut dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana dan sangat mendetail, misalnya tentang peristiwa-peristiwa alam dan tindakan-tindakan manusia. Bahkan manusia-manusia Yunani Kuno tidaklah seperti manusia-manusia sekarang yang serba "terspesialisasi" melainkan juga dapat dikatakan sebagai manusia-manusia "serba-bisa". 

Beberapa tokoh filsafat seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, sampai tokoh-tokoh filsafat Abad Pertengahan seperti Ambrosius, Agustinus, Bonaventura, Thomas Aquinas, William Ockham, Ibn Sina, Ibn Rushd, dan lain-lain tidak ada pembedaan apakah ia lulusan IPA atau IPS, masuk jurusan apa dan fakultas apa, dan lain-lain. Semua tokoh itu dapat dikatakan sebagai "manusia-serba-bisa" dan tidak dibatasi oleh ilmu-ilmu tertentu.

Para ahli filsafat di kemudian hari menyebutkan bahwa filsafat dapat berfungsi sebagai ilmu, metode, dan juga pegangan hidup. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari etimologi (asal kata) dari filsafat itu sendiri dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Kata philosophia sendiri masih dibedakan lagi, yaitu philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Filsafat tidak lain memiliki definisi sebagai tindakan khas manusia yang mencintai kebijaksanaan. 

Mengapa tindakan khas manusia? Filsafat memiliki pemikiran bahwa hanya manusia saja yang memiliki akal budi dan akal budi manusia selalu mengarahkan kepada kebijaksanaan. Oleh karenanya, segala sesuatu yang berkaitan dengan filsafat semestinya berkaitan dengan cinta akan kebijaksanaan.

Sampai di sini filsafat mendapat "kritikan" pertamanya sendiri, yaitu bagaimana atau apakah kriteria kebijaksanaan seseorang? Mengapa berbicara tentang kebijaksanaan? Hal ini tidak dapat dilepaskan dari ciri-ciri filsafat itu sendiri baik filsafat sebagai ilmu, metode, dan pegangan hidup. Oleh karena itu, kita akan  mendalaminya satu per satu.

Filsafat sebagai Ilmu Pengetahuan

Filsafat sebagai ilmu tentunya dapat dikritisi kembali mengapa filsafat dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan. Jikalau filsafat dikatakan sebagai alat ukut kebijaksanaan seseorang, bagaimana mungkin kebijaksanaan seseorang yang abstrak dapat diukur dan dipelajari dalam sebuah ilmu? 

Tentunya bagi sebagian orang hal ini merupakan suatu kontradiksinya. Nyatanya, filsafat sebagai ilmu tidak dipahami sekadar sebagai alat ukur saja. Filsafat sebagai ilmu tentunya ia memiliki dua sifat utama kriteria ilmu pengetahuan pada umumnya yaitu berlaku universal dan mengarahkan pada kebenaran tertentu. 

Pertama, sebagai ilmu pengetahuan, filsafat bertugas agar ia dapat dipelajari oleh banyak orang dan tetap ada prinsip-prinsip atau kaidah-kaidah tertentu yang berlaku dalam filsafat baik secara spekulatif maupun pasti. Filsafat membantu seseorang untuk tidak hanya berpikir secara partikular tetapi juga universal. 

Namun apa yang menjadi nilai universalnya? Nilai universal dalam filsafat muncul ketika kita mulai mengkritisi pemikiran filsafat dan spekulatif dari para filsuf terhadap suatu peristiwa atau fenomena tertentu. Filsafat dapat menguraikan apa-apa saja pemikiran filosofis dan spekulatif masing-masing tokoh filsafat ketika menghadapi suatu problem filosofis yang ada.

Kedua, sebagai ilmu pengetahuan filsafat bertugas untuk mengarahkan kepada kebenaran. Di dunia ini tidak ada ilmu yang menghantarkan pada suatu kesesatan atau kesalahan berpikir yang berujung pada kesalahan. Ilmu matematika misalnya, pasti mengajarkan apabila 1+1 = 2, tidak mungkin mengajarkan yang lain.

Ilmu hukum yang termasuk salah satu ilmu humaniora juga pun mengajarkan apabila ada orang yang bersalah, baik itu secara lisan, pidana, perdata juga harus dihukum. Filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentunya juga mengarahkan seseorang kepada kebenaran sejati.

Filsafat sebagai Metode

Salah satu keunikan filsafat terletak pada metode (cara penggunaannya). Filsafat tidak menggunakan metode-metode tertentu dengan pelatihan-pelatihan khusus seperti yang ada pada ilmu-ilmu lain. Filsafat memiliki metodenya yang khas, yaitu berpikir secara filosofis (mendasar). 

Filsafat tidak pernah berpikir dimulai dari cara-cara yang abstrak atau "melangit". Justru apabila filsafat sering kali dipahami sebagai metode berbicara tentang "langit" (sebuah istilah yang senantiasa digunakan untuk melemahkan filsafat) merupakan pemahaman yang keliru sebab mungkin orang itu tidak pernah mengenal atau belajar filsafat. Justru filsafat senantiasa diawali dari rasa keheranan dan keingintahuan manusia. Dari situ filsafat menemukan metodenya sendiri, yaitu berpikir secara kritis.

Berpikir secara kritis ini tidak dapat dilepaskan dari filsafat sebagai ilmu pengetahuan. Filsafat dengan metode berpikir kritisnya senantiasa mengarahkan manusia kebenaran yang hakiki (ultimate) mengarahkan pada cara berpikir manusia apakah yang ia lihat, amati, pelajari, dengar, dan lain-lainnya mengarah kepada kebenaran tertentu. 

Manusia dapat menggunakan metode filsafat untuk senantiasa check and re-check terhadap segala sesuatu yang ia terima. Memang hingga di sini orang filsafat sering kali dianggap "aneh" karena di berbagai kasus orang filsafat terlalu "banyak berpikir dan sedikit bertindak". Padahal, di situlah letak keunikan dan ciri khas filsafat.

Di sini filsafat menyatakan dirinya sebagai metode untuk menyingkapkan kebenaran dan kebenaran tersebut adalah kebenaran sejati. Kebenaran sejati dapat dipahami sebagai kebenaran non-etis, artinya ia tidak terpengaruh pada penilaian baik dan buruk moral manusia. 

Bagi orang Timur misalnya, bersendawa adalah hal yang biasa sementara orang Barat menganggap hal itu adalah tidak sopan. Tugas filsafat adalah mengungkapkan apa adanya dan apabila terjadi perbedaan dalam mengungkapkan sesuatu, metode filsafat yang penting digunakan adalah berpikir secara kritis manakah data atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara universal.

Filsafat sebagai Pegangan Hidup

Filsafat dapat menjadi pegangan hidup apabila ia telah benar-benar mengarahkan pada pemikiran satu atau lebih manusia pada kebenaran. Memang di dunia ini pada akhirnya muncul berbagai "kebenaran". Hal ini sungguh berbeda dengan agama yang senantiasa mengarahkan kita pada satu kebenaran mutlak. 

FIlsafat tidak sampai pada ranah itu. Filsafat menganggap bahwa tiap manusia memiliki kebenarannya sendiri, namun bukan berarti terjebak pada kebenaran relativisme biasa. Filsafat sebagai pegangan hidup hendak mengungkapkan apakah seseorang dapat "menemukan" kebenarannya atau tidak. Kebenaran filsafat tidak dapat dimasukkan dalam ranah moral atau etis seperti pada agama atau hukum. Kebenaran filsafat tidak lain dan tidak bukan merupakan kebenaran filosofis.

Kebenaran filosofis tersebut tentunya menggunakan akal budi yang sehat dan senantiasa mengarahkan pada kebenaran bersama. Memang pada dasarnya manusia memiliki kebenarannya masing-masing yang berbeda dan justru di situlah tantangannya. Apakah manusia dapat hidup pada kebenarannya atau justru ikut-ikutan pada kebenaran orang lain? 

Namun lebih daripada itu, filsafat sebagai pegangan hidup hendak memertegas bahwa pegangan hidup seseorang pun memiliki kesamaan antara satu orang dengan yang lain. Orang Jawa misalnya memiliki pegangan hidup "memayu hayuning bawana" (artinya: memikul bumi secara bersama-sama) yang di Indonesia bisa dipahami sebagai "gotong royong" atau di dunia Barat sebagai "working together". 

Mengkritisi Gaya Berfilsafat RG

Sejak RG muncul di salah satu program TV swasta yang mana dirinya menyebutkan kitab suci agama-agama adalah "fiksi" yang  membuat publik mencari tahu tentang siapa dirinya. Belum lagi ketika ia seringkali mengkritisi pemerintahan Presiden Joko Widodo seolah RG mendapat keluasaan dapat mengkritisi pemerintahan sekarang. 

Apakah hal itu adalah sesuatu yang salah? Tidak, sebab tiap manusia memiliki daya logika untuk mengarahkan kepada "kebenaran" tertentu yang mana hal itu merupakan kebenaran pribadi dari RG. Akan tetapi, kebenaran tanpa disertai fakta yang memadai akan berujung pada kemunduran dalam dunia filsafat itu sendiri.

Sekali lagi, di sini penulis bukan berusaha untuk menyalahkan pendapat RG ataupun pilihan politiknya. Penulis juga tidak masuk dalam ranah politik praktis pada tulisan ini untuk membela salah satu atau dua paslon. Akan tetapi, penulis justru melihat dalam perkembangannya RG justru jatuh pada gaya mengkritisi yang seolah ia yang paling tahu dan paling benar dari segalanya. 

RG justru menunjukkan sikap yang bertentangan dengan filsafat itu sendiri. Belum lagi ia sering kali menggunakan diksi-diksi (pilihan-pilihan kata) tertentu yang justru dapat bereaksi macam-macam dan membingungkan publik. Penulis mengkhawatirkan apabila RG mengkritisi tanpa disertai dengan bukti yang mana akhir-akhir ini RG dipertajam dengan adanya sikap yang selalu menyalahkan salah satu partai besar di Indonesia ini menunjukkan pada sikap bahwa RG telah jauh dari filsafat yang ia perjuangkan dan geluti selama ini.

Sebagai seorang pribadi yang memiliki kebebasan, RG dapat memilih hak suaranya pada salah satu paslon. Namun sebagai seorang yang telah masuk dalam dunia filsafat sejak lama tentunya penting agar ia  tidak melupakan ciri-ciri mendasar dalam kehidupan berfilsafatnya. Hal itu tentu tidak ada yang salah secara filosofis, namun menjadi masalah apabila ia terus mendengung-dengungkan hal itu tanpa adanya data yang sangat akurat dan dengan gaya filsafat yang jauh dari pendekatan etika Timur.

Hingga di sini, publik curiga apakah RG benar-benar memelajari filsafat? Sebab dalam filsafat sendiri adanya perbedaan pendapat, uji materi dan data, dan lain-lain rata-rata menggunakan dialektika (dialog bahkan debat), protes secara sopan dan teratur yang berdasarkan pada nilai-nilai Ketimuran juga.

Berfilsafat yang Menyejukkan

Sebagai seorang yang pernah belajar filsafat di bangku perkuliahan, tentulah penulis ingin menawarkan suatu jalan yang kelihatannya sederhana namun jarang sekali digunakan, yaitu dengan menebarkan kesejukan di tengah-tengah "panas"nya dunia perpolitikan Indonesia ini. 

Memang dalam sejarah filsafat tidak ada istilah filsafat yang menyejukkan secara tertulis. Berfilsafat secara sejuk bukan berarti berfilsafat yang sulit, melangit, apalagi diunakan untuk mengkritisi tanpa adanya etika dan data yang akurat. Berfilsafat yang sejuk urgen dilakukan mengingat ketika orang mendengar kata kritik-kritik filsafat berarti sedang "mencari musuh" karena menggunakan dalil "aku benar-kamu salah". Belum apa-apa filsafat tampil sebagai sesuatu yang menghakimi. 

Dala perkembangan filsafat selanjutnya, memang filsafat digunakan sebagai suatu metode suatu ilmu dan kehidupan manusia yang bisa diuji apakah sudah sesuai fungsi dan harapannya masing-masing atau tidak. 

Sudahkah filsafat menggunakan ciri khasnya untuk berpikir kritis namun bukan sembarang berpikir kritis? Hal ini penting untuk dibedakan apabila orang ketika benci atau sudah menggunakan perasaan, sulit untuk bepikir kembali secara rasional karena itu bisa jadi ranahnya perasaan, bukan akal budi lagi. Justru karena itulah filsafat bertugas untuk menaburkan kesejukkan di mana-mana. 

Filsafat bertugas menyejukkan artinya filsafat kembali pada perannya untuk mencari data dan fakta, walaupun bagi orang yang merasa terusik hal itu merupakan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Filsafat yang sejuk juga dapat berarti filsafat yang berpihak kepada kebenaran dan etika. 

Selain filsafat bertugas untuk kebenaran, etika juga adalah upaya moral untuk senantiasa dikritisi dan sebagai alat ukur apakah kritik-kritik yang disampaikan sudah sesuai fakta, kebudayan, nilai, dan norma dan berlaku di masyarakat. Hal ini penting untuk senantiasa diingat kembali sebab dalam kehidupan sehari-hari saja tidak mudah menerima kritik tanpa adanya etika tertentu. Hal ini merupakan suatu konsekuensi logis apabila seorang bisa saja menegur atau mengkritisi sesuatu namun disalahpahami karena penggunaan bahasa yang kasar, tidak sopan, dan lain-lain. 

Memang tidak ada suatu metode baku berfilsafat, namun alangkah baiknya apabila filsafat di Indonesia dapat disampaikan dengan konteks masyarakst Indonesia juga. Dengan demikian maka berfilsafatpun memerlukan kontekstualisasi.