Sejarawan, antropolog, arkeolog, ataupun ahli geologi biasa menggunakan jejak radioaktif yang berpola radiometrik serta ditambah dukungan stratigrafi untuk menentukan umur sebuah fosil atau artefak.

Jika menemui jalan buntu, mereka gunakan metode alternatif lainnya, seperti dendrokronologi (penghitungan lingkar pohon). Atau yang lebih literatif, seperti jalur lingua epigrafi (penelitian arti peninggalan tertulis dari segi bahasa).

Sedang untuk kejadian yang tak terlalu purba, mereka bisa berpegang pada tulisan ataupun kitab suci yang ditulis atau terukir pada media. Media yang dimungkinkan, seperti prasasti, relief candi, daun lontar, pelepah pohon, serat kayu, dinding gua, dan sebagainya.

Termasuk dalam pelacakan kotak Tabut yang fenomenal ini, mereka melacaknya lewat tulisan dan kitab suci serta artefak pendukung lainnya.

Kotak yang satu ini istimewa, tak kalah tenarnya dengan kotak suara pemilu. Kotak Tabut mempunyai berbagai nama sesuai dengan budaya setempat. Ada yang menyebutnya Taboot, Ark of Covenant, Tabut Sekinah atau mungkin juga berafiliasi dengan Kotak Pandora.

Hollywood juga cukup bersusah payah melayarlebarkan. Mulai dari versi sekilas (cameo) hingga versi utama yang holistik dan mendalam hingga berdarah-darah.

Tak ketinggalan pula dunia fiksi lembaran, beberapa buku dan novel yang berlatarbelakang kotak sakti ini terbit. Seperti novel karya Zhaenal Fanani yang berjudul Tabut! Ark of Covenant.

Ada juga Jonathan Grey dengan bukunya The Ark of The Covenant. Kemudian Tudor Parfitt dengan bukunya fenomenal berjudul The Lost of Ark of The Covenant.

Kotak Tabut merupakan artefak yang dicari-cari dan mendapat sorotan utama dalam film seri Indiana Jones karya Steven Spielberg, sutradara ahli Kabalah.

Kotak Tabut telah dijelaskan dalam beberapa kitab suci agama langit. Karena pada dasarnya boleh dibilang sebagai lambang negara (seal of nation) bagi kemonarkian Israel saat itu.

Tabut Sekinah juga sebagai tanda nyata dilantiknya raja pertama Israel saat itu, Tholut Sang Perkasa.

Pembuatan Tabut Sekinah, menurut beberapa kitab langit, didahului oleh Moses (Musa) dan Aaroon (Harun). Kotak berbahan kayu ini dijelaskan dalam kitab langit berisi lempeng batu bertulis amanah Tuhan.

Kotak Tabut pada dasarnya adalah benda pusaka yang diwariskan turun-temurun. Kotak Tabut tidak bisa sembarangan diwarisi.

Sebagaimana pusaka-pusaka di Indonesia, Kotak Tabut juga mempunyai daya kesaktian, mulai dari energi antigravitasi, nuklir, hingga kekuatan supersonik. Lebih spesifik, Kotak Tabut itu berisikan pecahan Lauh (batu bertulis) ataupun kopian yang lebih modern (kulit, kertas) yang bertulis lafaz Allah.

Pada beberapa riwayat dari Ibnu Abbas dan At Thobari menyebutkan berisikan patahan tongkat dan baju Nabi Musa sebagaimana dijelaskan oleh Habib Ali Zainal Abidin.

Lacak kontroversial juga mewarnai perjalanan perburuan kotak sakti ini. Setelah Kuil Pertama dibangun, Raja Sulaiman menempatkan Tabut di Bait Allah. Tabut Perjanjian itu disimpan di ruang khusus dalam Bait Suci yang disebut Kodesh Kodashim (Sulaiman Temple).

Kemudian datang gelombang serangan penguasa Mesir (mungkin balas dendam) yang bernama Shishak beberapa puluh tahun setelah Sulaiman Temple itu dibangun. 

Skenario Shishak inilah yang mengilhami petualangan Indiana Jones di Mesir dalam film Indiana Jones: Raiders of the Lost Ark. Hingga terbit spekulasi bahwa kotak Tabut berasal dari Piramid Mesir yang dicuri Moses hingga dikejar ke Laut Merah.

Dalam film tersebut, Indiana Jones juga mengawali penggalian kotak Tabut di Mesir. Bukan sebaliknya, diawali dari Israel.

Kotak Tabut juga diceritakan di dalam hieroglyph Mesir, jauh sebelum Moses. Bangsa Mesir menyebutnya sebagai “Taboot”. 

Spekulasi makin berkembang hingga kisah terbelahnya laut Merah. Kekuatan Tongkat Musa tiba-tiba tergantikan oleh Kotak Tabut. Sebagian yakin bahwa terbelahnya laut akibat dari energi antigravitasi yang dimiliki Kotak Tabut.

Nusantara juga tak kalah dalam berebut klaim kisah Kotak Tabut. Termasuk beberap ahli telah menyodorkan gambar relief Kotak Tabut yang terukir di Candi Borobudur. Spekulasi tersebut sejalan dengan hipotesis bahwa Borobudur adalah properti peninggalan Sleman (Sulaiman).

Kotak Tabut menjadi rebutan bangsa-bangsa yang ingin berkuasa. Ini menunjukkan ketergantungan manusia terhadap energi yang luar biasa untuk melanggengkan kekuasaan. Ketika Tuhan tak terjamah, mereka tumpahkan wakil kekuatannya kepada benda-benda yang diyakini dari Tuhan.

Eksistensi Kotak Tabut mengingatkan kita akan legenda kekuatan pusaka Jawa, Tombak Baru Klinthing misalnya yang diprediksi sebagai pembangkit nuklir tanpa reaktor.

Ketergantungan manusia terhadap pusaka membuat mereka saling berebut. Kotak Tabut juga diperebutkan melalui peperangan yang ganas. Mereka meyakini bahwa dengan membawanya di dalam setiap peperangan adalah sebuah jaminan kemenangan. Tentunya Kotak Tabut ini bolehlah disebut kotak yang haus darah.

Sebagaimana keris Empu Gandring yang mematikan serta mempunyai dorongan teologis-politis, Kotak Tabut juga menjadi rebutan mengiringi suksesi kepemimpinan. Mereka akan terus mengadakan perburuan dan perebutan selama masih menganggap bahwa Kotak Tabut adalah pusaka yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Mereka juga akan berani berdarah-darah ketika masih meyakini apabila kotak Tabut tersebut berhasil ditemukan maka keagungan dan kejayaan akan dapat dikuasai kembali. 

Benda merupakan sarana komunikasi ketuhanan sejak dulu. Tuhan memperkenalkan dirinya lewat benda-benda yang ada di sekitar manusia. Namun masih ada saja yang sok menilai benda pusaka itu sebagai salah satu penyebab menyebarnya fenomena kemusyrikan.

Mereka lupa Tongkat Musa, Tembok Ratapan, Ka'bah, Seruling Daud, Kuil Sulaiman adalah properti dari Tuhan.