51977_51416.jpg
sepakbola.com
Olahraga · 3 menit baca

Berebut Keberpihakan Messi untuk Israel dan Palestina

Franklin Foer dalam bukunya, How Soccer Explains the World yang berisi 10 esainya berusaha menyiratkan satu hal yang mungkin dibenci para penggemar sepak bola di seluruh dunia; sejatinya sepak bola bukanlah tujuan, melainkan sebuah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar lagi di baliknya. Suka ataupun tidak, kurang lebih kesimpulan dan pesan itulah yang bisa ditangkap setelah mencermati buku tersebut.

Para penikmat sepak bola jelas membenci betul adanya pencampuran sepak bola dengan kepentingan lainnya. Sosial, budaya, ekonomi, terlebih politik. Sekularisasi sepak bola; sepak bola yang bersih dari kepentingan, pencampuran, dan kecurangan dirasa menjadi cita-cita paripurna. 

Hal itu sepertinya hampir mustahil dan teramat berat untuk dicapai, terlebih dilakoni. Selain karena butuh usaha kolektif dari berbagai pihak untuk mencapainya, sejarah juga sudah banyak membuktikan dan bercerita. Bahwa sepak bola hampir selalu menjadi sasaran empuk orang-orang berdasi dengan segudang kepentingan yang dipikulnya.

Tak melulu sebuah federasi ataupun kesebelasan yang disasar. Sosok pemain yang memiliki pengaruh begitu luas juga tak lepas dari bidikan kaum borjuis untuk dijadikan sarana mencapai tujuan golongan atau kelompoknya sendiri.

Sebutlah Pele. Tentu kita mafhum betul kemampuan Pele kala ia masih berkarir sebagai pesepak bola. Kualitas dan capaiannya tak perlu disangsikan lagi. Tapi siapa sangka, nama besarnya sebagai seorang Pele yang begitu mendunia, ia justru dijadikan “bahan jualan” sekaligus alat bagi pemerintah juga politisi Brazil untuk korupsi dan melanggengkan posisi yang diincarnya. 

Tak tanggung-tanggung, imbas dari perbuatan tersebut justru menyebabkan pengelolaan klub serta liga di Brazil begitu berantakan dan tak karuan. Suatu hal yang malah kontraproduktif, akibat permainan para pejabat kotor dan korup Brazil.

Namun itu Pele. Kisah yang sudah terjadi bertahun-tahun silam. Baru-baru ini, ada lagi seorang pemain yang menjadi sasaran bagi kedua kubu yang sedang berkonflik hingga terjadi tarik ulur kepentingan. Ialah Lionel Messi, yang menjadi salah satu kunci akan dibatalkannya laga pemanasan jelang Piala Dunia antara Argentina melawan Israel beberapa waktu lalu.

Pertandingan yang seharusnya dilangsungkan pada 10 Juni 2018 ini terpaksa harus dibatalkan setelah Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, mendesak Lionel Messi yang dianggap sebagai sebuah simbol dan ikon dari sepak bola Argentina –bahkan dunia tentu– untuk tidak hadir dalam pertandingan tersebut. 

Rajoub juga mengajak para penggemar Messi di tanah Palestina, jika ia dan timnas Argentina tetap melakoni pertandingan tersebut, agar memboikot dan membakar jersey pemain dengan raihan 5 Ballon d’ Or tersebut sebagai bentuk kekecewaan atas pilihan yang diambilnya.

Namun di lain sisi, Israel pun “bermain” dan mencoba memanfaatkan momentum dari pertandingan ini. Entah sekadar mencuri berkat atau memang merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan, perhelatan yang semula akan dilangsungkan di Kota Haifa, kemudian dipindah ke Teddy Stadium di Kota Jerusalem setelah pemerintah Israel dikabarkan memberikan dana tambahan untuk melangsungkan pertandingan ini.

Pemindahan venue pertandingan ini tentu dinilai begitu politis, mengingat Jerusalem yang selama ini menjadi salah satu bagian dari tanah sengketa antara Israel dan Palestina. Belum lagi pada bulan Mei kemarin, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja memindahkan kedutaan besar AS di Israel yang semula berada di Tel Aviv ke Jerusalem. Sekaligus memperkenalkan Jerusalem sebagai ibu kota yang baru bagi Israel.

Hal ini tentu membuat warga Palestina berang. Sebab pemindahan arena pertandingan dari Haifa ke Jerusalem dianggap sengaja dilakukan guna melegitimasi Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang baru, dengan Lionel Messi sebagai “duta” yang secara tidak langsung mengakui keberadaannya jika pertandingan tetap dilangsungkan. 

Dengan jutaan penggemar Messi di seluruh dunia, kedatangannya untuk bertanding di Kota Jerusalem dinilai sebagai upaya untuk meraih simpati dan melegitimasi status Jerusalem yang baru, melalui El Messiah dan barisan penggemar di belakangnya.

Terlepas dari hasil akhir tarik-ulur rebutan Messi tadi, lagi-lagi kita ketambahan pelajaran dan satu penguat argumentasi, bahwa sepak bola ialah sebuah alat semata, bukanlah tujuan. Persis seperti apa yang sudah berulangkali coba Foer sampaikan secara implisit dalam bukunya.

Berat memang rasanya untuk mengafirmasi poin ini seratus persen. Tetapi untuk menolaknya mentah-mentah pun rasanya juga teramat musykil nan mustahil. Sebab sederet fenomena politisasi sepak bola sudah banyak kita cermati seksama.

 Atau jika masih ragu, bagaimana kalau kita minta Franklin Foer untuk meneliti masalah ini lebih lanjut? Sekaligus memintanya untuk membuktikan hipotesa “sepak bola hanyalah alat, bukan tujuan” seperti yang saya sampaikan. Bagaimana?