Ada ratusan cerita yang belum tuntas dalam folder laptopku. Bukannya menyelesaikan tugas-tugas itu untuk diakhiri dan melebelinya dengan judul yang spektakuler aku malah menulis cerita baru dengan ending berantakan. Mungkin ini lebih baik daripada tidak menulis sama sekali dan menyiakan waktu untuk hal tidak berguna.

Ada rengekan suara dari tokoh-tokoh yang aku ceritakan tanpa penyelesaian. Membuatku harus segera mengambil tindakan penyelesaian dengan membuatnya selesai dengan cara yang damai. Setiap malam folder-folder tua yang berisi kumpulan ratusan cerita itu satu-persatu akan ku akhiri sambil berjabat tangan mengucapkan maaf karena menelantarkan mereka.

Entah kenapa aku selalu mengantung cerita. Seolah aku terperangkap dalam waktu. Melihat diriku sendiri dikejahuan dalam mode terang yang membuatku menyadari bahwa cerita itu adalah menefestasi penderitaan yang kualami. Tragis memang. Namun dalam hidup justru ketragisan itulah yang menarik. Ada konflik. Ada emosi. Ada ledakan untuk diredakan dan dinetralkan.

Aku benci diriku saat tidak melakukannya secara tuntas. Tapi mau bagaimana lagi di sisi lain aku tidak ingin memaksakan cerita. Aku ingin ia menentukan kapan waktunya dibentuk dan mengakhirinya sesuai kehendak cerita itu sendiri.

Aku tahu ada nyawa disetiap cerita. Ada jiwa didalam rongga tulisan. Aku tidak ingin sembarangan. Aku tindak ingin menjadi peritual kata yang memanggil tokoh untuk ditulisakan seenak jidat lalu membiarkannya setengah jalan dan kabur begitu saja tanpa akhir.

Dosa-dosa menulisku sudah banyak. Sekarang tinggal membereskan satu-persatu tulisan lama yang membusuk itu agar berekarnasi. Mungkin akan membutuhkan waktu yang lama, tapi akan kulakukan demi mengakhiri penderitaan mereka. 

Aku mencoba setengah mati untuk fokus. Dibagian ini aku harus hati-hati karena fokusku bisa saja terbang kemana-mana, sebab aku memiliki penyakit Adult Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Di buku catatanku ada 2 halaman ide dasar yang terus menteriakiku. Setiap malam bergentayangan manakala aku membuka buku itu untuk sekedar mencatat ide baru. Aku tak bisa terus diam dan membiarkan mereka membenciku. Aku sadar merekalah yang menemani kesepianku, meluruskan otakku agar tak membenci kehidupan.

Lima tahun berkecimpung di dunia menulis dengan beberapa buku antologi cerpen dan puisi membuatku merasa pencapaianku begitu lamban. Aku belum menghasilkan karya tunggal berupa novel, kumpulan cerpen atau puisi sejak 5 tahun ini. 

Mungkin aku gagal. Mungkin aku memang lamban. Tapi aku tak ingin menyerah. Mengutip dialog dalam suatu film jika kau menyerah kau gagal, kau tak akan gagal jika menyerah kira-kira seperti itu dan itu menyinari ruang kepalaku yang kelam ini.

Aku kadang merasa gagal karena seingatku teman-teman seangkatan yang sama-sama merintis sejak awal sudah menghasilkan banyak karya. Aku masih senang jalan ditempat. Aku merasa aku perlu banyak membaca buku dibanding menulis. 

Aku sudah menulis beberapa tulisan namun lagi-lagi aku merasa gagal dan menghentikan kegiatan ini. Aku ingin membaca saja. Membaca dalam waktu yang panjang tanpa menulis sejenak.

Alasan itulah kenapa ada banyak cerita yang terpendam dalam laptopku. Bukan ingin membiarkannya tapi aku butuh tenaga-semacam penyegaran agar tulisanku bisa berkembang. Kurasa cukup tiga bulan rehat dan sekarang mulai mengkontruksi ulang.

₪₪₪₪

Ritme pelan dalam hening mengosongkan pikiranku. Ada semacam kelegaan yang tak bisa diganjar dengan apapun. Sebuah momen kebahagian dan terima kasih dari mereka. Tokoh-tokoh dalam ceritaku tak lagi membenciku. Mereka menyanjungku sebagai penulis yang bersahabat. 

Untuk kali ini aku benar-benar puas karena telah berani menyelesaikan cerita tanpa mengorbankan mereka. Bisa saja aku mengkontruksi ulang. Menghapus lalu mengantikan mereka dengan cerita baru. Lagi-lagi aku tak ingin menjadi pendosa karena telah mengundang mereka dalam cerita yang telah kubangun.

Jendela kaca membawa sinar gelap matahari. Membuka cakrawala langit yang berwarna abu hitam pertanda hujan akan turun. Aku telah menyelesaikan sebagian cerita itu. Dan akan pulang melanjutkannya saat malam. 

Perpustakaan lenggang. Hanya tinggal aku sendiri dalam sunyi bersama para tokoh ceritaku yang hidup. Kami telah berdamai. Mulai berbicara dalam bahasa yang tak bisa orang lain tahu. Kenyataannya dunia fiksi sama dengan kehidupan sebenarnya. Tak kekal. Semu. 

Dan kurasa kita harus menjaga hubungan dengan siapa saja termasuk mereka- tokoh-tokoh ceritaku yang tersenyum saat aku mengatakan bahwa kalian telah kuselesaikan dan sekarang bantulah aku agar bisa tetap waras dari dunia yang mulai kacau ini. 

Mereka tertawa dan akupun tertawa untuk sebuah ketidakwarasan ini. Lagu mulai diputar. Kehidupan berlanjut dalam episode baru. Aku siap. Siap untuk apa yang tidak akan pernah aku tahu ke depan. Kehidupan-takdir, kematian, jodoh, dan jalan hidupku. Titik. 

Dan saatnya pulang. Tulisan telah diselesaikan dengan baik.  Semoga bahagia, cisss. Damai selalu.