Rasa takut memang menjadi anomali bagi setiap orang. Hampir semua manusia dibumi hidup dengan penuh ketakutan. Mulai dari orang tua yang takut anaknya tidak bisa kuliah, sarjana yang takut tidak mendapatkan kerja, bahkan juga anak muda yang takut pada masa depannya.

Di dunia kampus, kita bisa melihat mahasiswa yang takut dengan dosennya. Dosen yang takut kehilangan pekerjaannya. Seorang laki-laki yang takut dengan pacarnya. Eits, tunggu dulu. Itu sepertinya takut jomblo.

Dalam dunia menulis, lihat saja penulis yang takut memulai tulisannya. Penulis yang takut dikritik tulisannya. Dan penulis yang takut menulis kebenaran. Jadi benar, menulis adalah nyali sekaligus cinta.

Dalam beragama, manusia takut masuk neraka. Takut dengan doa yang tidak diterima Tuhan. Takut melawan dogma kolot yang tradisional. Akibatnya, menjadi kaku dalam memahami agama.

Benar kata Andrea Hirata, ilmu yang tidak dikuasai akan menjelma menjadi ketakutan. Rasa takut pada sesuatu yang bersifat duniawi sama saja dengan menambah deretan-deretan takut yang lain.

Berbicara soal takut, baiknya kita telaah dulu apa itu takut dan ketakutan. Takut merupakan proyek psikologis. Menurut KBBI, takut adalah merasa gentar menghadapi sesuatu yang dianggap mendatangkan bencana.

Ketakutan adalah rasa takut atau keadaan takut. Jika batasan arti takut tersebut kita sepakati, pastinya ketakutan bisa membuat seseorang nekat melakukan apa pun. Termasuk membunuh dan berbohong.

Aku sendiri, sejak ditinggal ayah pergi mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di dunia, dari saat itu diliputi rasa takut. Takut salat subuh sendirian. Takut tidak alim seperti ayah. Dan takut tidak lagi mendengar ceramah-ceramah ayah.

Meski begitu, aku cukup berbangga punya ayah seorang penjaga masjid di kampung. Woii, siapa yang naro bawang di sini. Hehehe, lupakan dulu cerita tentang ayahku.

Ketakutan seperti aku juga dirasakan oleh Danil. Tokoh anak muda dalam film "Kapal Goyang Kapten" yang keluar dari rumah karena hidupnya selalu ditentukan oleh sang ayah. Beda rasa takut aku dan Danil adalah aku takut sendirian ditinggal ayah. Sedangkan Danil takut pulang ke rumah menemui ayahnya.

Sekilas, film ini mengisahkan tentang rombongan orang yang sedang melakukan traveling dengan menggunakan kapal kayu. Mereka hendak melakukan snorkling. Dan tiba-tiba kapalnya dirampok oleh perampok abal-abal. Siapa lagi kalau bukan Caka, Danil, dan Bertus.

Mereka menjadi perampok (secara terpaksa) dalam film tersebut. Ketiganya melakukan ini dengan motivasi rasa takut. Takut ibu Caka yang tidak bisa sembuh dari sakit kompilasi. Eh, salah. Komplikasi.

Sayang, ekspektasi tidak sesuai realitas. Rencana yang mereka susun harus berakhir di pulau tak berpenghuni. Akibat dari kapal kecil mereka tenggelam karena bocor. Dan terpaksa, bersama para traveling harus ke pulau tersebut.

Sampai di sana, solar mesin kapal habis. Membuat mereka harus turun dan terdampar di pulau tersebut. Singkat cerita, mereka akhirnya bekerja sama dan membuat kincir untuk dipasang pada badan kapal agar bisa pulang.

Betapa kagetnya, saat sinar pagi membawa harapan pulang, redup secara tiba-tiba. Kincir yang sudah mereka buat bersama hancur berantakan. Dan pelakunya adalah Danil dengan bukti liontin miliknya jatuh saat Danil menghancurkan kincir.

Pertanyaan yang muncul dari mereka semua adalah kenapa? Kenapa Danil melakukannya?

"Karena gua takut. Gua takut pulang. Gua takut ketemu bokap. Gua takut ke tempat di mana gua bukan siapa-siapa. Dan gua harus nurutin apa kata bokap." Itu jawaban polos yang keluar dari mulut Danil. Dramatis sekali.

Betapa banyak ketakutan yang bersarang dalam diri Danil. Termasuk takut tidak bisa mandiri. Dan takut tidak bertemu Tiara lagi (sosok tokoh perempuan dalam film). Hahaha.

Film yang bergenre comedy ini mengajarkan kita satu hal. Setidaknya itu menurut saya. Tidak tahu, bagaimana menurut sidang pembaca. Yakni, semua hal yang kita lakukan disebabkan karena rasa takut. Entah itu kejahatan, cinta, kasih sayang, juga agama.

Para politisi yang rela melakukan kebohongan pada rakyat itu karena takut tidak mendapatkan kursi. Anak SMA di Malang yang membunuh begal untuk melindungi pacarnya, itu karena takut perempuan tersebut diperkosa.

Semua ketakutan menjelma menjadi kekuatan super. Seperti Ironman. Hehehe bercanda. Rasa takut bisa membuat seseorang menjadi begitu berani melakukan apapun. Namun ketakutan juga bisa membuat seseorang tidak berani melakukan apa pun.

Contohnya takut dengan Tuhan. Seseorang yang takut dengan Tuhan akan begitu berani menumpas semua kejahatan. Dan seseorang yang takut dengan Tuhan pula tidak akan berani melakukan kejahatan. Ketakutan adalah sebuah kekuatan sekaligus kemenangan dan juga kehancuran.

Jika ketakutan itu ditempatkan pada yang ditakuti saja. Dalam konteks ini adalah Tuhan. Maka itu adalah sebuah kekuatan dan kemenangan. Dan ketakutan bisa menjadi sebuah kehancuran. Jika ketakutan dialamatkan pada orang-orang jahat.

Lihat saja presiden Turki, Erdogan. Takut pada Tuhan membuat Erdogan menjadi seorang presiden yang paling disegani di daratan Eropa bahkan dunia.

Lihat juga presiden Amerika Serikat, Trump. Takut pada manusia membuatnya melakukan kejahatan dan kehancuran. Sehingga menjadi presiden yang paling kontroversial dan tidak berperikemanusiaan.

Kalau begitu, bagaimana kita bisa bebas dari rasa takut pada semua hal kecuali Tuhan? Apa kita harus keluarkan semua bentuk ketakutan dalam diri hingga kita kehabisan stok rasa takut?

Apakah kita harus menjadi Lafran Pane kecil, yang merdeka dari rasa takut ketika ibunya meninggal dunia. Atau seperti Stephen Hawking, yang divonis dokter bahwa hidupnya tidak lama lagi. Tapi Hawking begitu percaya bahwa dia akan hidup lama.

Manusia mungkin tidak akan bebas dari rasa takut. Dan hal yang harus dilakukan oleh seseorang adalah berdamai dengan rasa takut. Bagi saya, berdamai dengan rasa takut adalah berpikir positif atau optimis.

Bukan tanpa dalil. Cak Nur pernah berpesan, manusia yang selalu pesimis adalah mereka yang mengingkari fitrah kemanusiaannya. Dari metaforik bahasa ini, saya menyimpulkan berpikir optimis adalah proses berdamai dengan rasa takut.

Buktinya, aku bisa berdamai dengan rasa takut tanpa ayah. Karena aku tidak selamanya hidup bersama seorang ayah. Kamu juga bisa berdamai dengan rasa takut pada masa depanmu. Karena tindakanmu hari inilah yang menentukan siapa kamu dimasa depan.

Berdamai dengan rasa takut bukan ketundukan pada ketakutan, tapi sebuah penaklukan dengan tindakan. Danil bisa berdamai dengan rasa takut karena percaya bisa menjadi mandiri. Benar saja, di akhir film, Danil adalah seorang pengusaha rumah makan kecil di Ambon.

Bukan hanya aku dan Danil yang bisa berdamai dengan rasa takut. Atau Lafran Pane dan Stephen Hawking yang merdeka dari rasa takut. Tapi semua orang bisa melakukan dengan caranya sendiri. Dan itu harus dimulai dari sekarang.

Akhirnya, film comedy seperti "Kapal Goyang Kapten" bisa membuka cakrawala berpikir saya. Bahwa ketakutan adalah juga kekuatan. Dan di lain sisi, ketakutan juga kehancuran. So, pilihan ada padamu. Berdamai untuk kekuatan atau berdamai untuk kehancuran.