Faktanya, banyak yang kerepotan meng-handle diri sendiri. Entah karena harapan dan ekspektasi yang terlalu tinggi atau sebaliknya pesimis parah. Entah karena sehari-hari lebih banyak dihabiskan untuk membuka media sosial, melihat kehidupan 'wah' yang ditampilkan, lalu muncul aneka perasaan yang ujung-ujungnya menjadi racun dan berpotensi membunuh hati dan logika. Iri, cemas yang berlebihan, rasa percaya diri yang turun drastis atau halu yang terlalu.

Nah, kalau di film Living With Yourself (2019), Miles (Paul Rudd) merasa hidupnya stagnan. Semangat dan performanya melorot tajam. Termasuk dalam pekerjaannya maupun hubungannya dengan sang istri, Kate (Aisling Bea). Semangatnya yang tinggi dan kepiawaiannya ber-story telling makin memudar tanpa diketahui apa sebabnya.

Melihat keadaan Miles, teman kantornya Dan (Desmin Borges) merekomendasikan untuk mendatangi spa eksklusif di luar kota seharga 50 ribu USD, agar supaya jiwa raganya segar seperti terlahir kembali. Tertarik, Miles berangkat dengan membawa sebagian tabungannya, tentunya tanpa sepengetahuan Kate istrinya.

Di luar dugaan, spa itu mengkloning Miles dan mengubur Miles asli. Ndilalah nggak seperti korban lainnya, Miles asli nggak mati dan bisa pulang ke rumah. Di situlah masalah muncul, Miles bertemu Miles.

Sudah bisa ditebak, makin repot dan insecure Miles asli menjalani hidupnya, ditambah Miles kloningan ternyata lebih hebat dalam banyak hal, style lebih rapi dan segar, ide-ide pekerjaan sampai proyek berjalan lancar, hubungan dengan istri juga lebih baik.

Dan sebagai penonton yang nggak hanya menonton, saya menangkap beberapa hal yang terlihat sederhana tapi sebenarnya justru penting dilakukan agar hidup benar-benar bahagia tanpa perlu berpura-pura.

Komunikasi.

Berdasar pengalaman dan pengamatan, komunikasi yang macet akan menghasilkan antrian masalah. Nggak baik semuanya dipendam sendiri. Boleh dibicarakan dengan orang-orang terdekat dan bisa dipercaya. Setidaknya beban tak melulu ada di pundak sendiri padahal bisa dibagi, syukur-syukur ada solusi.

Seperti Miles yang nggak tahu kenapa performanya melorot tajam, kerjaan kacau dan hubungan dengan Kate nggak harmonis. Bukan hanya masalah ranjang tapi tentang kehamilan dan anak yang diidamkan Kate yang tak kunjung terwujud. Ya gimana wong Miles ribet sendiri, disuruh datang ke klinik program kehamilan selalu nggah nggih ora kepanggih. Iya iya, tapi tak segera dikerjakan.

Bercermin itu baik.

Belajar dari yang sudah-sudah. Sing wes yo wes tapi petik juga pelajarannya biar tidak melakukan kesalahan yang sama. Menerima diri sebagaimana adanya dan menggali potensi yang mungkin terabaikan selama ini.

Penting juga mengingat keadaan sekitar yang sadar atau tidak berpengaruh besar pada apa yang dijalani. Melakukan sesuatu dengan pamrih akan berbeda hasilnya dengan mengerjakan dengan niat agar diri sendiri dan keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Sambatlah seperlunya.

Jangan seperti orang yang paling teraniaya sedunia. Terus-menerus sambat sana sini nggak otomatis bikin bantuan datang menyerbu, apalagi sampai diposting di medsos itu biar apa deh. Pamer kepandaian oke pamer masalah no.

Lagian semua orang punya masalahnya masing-masing, kan? Lebih baik pikirkan jalan lain yang bisa ditempuh untuk memperbaiki semuanya.

Eh, saat menulis ini, teman-teman saya heboh melihat postingan seorang teman yang seminggu ini sambat tentang keluarganya, bahkan sempat memaki orang tuanya. Kita jadi ghibah berjemaah, menarik kesimpulan bahwa yang berpendidikan tinggi belum tentu attitude-nya juara.

Katanya akar penderitaan adalah konflik dengan diri sendiri.

Jadi bagaimana mau ayem tenteram kalau pertentangan di dalam diri nggak beres-beres pun ketika dikelilingi privilege seperti duit ada, pintar dan update teknologi.

Hidup mewah tapi hati melulu resah kan sedih ya. Membuat hidup seimbang memang tak mudah, tapi tak boleh menyerah. Harus strong menghadapi keinginan yang sering menyamar sebagai kebutuhan.

Ambisi itu tak boleh menyakiti.

Seperti Miles asli dan Miles kloningan yang bukan hanya berusaha saling menerima tapi juga berusaha mengeliminasi satu sama lain. Makin mbulet ketika masalah dobel diri ini juga dibarengi dengan masalah lainnya seputar kesetiaan, kesuburan, anak dan karier.

Kecewa boleh tapi bodoh jangan.

Kenapa? Ya emang enak udah kecewa terus melakukan hal bodoh terus kecewa lagi. Mau kecewa berapa kali?

Kata mbah putri saya, "Urip pisan kudu wangun," hidup sekali harus bisa memantaskan diri, nggak asal hantam kromo. Lagian biasa kan kecewa itu, kita masih manusia bukan panda.

Ngomong-ngomong saya juga kecewa. Kecewa sama ending Living With Yourself ini yang menggantung banget seperti kebanyakan film Amerika. Tapi memilih memang nggak gampang sih, apalagi duo Miles punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalo saya sih pilih yang kloningan aja, terlihat lebih uwu, smart dan segerrr.

Begitulah. Mari berdamai dengan diri sendiri, menerima dan melewatinya. Bukan berpura-pura tak merasa atau terus-menerus menghindarinya. Iya semua butuh waktu, pelan-pelan saja. Ada proses di mana pikiran dan perasaan bersatu untuk melakukan sebuah tindakan terbaik. Ya namanya juga hidup, kalau dengan diri sendiri saja nggak berdamai, bagaimana dengan orang lain, kan?