Perkembangan teknologi yang semakin canggih, mau tidak mau juga mengubah paradigma yang selama ini sudah menjadi tradisi. Semakin mudahnya seseorang mengakses informasi, dan semakin gampang pula seseorang menyebarkan informasi.

Pertanyaan selanjutnya adalah ketika informasi itu diproduksi apakah menjadi suatu kebermanfaatan atau malah semakin membuat kemudaratan? Kalau dulu, mulutmu harimaumu, sekarang bertransformasi menjadi jarimu harimaumu.

Media sosial seperti Instagram, WhatsApp, Facebook dan Twitter membuat orang semakin menunduk. Bukan karena malu tetapi karena bermain gawai.

Dulu, orang bertengkar berawal dari adu mulut yang kemudian menjadi adu jotos. Sekarang, orang bisa saling mencaci maki dan baku hantam hanya dengan mengetik di media sosial. Dulu, orang bertarung dengan berhadap-hadapan. Sekarang, orang berkelahi bisa lewat media sosial tanpa mau berhadap-hadapan.

Bisa diibaratkan media sosial seperti pisau. Bisa berimplikasi positif maupun negatif, tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa. Karena manusia tidak bisa membendung kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih dan pesat. Apalagi seseorang bisa dilacak hanya dengan melihat jejak digitalnya. Terkhusus di Indonesia yang sudah memiliki UU ITE. Jadi seseorang yang melakukan perbuatan melawan hukum di media sosial bisa dihukum pidana.  

Perkembangan teknologi informasi membuat sistem berdakwah juga harus bergerak dan berubah supaya tidak tertinggal jauh hanya berdakwah dengan sistem konvensional.

Masa Wali Sembilan, metode dakwah adalah menggunakan kesenian dan kebudayaan. Karena memang pada masa itu, masyarakat yang didakwahi sangat senang sekali dengan kesenian dan kebudayaan. Seperti gamelan, wayang kulit dan tembang-tembang Jawa.

Berbagai perangkat gawai semakin canggih. Berbagai macam aplikasi mulai dari Instagram,  Facebook, Youtube dan lain sebagainya. Sehingga para santri milenial harus bisa memaksimalkan semua potensi yang ada.

Santri zaman dulu harus bisa baca kitab kuning, menghafal beribu-ribu kosakata bahasa Arab dan lain sebagainya. Sedangkan santri zaman now harus lebih menguasai berbagai disiplin keilmuan. Mulai mengedit, menulis, membuat konten dan lain-lain.

Apalagi ketika masa seperti sekarang ini. Adanya pandemi Covid-19 membuat manusia harus segera beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru. Membuat sekolahan diliburkan, perusahaan banyak yang tidak beroperasi dan tetap dianjurkan di rumah saja. Sehingga semua kegiatan yang dulunya harus dikerjakan di tempat kerja, sekarang beralih kepada sistem virtual atau daring. Seperti sekolah, rapat, seminar, pelatihan, lokakarya dan pengajian.

Sampai pada akhirnya muncul istilah live streaming, tradisi seperti dulu semakin terkikis dengan adanya penyedia aplikasi canggih yang tidak mengharuskan orang untuk hadir langsung secara fisik. Hal ini tetap ada plus minus. Kekurangan dengan adanya virtual akan berakibat pada kurang komprehensifnya pengetahuan yang diterima. Mungkin di tengah terdapat gangguan sinyal (delay) atau kehabisan kuota. Sehingga ilmu yang didapat jadi tidak komprehensif.

Kekurangan lainnya dari virtual adalah mengurangi adanya kontak fisik atau menyambung tali silaturrahmi antar teman atau kerabat. Karena serba online melalui live streaming bisa dilakukan hanya dengan duduk manis atau rebahan di depan layar laptop atau gawai sambil menyeruput teh atau kopi. Sehingga membuat malas gerak semakin menemukan titik relevansinya.

Sedangkan kelebihan metode virtual adalah bisa mengefisiensi anggaran transport dan logistik. Tetapi sama saja anggaran tersebut dialihkan kepada kuota internet. Banyak sekali pengurus Masjid khususnya Masjid Nasional yang memiliki kanal Youtube. Jadi, istilahnya bisa mendekatkan yang jauh. Berbagai istilah Ngaji Filsafat juga bisa dinikmati lewat layar kaca gawai. Contoh lainnya ada Sinau Bareng Cak Nun maupun siaran positif lainnya.

Selain Youtube, ada pula Instagram yang lagi populer dengan Ngaji 1 Menit. Sistem ngaji yang berdurasi satu menit dan langsung ke esensi pembahasannya. Lumayan bisa mendengarkan walaupun hanya satu menit. Apalagi bagi santri sekaligus aktivis kongkow, harus bisa memaksimalkan perkembangan teknologi. Agar konten-konten negatif yang bisa memecah belah keutuhan bangsa bisa diminimalisasi dan direduksi.  

Santri pondok pesantren terkhusus di bawah naungan paham Ahlu Sunnah wal Jamaah yang berwawasan Islam Nusantara dan moderat harus kreatif, produktif dan masif dalam menyebarkan konten-konten Islam yang menyejukkan, mendamaikan dan penuh toleransi. Melawan narasi negatif dengan narasi positif di media sosial membutuhkan kadar intelektual, spiritual dan kesabaran yang ekstra.

Santri harus menjadi garda terdepan dalam memerangi berita bohong (hoax) di media sosial. Media sosial sebagai lahan untuk santri milenial berdakwah, karena sudah bukan masanya berdakwah lewat podium-podium kecuali khotbah Jumat. Harus ada inovasi dan kreativitas dalam metode berdakwah.

Dakwah melalui tulisan-tulisan yang progresif dan konstruktif. Semakin masifnya penyebaran ilmu pengetahuan lewat media digital. Menjadi suatu keharusan bagi santri masa kini menguasai berbagai keahlian. Tidak hanya pintar menguasai secara tekstual saja tetapi harus bisa memahami konteks perkembangan media digital untuk masyarakat awam.

Konklusi yang bisa ditarik dari penjelasan panjang dan lebar di atas adalah sebagai santri milenial tidak hanya dituntut menguasai dan paham ilmu agama secara tekstual atau literal seperti masa santri kolonial. Santri milenial dituntut menguasai berbagai disiplin keilmuan seperti media digital dan penulisan. Karena tantangan santri milenial jelas lebih berat dan kompleks.