Agama yang merupakan salah satu komponen hak dasar manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan sangatlah penting, baik dari dimensi teologi maupun sosial pemeluknya itu sendiri.

Penting, karena merupakan sarana, acuan dan tuntunan bagi pemeluknya dalam berinteraksi dengan Tuhan (keshalihan personal) maupun dalam berinteraksi antar umat seagama maupun beragama (keshalihan sosial). Sehingga negara dalam hal ini Pemerintah perlu hadir bahkan wajib memberikan jaminan kebebasan memeluk dan melaksanakan ibadah sesuai agamanya tersebut, pasal 29 ayat 2 UUD 1945. 

Hak dasar tersebut mutlak diatur karena Indonesia yang merupakan nation state memungkinkan terbentuk dari kolaborasi antara budaya, suku, politik dan ditunjang oleh faktor geografi. Dengan kondisi demikian, maka tidak dapat dipungkiri banyak agama dan aliran kepercayaan yang ada di Indonesia. 

Agama sendiri berasal dari bahasa sansekerta berarti, a (tidak) dan gama (kacau). Dalam definisi sederhana, agama adalah suatu aturan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan tujuan tersebut bersifat religio (latin, ke-ilahi-an)). Jadi, agama adalah, suatu tindakan manusia dengan berbagai perangkat aturan untuk mengembalikan hubungannya dengan Tuhan.

Secara lebih luas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agama merupakan sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

Adapun Islam sendiri sebagai agama masuk di Indonesia melalui jalur perdagangan yang dilakukan para saudagar dari Gujarat, Persia, India dan lain-lain, baik melalui pendidikan, dakwah maupun pernikahan dengan masyarakat setempat yang pada waktu itu sudah banyak agama dan aliran kepercayaan yang sudah mapan.

Berdasarkan data historis, para saudagar tersebut selain berdagang juga berdakwah menyebarkan agama Islam, sehingga agama Islam diterima murni karena kerelaan dan keiklasan hati para pemeluknya, bukan dari pemaksaan, intimidasi apalagi peperangan. Adapun peperangan yang terjadi pada masa-masa itu karena faktor perluasaan pengaruh dan kekuasaan, atau dalam istilah lain disebut politik.  

Islam secara harafiah terbentuk dari tiga huruf utama terangkai dalam kata “salama” yang berarti selamat. Dan ‘salama’ sendiri terbentuk dari rangkain mashdar (infinitif)  “aslama-yuslimu-islaaman”. Sehingga derivasi dari seluruh kata tersebut berarti, selamat, sejahtera, menyerah, bersih, suci, penyerahan total kepada Allah.

Berdasarkan arti kata dan maksud dari kata agama dan Islam terlihat bahwa hak memeluk, meyakini yang kemudian menjadi identitas ideologi kepercayaan pemeluknya merupakan sesuatu yang bermuara pada kerelaan dan penghambaan secara total untuk mencapai keselamatan, kebahagian baik di dunia maupun di akhirat, tanpa adanya paksaan oleh siapapun.

Hal ini dalam Islam juga telah di tegaskan bahwa tidak ada pemaksaan dalam beragama, QS al Baqarah 256. Sehingga apabila dalam proses dakwah maupun penyebaran agama  jika kontradiktif (ta’arudl) yakni jauh dari maksud dan tujuan agama itu sendiri maka patut dipertanyakan pemahaman keagamaannya.

Kemajuan ilmu pengetahuan yang ditunjang juga dengan teknologi memungkinkan orang menyebarkan ide-ide, pendapat maupun pandangan keagamaan dengan sangat mudah, efektif dan efisien. Hal ini wajar karena alternatif publikasi yang kita pilih tentunya berprinsip, mudah, ekonomis dan tepat. Salah satunya optimalisasi melalui jejaring internet. Maka tidak berlebihan jika era sekarang lekat dengan istilah hadrah medsosiyah (peradaban medsos). 

Segala sesuatu yang menjadi maksud dan tujuan, baik berupa unggahan pendapat, informasi bahkan gambar yang menjadi penguat bisa disampaikan hanya dengan menu share. Informasi, pemahaman yang jauh bahkan tidak sesuai dengan adat ketimuran bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab mudah sekali menjadi konsumsi publik.

Namun, hal ini juga kemudian menjadikan masalah tersendiri apabila  yang menjadi pemahaman tersebut menggunakan framing (memanipulasi informasi) seolah-olah menjadi kebenaran mutlak yang wajib di percayai dan di ikuti.

Bahkan, untuk berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (hoax) terpublikasi secara berulang-ulang dengan buzzer (pengikut) mereka sendiri. Sehingga kebohongan tersebut seakan-akan menjadi sebuah kebenaran karena tersampaikan secara massif, sistematis dan terstruktur.

Fenomena tersebut seakan menemui momentnya karena di tunjang oleh kebiasaan sebagian masyarakat kita yang enggan tabayyun (klarifikasi) terhadap berita yang masih abu-abu kebenarannya. Dan juga, pihak-pihak yang diharapkan mampu meredam situasi tersebut seakan tutup mata, bahkan cenderung menggunakan kekuasaan diluar batas kewenangannya (abuse of power).

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektornik (ITE) yang masih menuai perdebatan belum juga cukup mampu mengatur dan memberikan ‘shock therapy’ bagi pelakunya.Kemudahan kita dalam meng-akses bahkan menyebarkan berita melalui sumber-sumber yang tidak kredibel dan otoritatif menjadikan kita malas dan enggan menggunakan logika dan pikiran kita dalam mengolah informasi yang ada.

Budaya kritis dan akademis menjadi tumpul dengan berbagai faktor yang melingkupi fenomena tersebut. Bahkan gerakan literasi untuk membudayakan masyarakat cerdas dalam mengolah informasi menggunakan nalar seakan hanya menjadi slogan semata nihil makna.

Dakwah dalam perspektif  Islam adalah penyampaian nilai-nilai keagamaan dengan kesantunan, kasih sayang, saling menghormati tanpa menggunakan caci maki, menyesat-kafirkan, kekerasan dan anarkisme dengan label firman Tuhan. Lihatlah apa yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh muslim moderat kita dalam berdakwah.

Meskipun segala cacian, hinaan dan ancaman terhadap apa yang disampaikan, mereka tetap membalasnya dengan rangkulan kasih sayang dan cinta. Mereka berdakwah dengan memberikan tauladan perkataan, sikap, tingkah laku dan ber-mu’asyarah (dialog) dengan kebaikan. Bukankah memang begitu apa yang diilustrasikan dalam QS an Nahl 125?