Saya awali tulisan ini dengan sedikit pengalaman dalam mengikuti kegiatan Short Course Pengelolaan Keragaman di Kota Bukittinggi yang diselenggerakan oleh Pusaka Foundation dan The Asia Foundation beberapa waktu lalu.

Ketika itu, kami sebagai peserta SCPK berkesempatan berkunjung ke berbagai Wiara ataupun gereja yang berada di kota Bukittinggi. Bersamaan dengan itu, kami juga bisa langsung berdiskusi dengan berbagai pengurus dari pihak-pihak Wiara dan Gereja.

Penyambutan yang begitu penuh kehangatan dan kedamaian dari pihak Wiara terhadap kami yang jelas berbeda keyakinan dengan mereka, membuatku betah berlama-lama dengan mereka, sambil bercengkerama dan berdiskusi tentang apa saja perihal kemanusiaan dan sisi-sisi persahabatan sejati yang sesungguhnya. 

Jika boleh jujur, sebenarnya itu bukanlah hal yang baru bagi saya berkunjung ataupun berdiskusi dengan teman-teman lintas Iman. Setidaknya, saya juga memiliki teman-teman lintas iman yang sering menghabiskan waktu bersama dalam hal-hal kemanusiaan lainnya.

Beberapa bulan lalu, saya berkunjung ke Negeri Jiran Malaysia dalam rangka liburan dan hal-hal lainnya. Di sana, saya juga terlibat aktif bergaul dengan berbagai teman-teman lintas Iman dari kalangan Buddha dan Kristiani yang berasal dari India dan Saba Malaysia. Keterlibatan kami dalam sebuah pekerjaan, akhirnya waktu pun menjadikan persahabatan ini kian akrab hingga saat ini.

Tidak jauh berbeda dengan suasana kehangatan dan kedamaian yang saya terima ketika mengunjungi Wiara Bukittinggi, teman-teman lintas Iman yang di Malaysia juga begitu menghargai, mengasihi, dan ramah tama kepadaku yang Muslim. Sikap mereka yang senantiasa mengingatkan, bahkan memberikan makanan untuk berbuka di saat mayoritas sedang menjalankan kewajiban puasa ramadan.

Kembali ke awal cerita, dalam diskusi yang kami gelar ketika itu, terselip sebuah pernyataan dari seorang perempuan muda yang beragama Buddha. Ia berujar, “Mbak, saya sering mendengar para ustaz berceramah di mesjid dekat Viara  dengan lantang mengatakan bahwa jangan melakukan transaksi jual beli dengan para non muslim, dan jauhilah berteman dengan orang-orang kafir.”

Perempuan muda itu lalu berkata lagi, Jujur, saya sedih mendengar para ustaz-ustaz mengatakan hal demikian kepada jemaahnya dengan lantang yang keberadaan masjidnya dekat dengan viara kami katanya.

Dari pengalaman tersebut, bisa diambil sebuah pelajaran bagi kita sebagai mayoritas di negeri ini, bahwa perilaku merasa paling benar itu terkadang secara tidak langsung diciptakan oleh mereka yang katanya paham agama dan mengecap berbagai pengalaman yang lebih dari mereka yang awam. 

Pernahkah kita bertanya secara langsung kepada mereka yang berbeda dengan kita perihal apa yang dirasakannya ketika melontarkan kata-kata seperti itu, dengan kondisi tempat ibadah yang berdekatan ini?

Hal ini mungkin sepele bagi kita sebagai mayoritas untuk menyampaikan ajaran agama. Namun, harus juga diingat bahwa hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan yang sudah ada, kita juga harus memikirkan bagaimana tetangga kita yang berbeda.

Hal ini juga memicu sikap rasial terhadap sebuah kelompok, agama, suku, ras, dan sebgainya itu. Hal-hal sepele seperti ini yang terkadang luput dari perhatian kita dalam memahami perbedaan dan sehingga senantiasa memupuk sikap rasial kepada ras lain. 

Sikap merasa paling benar ataupun prilaku rasial yang tanpa kita sadari telah menjadikan sebagai agen pembentuk rasialisme itu sendiri. Contoh saja ketika kita berteman dengan orang Jambi  yang berbeda daerah dan bahasa. Lalu kita memanggil sahabat kita dengan julukan kubu misalnya.

Secara tidak sadar, maka ini sudah termasuk perilaku rasis yang mungkin menurut kita adalah bercanda. Artinya, hal-hal kecil seperti ini harus kita perhatikan dalam bergaul agar kita tak menjadi bagian dari orang-orang yang menciptakan prilaku rasial tersebut.

Bukankah manusia diciptakan Tuhan dengan karakter dan ciri fisik yang berbeda-beda? Manusia tidak punya hak untuk memilih warna kulit dan bentuk fisik ketika dilahirkan, karena semua itu adalah karunia Tuhan. Tuhan menciptakan kondisi manusia secara berbeda-beda pasti memiliki tujuan. 

Perbedaan tersebut bukan suatu hal yang berfungsi menjadikan manusia beranggapan bahwa suatu ras lebih tinggi derajatnya dibanding ras lain. Namun keragaman dan perbedaan tersebut harusnya dipahami sebagai kemajemukan agar manusia bisa belajar dan saling mengenal etnis atau ras lain.

Melihat kondisi Indonesia saat ini, dengan masalah Papua yang terjadi beberapa waktu lalu yang belum tuntas hingga saat ini, menandakan bahwa prilaku rasial yang dianggap sepele di awal, namun berujung dengan pembantian dan peperangan di antara anak bangsa. 

Kondisi ini, setidaknya mampu membuat kita berkaca, sebagai bangsa dengan berbagai perbedaan ini, mampu membuat kita sadar dan menghilangkan sikap egois terhadap orang ataupun kelompok lain yang berbeda. 

Sikap rasialisme dalam bentuk apa pun harus menjadi musuh utama kita untuk menciptakan kerukunan bangsa. kita harus memahami akar utama dari benih-benih kemunculan rasialisme tersebut agar kita tak menganggap sepele dan gagal untuk menyikapi dan memerangi para pelaku rasis ini.

Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk memerangi dan menangkal perilaku rasial ini agar tak berkembang dalam tubuh bangsa yang berbineka ini. 

Pertama, posisikanlah dirimu dalam korban rasial tersebut. Kedua, pelajarilah akar dari rasilisme itu sendiri. Ketiga, dalamilah topik-topik mengenai ras itu sendiri. Keempat, berpikirlah terbuka dengan perkembangan zaman. Kelima, hargailah budaya ras lain ataupun perbedaan-perbedaan dari orang lain.