Belum sampai lima menit menghabiskan sisa kunyahan terakhir menu berbuka yang kubawa dari mushola. Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan seketika muncul sesosok perempuan paruh baya yang sangat aku kenal.

“Nyesel aku, jian. Nyesel tenan. Gelo setengah mati. Tiwas aku njaluk-njaluk, jebol ora dikasih. Marai isin, koyo wong kurang pangan lagi antri jatah ora kebagian. Edian tenan!” gusar perempuan yang berstatus sebagai kakak ipar sembari menjatuhkan tubuhnya yang sedikit kelebihan berat badan di atas sofa sederhana yang kupunya.

Sial, sisa makanan yang hampir kutelan menolak masuk kerongkongan. Sebagian berhamburan, beruntung reflek tanganku dapat bergerak cepat menutup mulut hingga serpihan makanan dapat kutahan. Andai saja tidak, niscaya kakak ipar bakal tambah berang lantaran wajah emosinya terciprat makanan dari mulutku yang menyemprot keluar.

Sayangnya, sebagian kecil makanan berhasil membuatku tersedak karena nyelip di saluran pernapasan saat aku terperanjat menerima kehadiran kakak ipar yang tiba-tiba.

“Nih, minum. Gak usah sungkan. Jangan nunggu kuambilkan, kayak kekurangan pangan!” katanya lagi dengan suara masih bernada tinggi, sembari menyerahkan satu gelas wedhang jahe sere hangat yang kubawa dari mushola juga.

Terang saja aku memicingkan mata. Ini rumahku, juga air minum hangat milikku sendiri, jadi kenapa aku harus sungkan? Bodo amat, segera kuminum beberapa teguk lalu mengatur napas setelah meletakkan kembali sisa wedhang jahe sere kembali di atas meja.

Aku masih belum bisa berkata-kata saat menyaksikan kakak ipar yang dengan lahap menghabiskan sisa takjilan anak-anak tanpa sungkan. Bahkan, separuh wedhang jahe sere milikku juga tak luput dari serbuannya. Tandas, tanpa sisa.

“Budhe belum buka puasa, nopo?” tanyaku hati-hati, juga dengan suara yang pelan saja.

Dengan suara napas memburu dan semangat yang membara, cerita yang berkobar dan meluncur lancar tanpa jeda dari lisannya yang tak lelah menghimpun kata. Dalam keluarga kami semua tahu, tidak ada yang berani membatah jika budhe sudah berkhutbah. Apalagi kalau nada suara sudah tinggi, cukup diam dan dilihatin. Maka itu cara yang cukup aman untuk menghindarkan diri dari salah paham.

Singkat cerita, budhe mengisahkan kepiluannya saat meminta jatah takjil di mushola yang ditolak oleh panitia. “Paling dikiranya ki yo, aku arep ndobel jatah takjilan!” ketusnya lagi sambil melipat tangan. Wajah muramnya sempurna dengan hiasan bibir yang mancung beberapa centi ke depan. Sempurna untuk menggambarkan hati yang sedang kesal dan kecewa.

Budhe masih menuturkan pendapatnya yang suudzon pada para panitia yang katanya, para panitia itulah yang justru suka ndobel jatah takjilan. Tak hanya itu, budhe juga mengabarkan kisah beberapa ibu muda yang akhirnya memilih tak lagi datang ke mushola karena tidak pernah diberi jatah takjilan untuk berbuka puasa dengan alasan anak-anak yang diutamakan, kalau-kalau jumlah takjilan kurang.

Pada Ramadhan tahun ini, di kampung kami memang sengaja membagi tempat pengajian jelang berbuka puasa menjadi dua tempat sebagai upaya penerapan protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19.

Sesuai hasil yang disepakati dalam rapat warga bersama takmir masjid, maka diputuskan untuk pengajian jelang buka puasa dibagi dua tempat. Masjid diperuntukan bagi orang tua, sedangkan anak-anak dilaksanakan di mushola. Hasilnya memang cukup menggembirakan, karena pemisahan tersebut dapat mengurangi kerumunan dan tetap terjaga jarak antar jamah satu dengan yang lainnya. Dan seharusnya tidak ada yang salah dalam penerapannya.

“Kalau begitu, sebaiknya minta jatah takjilannya belakangan saja,” usulku yang langsung dipatahkan budhe dengan segala argumentasinya.

Tidak hanya pada batas keluhannya yang merasa diabaikan, tetapi mulai merembet pada tetek bengek masalah yang seharusnya tidak berhubungan dengan masalah dirinya. Budhe mengatakan bahwa dirinya juga tidak merasa kurang makan, sehingga seharusnya tidak perlu minta-minta. Beliau juga menambahkan, bagaimana rakusnya para pembesar kampung yang seharusnya sudah berlebihan hidupnya tetapi masih mengambil jatah takjil lebih dari kebutuhan.

“Kalau kita-kita yang ambil, mesti to jadi bahan rerasan. Tapi kenapa kalau yang ambil si A atau si B semua hanya diam?” gerutunya sembari melanjut cerita yang menggambarkan perilaku beberapa warga kampung yang dianggapnya ngragas, ambil jatah di masjid lalu pulang dan datang ke mushola untuk meminta jatah takjil lagi.

“Iyo sih, Mba. Banyak juga sih, emak-emak tidak puasa yang membawa bayi-bayi yang bahkan masih berusia di bawah satu tahun ke mushola dan ambil jatah takjilnya juga dua,” kataku menanggapi sambil manggut-manggut sok iyes. Pikirku sih kalau pas menu makanannya itu pedas atau sayur gudeg, apa iya si bayi sanggup menikmatinya?

Awalnya aku merasa pernyataanku sah-sah saja, toh yang aku katakan itu nyata. Tapi ternyata satu kali tanggapanku membuat semangat ngobrolnya kian membara. Tanggapanku menjadi serupa nyala kompor yang menambah panas suasana hatinya.

Edyan, rupanya aku tidak berhasil menjaga hati untuk tidak larut dalam curhatan panjang yang berakhir ghibah menuju fitnah. Diam-diam aku berharap budhe segera pergi.

Sebagai perempuan biasa yang sedang berjuang mempertahankan iman, rupanya aku tak bisa tinggal diam saat mendapati cerita senada dengan fakta. Aku belum bisa untuk tak ambil bagian, akhirnya aku menjadi bagian dari mereka yang menceritakan sesuatu berdasarkan asumsi hingga layak disebut ghibah bahkan menuju fitnah.

Adzan isya’ berkumandang, perempuan yang kupanggil budhe itu berjingkat. Tak lupa tangan kanannya menyambar rengginan dan emping mlinjo mentah yang kutawarkan. Meskipun sebelumnya tidak dia hiraukan, namun rupanya otak makanan tetap bekerja dengan maksimal.

“Aku goreng sesok nek wes ora poso,” katanya sembari cekikikan, dan aku hanya berdehem juga sedikit lega karena ghibah pun berakhir.

“Eh, tadi jadinya budhe buka puasa di mana?” tanyaku penasaran. Secara, mendengar ceritanya panjang lebar dan tak menjawab pertanyaanku di awal, kemudian menyaksikan dia begitu lahap menyantap berbagai kudapan di atas meja, tak urung membuatku penasaran.

“Ya di mushola. Saking isinne jadi satu bungkus jatah takjil langsung tak sikat habis, ora sisa,” jawabnya ringan tanpa beban, sembari membawa tubuh tembemnya lenyap dari pandangan.

Gila, hampir satu jam curhat ngalor ngidul tentang penolakan jatah tajilan di mushola, ternyata oh ternyata di mushola juga dia berbuka puasa. Gak lucu banget. Sudahlah aku terbawa ghibah yang berkemungkinan menjadi fitnah, rupa-rupanya curhatannya tak sesuai dengan kenyataan tetang dirinya yang tetap saja mampu melahap habis jatah takjil yang dikeluhkannya tanpa sisa. Sialan!