1 bulan lalu · 33 view · 3 min baca menit baca · Budaya 74310_80271.jpg
radarmalang.id

Berbuka ala Nusantara

Indonesia menjadi salah satu negara penganut Islam terbesar dunia. Secara budaya, suku dan ras penganut agama Islam di Indonesia berasal dari lintas budaya, suku dan ras, mungkin ini yang membuat Muslim Indonesia memiliki keunikan dan pembeda dibandingkan negara-negara Islam lainnya.

Keragaman budaya, suku dan ras yang terdapat di Indonesia segaligus memeluk agama Islam dan menjadi penganut mayoritas. Membuat secara budaya umat Islam memiliki kekhasan tersendiri, yang menjadi identitas pembeda. Keberadaan budaya mulai dari budaya maulid hingga budaya ziarah dan suro baca (meminta ulama membacakan doa) menyambut Bulan Ramadan begitu berwarna.

Bila disimak budaya demi budaya yang mewarnai perilaku keislaman bangsa Indonesia, dapat diasumsikan semangat beragama orang Indonesia begitu tinggi dalam menyambut ibadah terbukti dengan diwarnai nuansa lokalitas termasuk ibadah puasa. Ritual ibadah yang sakral diwarnai dengan berbagai kreativitas yang semarak.

Kalau penceramah acap kali mendendangkan ahlan wasahlan ya ramadan maka gambaran dan kondisi yang cocok itu ada di Indonesia. Sebab, betapa banyaknya sambutan yang diberikan oleh ummat Muslim Indonesia, mulai nuansa budaya hingga tebaran spanduk juga tak ketinggalan menyambut Bulan Ramadan.

Andai Bulan Ramadan itu berbentuk fisik dan dapat diwawancarai, mungkin Bulan Ramadan berujar betapa bahagianya diperlakuan sedemikian rupa di Indonesia. Apalagi kalau Bulan Ramadan menyaksikan betapa indahnya berada di Indonesia, bahkan Gereja atau tempat ibadah agama lain pun tak jarang ikut berkontribusi selama Muslim berpuasa.

Keragaman di Indonesia makin berberkah dengan kondisi alam yang sedemikian kaya, menyebabkan bangsa Indonesia memiliki kekayaan dalam mengolah makanan dan minuman. Sehingga hadis yang menganjurkan berbuka dengan yang manis-manis, tentu di Indonesia yang dimaksud manis utamanya makan dan minum akan sangat beragam.


Mungkin di Arab makanan yang manis boleh jadi hanya merujuk ke buah kurma. Tetapi kalau di Indonesia yang dimaksud manis akan banyak dan beragam macamnya. Untuk itu kepada kalangan Muslim di negara lain, perlu datang ke Indonesia menikmati berbuka ala Nusantara.

Soal mengolah yang manis-manis baik makanan dan minuman Indonesia jagonya. Berbuka ala Nusantara itu membuat lidah dan tenggorokan berbahagia, bayangkan saat berbuka umat Muslim Indonesia bisa menikmati es buah, es cendol, kolak, palubutung dan beragam menu manis lainnya.

Berbuka ala Nusantara bisa menikmati menu alami seperti kelapa muda, jeruk, buah naga, sirsak, melon, pepaya, nenas, semangka, langsat, rambutan dan beragam menu alami lainnya. Bayangkan baru menu yang alami saja sudah sedemikian beragamnya, bagaimana kalau yang menu olahan?

Soal menu olahan tentu akan makin banyak lagi jumlahnya. Bisa disaksikan sepanjang pelaksanaan Bulan Ramadan akan banyak warung-warung dadakan yang akan berjualan menu buka puasa. Sehingga bisa dikatakan soal berbuka yang manis-manis ala Nusantara juaranya.

Menjelang berbuka Muslim Indonesia juga memiliki banyak cara menunggu datangnya waktu berbuka. Bagi kaula muda menikmatinya dengan jalan-jalan sambil ngabuburit dan acara-acara reunian untuk menjalin silaturahmi selama bulan puasa.

Suguhan acara-acara di TV juga tak kalah semaraknya mulai dari bernuansa religi hingga yang bernuansa komedi juga tersaji. Menyebabkan Muslim Indonesia memiliki banyak pilihan.

Coba pikirkan mana ada acara menunggu berbuka dengan komedi. Kalau menunggu waktu berbuka dengan mendengarkan lantunan Alquran dan ceramah serta kultum, ya wajar. Tetapi, kalau acara komedi hanya ada di Indonesia membuat betapa bahagianya bangsa Indonesia berpuasa.

Beragam cara Muslim Indonesia dalam melaksanakan puasa menjadi indikasi bahwa rahmat Tuhan yang banyak dan beragam itu dapat dinikmati sedemikian rupa dan melimpahnya di Indonesia. Kalau di negara-negara Muslim lain persoalan penafsiran atau cara beragama bisa jadi masalah. Justru di Indonesia keragaman telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.


Telah banyak negara-negara Islam datang ke Indonesia untuk belajar mengenai kehidupan yang beragam budaya, suku dan ras tidak menjadi penghalang dalam mengekspresikan cara beragama. Kondisi itu yang mungkin membuat tokoh seperti Fazlur Rahman melontarkan pernyataan bahwa kejayaan Islam di masa depan akan muncul di Indonesia.

Bila kita menyadari bahwa sesungguhnya Muslim Indonesia menawarkan kekayaan khazanah dalam kehidupan beragama. Kesadaran tersebut mesti ditumbuhkan dan disadari jangan sampai hanya isu-isu politik yang menjadikan keragaman itu luntur secara perlahan.

Keragaman Muslim Indonesia tentu berbarengan dengan tantangan. Walau perjalanan sejarah di amsa lalu telah menunjukkan betapa terujinya umat Muslim Indonesia dalam mengolah perbedaan tersebut. Namun, umat Muslim tidak boleh lengah sedikit pun apalagi sampai terprovokasi untuk mengusik kelompok-kelompok minoritas.

Kalau dulu Bung Karno pernah menawarkan Pancasila sebagai ideologi dunia, maka umat Muslim Indonesia juga bisa menawarkan corak keislaman yang khas kepada dunia. Mungkin Pak Jokowi perlu mengajak negara-negara Muslim di belahan dunia untuk berbuka yang manis-manis ala Nusantara. Siapa tahu negara-negara Muslim yang saling berkonflik bisa tersenyum manis dan berdamai. Amin

Artikel Terkait