Lebaran sebentar lagi, hari kemenangan kian dinanti. Para muslimin yang berpuasa penuh selama 30 hari akan merayakan hari di mana semuanya kembali suci, kembali putih dan dimulai dari nol kembali. 

Lebaran, selain menjadi ajang kemenangan, juga menjadi ajang saling bermaaf-maafan sesama orang yang kita kenal dan temui. Mungkin perbuatan atau salah kata yang tidak sengaja dilakukan, lebaran menjadi momentum meminta maaf. Menang dan lahir kembali.

Tradisi meminta maaf saat lebaran di Indonesia pun sepertinya lumrah dilakukan dengan berkeliling, atau salah satu pihak menghampiri rumah yang ingin disilaturahmikan. Baik itu rumah kenalan, teman maupun saudara. 

Karena itulah mengapa saat lebaran kita makan ketupat, selain sebagai tradisi tahun ke tahun, juga sebagai jamuan saat tamu datang. Perut kenyang bisa diajak bicara, damai pikiran dan maaf tercapai antar-keduanya.

Namun tahun ke tahun teknologi memang makin maju. Dahulu kala orang-orang tua kita masih menghampiri dan datang ke masing-masing orang yang merasa ada kesalahannya, tapi kini semuanya serba mudah dengan teknologi. 

Semenjak ada telepon ucapan selamat lebaran dan maaf disampaikan lewat telepon, berlanjut ke telepon genggam ada sms yang bisa ditulis saja lalu dikirim ke nomor yang dituju, lalu kini ada gawai yang bisa digunakan untuk mengakses internet, serta penuh dengan aplikasi chatting tinggal pencet dan langsung terkirim. Sekarang semudah itu.

Para masyarakat yang mengenal internet pun juga turut menjadikan internet ramai dengan postingan lebaran saat masanya. Stiker-stiker lebaran, postingan status tentang lebaran dan macam-macam hal yang berkaitan dengan lebaran bisa kita temui dalam internet pada masa kini. Tak hanya di dunia nyata, di dunia maya kini pun kita bisa mengekspresikan suka cita atas lebaran. 

Kemajuan teknologi memang membuat serba mudah dan itu nggak bisa kita hindari, semakin hari semakin maju peradaban selama manusia terus berinovasi. Adanya kemajuan inilah yang membangun budaya baru, seperti yang saya katakan. 

Dulu orang silaturahmi minta maaf lebaran langsung tatap muka, sekarang bisa langsung lewat gawai. Adanya budaya baru tersebut, selain positif yang sudah saya jelaskan juga melahirkan sisi negatif; orang-orang jadi malas minta maaf langsung saat lebaran. 

Esensi yang kian hari kian terkikis karena teknologi memang jadi dampak negatif yang perlu kita tekan dengan baik-baik, bukan meninggalkan ya ingat. Menekan dalam artian meski kita gunakan, bukan berarti kita menghapus, tapi digunakan untuk sebagai 'bantuan' saja. Selebihnya urusan harus kita lakukan sendiri, karena itulah kita disebut manusia.

Bukannya kenapa-kenapa, adanya teknologi dan mudahnya berkomunikasi lewat gawai masa kini memang bagus. Namun, jangan lupa kalau adab yang sopan jangan hanya minta maaf lewat aplikasi chatting saja. Kalau memang ada yang kita rasa pernah berbuat salah ke salah satu orang, hampiri dan silaturahmi ke rumahnya. Adabnya seperti itu, berbuat salahnya kan offline masa iya minta maafnya online.

Perlu diingat sebagai seorang muslim yang baik kita mesti sadar bahwa hubungan antar manusia (hablum minannas) itu adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan sebagai muslim yang baik, yang disini saat momentum lebaran salah satunya. 

Meminta maaf secara langsung adalah adab yang baik sebagai muslim, karena sungkan rasanya kalau kadang hanya meminta maaf lewat gawai. Karena lewat gawai kita tidak bisa menyampaikan maaf secara penuh dan baik, disisi lain pihak yang kita ajak bicara belum tentu paham maksud ucapan kita. 

Kita boleh yakin saat lebaran dosa kita diampuni oleh Gusti Allah, tapi belum tentu oleh manusia kesalahan kita dimaafkan. Susahnya dan pentingnya hubungan antar manusia ini yang membuat kita mesti hati-hati dan tidak menyepelekan, karena di akhirat kelak dosa kepada sesama manusia yang paling berat dan susah untuk diampuni selama ada yang masih sakit hati ke diri kita masing-masing.

Oleh karena itu, adanya budaya baru tidak boleh kita jadikan alasan untuk menghapus budaya lama saat lebaran. Sekali lagi, adab dan akhlak itu yang penting. Media sosial cukup sebagai ragam komunikasi dan berjalan beriringan dengan budaya lama, dimana kita masih harus menyambung tali silaturahmi secara langsung. Agar tidak ada hati yang merasa diremehkan, dan tidak ada sisa noda saat menjemput kemenangan.

Namun untuk kondisi yang sedang corona saat seperti ini, coba perhatikan dan lihat-lihat dulu apakah bisa dilakukan dengan bertemu langsung? Kalau tidak bisa, tetap hubungi dan sampaikan bisa lewat video call

Namun tetap ingat, setelah semuanya reda minta maaf secara langsung mesti diingat kalau memang kita merasa telah menyakiti hati. Selebihnya, mari kita muhasabah agar diri kita sendiri menjadi insan yang lebih saleh dan lebih baik tentunya. 

Selamat menyambut lebaran!