Maklum, siapa yang tidak kegirangan ketika melihat atau sekadar mengetahui jika hal-hal bathil dapat segera ditumpas, hingga digantikan dengan hal-hal yang bernilai kebajikan. Sebagai kaum yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, pasti akan merasa diuntungkan dengan kondisi yang demikian. 

Beda halnya dengan si pelaku kebathilan, mereka pasti akan merasa rugi, kecewa, hingga tak jarang kondisi ini akan membawa mereka pada ujung sebuah penyesalan yang tiada tara.

“Cak Bur!” seseorang memanggil Burhanuddin Syamsi—yang lebih akrab dengan panggilan Cak Bur—sambil berlari tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.

“Iya ada apa, Mar?” sahut Cak Bur kepada Amar, salah seorang tetangganya yang sudah lama tinggal di sebuah kampung terpencil di pinggiran kota.

Belum sempat ia menarik nafas, Amar mengucap-ucap kata syukur di hadapan Cak Bur yang dihalangi oleh pagar besi berwarna hitam yang sudah agak berkarat milik Cak Bur. “Alhamdulillah, Cak. Alhamdulillah!”

“Heh, kenapa, Mar?” Cak Bur bertanya sambil keheranan melihat tingkah Amar yang agak kegirangan.

“Lho, sampeyan ini gimana, Cak? Itu lho si anu. Hm, siapa itu namanya?” Tiba-tiba Amar lupa pada satu nama yang baru saja ia temui. Namun, ia segera ingat. Cak Bur tentu saja makin keheranan.

“Abdul, Cak. Iya, si Abdul. Anak lurah kampung sebelah,” Amar kembali menyebut nama itu setelah sekian detik ia mengingat dengan keras.

“Itu lho Cak, yang hampir tiap malem kerjaannya cuma judi sambil mabok-mabokan, seolah enggak ada kerjaan lain."

"Saya menyaksikan langsung dengan dua kepala mata saya sendiri lho, Cak. Dia baru aja ketangkep polisi. Dia digrebek bareng teman tongkrongannya di sebuah gubuk terpencil di sana. Ini bukan kabar burung, Cak, apalagi hoaks,” kata Amar ke Cak Bur.

“Beneran kamu ngeliat langsung, Mar?” tanya Cak Bur untuk meyakinkan.

“Iya, Cak. Serius. Ramai orang-orang di sana. Desas-desus yang beredar, mereka bakal dipenjara. Alhamdulillah, Cak. Biar si Abdul itu busuk dan mati saja sekalian di penjara. Ini satu kabar gembira buat kita semua, terutama orang-orang yang tinggal di kampung sebelah. Bukannya begitu, Cak?” Amar terlihat kegirangan.

“Walah, kok ujung-ujungnya ketangkep ya?” kata Cak Bur terkejut.

“Kok responnya malah begitu, Cak? Emangnya sampeyan ini enggak girang ya kalau si pejudi dan pemabok itu dipenjara?” kata Amar.

“Kenapa saya harus girang?” Cak Bur bertanya.

“Orang ini kan pejudi sekaligus pemabok, Cak. Dia pasti telah kehilangan akal sehatnya. Kalau seseorang itu sudah kehilangan akal sehatnya, dia bisa saja melakukan tindakan-tindakan kejahatan. Dan ini cukup meresahkan orang lain. Belum lagi dia juga berisiko memancing keributan di mana-mana. Bukannya hal ini dilarang agama? Cak Bur sendiri pasti lebih paham kalau soal ini,” kata Amar.

“Atau jangan jangan…” Amar berhenti sejenak.

“Cak Bur malah mendukung perilaku orang ini ya?” tanya Amar ke Cak Bur seolah menginginkan jawaban dari pendapat Cak Bur yang sama dengan dirinya.

Cak Bur terkekeh.

“Kamu ada-ada saja, Mar. Ya jelas lah, aku sama sekali tidak mendukung perilaku itu. Bahkan, enggak hanya itu saja, Mar,” kata Cak Bur.

“Aku berani mengutuk keras atas segala perilaku jelek, jahat, juga keji atas nama dan kepentingan apapun itu, selain judi dan mabok, yang jelas-jelas itu semua diharamkan oleh agama,” tegas Cak Bur.

Amar terlihat lega mendengar jawaban Cak Bur tadi. Ia begitu sumringah ketika tahu bahwa ternyata ‘kali ini’ Cak Bur betul-betul sependapat dengan dirinya.

“Tapi, Mar….” Cak Bur menambahi.

“Aku enggak setuju jika hanya judi dan mabok saja, bisa ditangkep oleh polisi, apalagi sampai dipaksa masuk bui,” kata Cak Bur.

Seketika Amar langsung kebingungan.

Piye lho, Cak, kok jadi mencle-mencle begini?”

Cak Bur kembali terkekeh.

“Begini. Kita tentu sepakat baik judi, mabok, zina, atau kejahatan sejenis lainnya merupakan tindakan yang terlarang. Tindakan yang tidak dibenarkan oleh syara’ dan bertentangan dengan nilai dan ajaran agama. Itu semua merupakan dosa. Tapi, enggak semua dosa bisa dipidanakan melalui jalur hukum negara, Mar,” kata Cak Bur.

“Ya Allah, serius, Cak? Berarti Cak Bur enggak setuju dong kalau si Abdul itu harus dihukum dan dipenjara?” tanya Amar.

“Kalau dihukum, aku setuju, tapi kalau harus dipenjara, aku kurang setuju,” kata Cak Bur.

“Lho, kok malah bertentangan dengan perkataan sampeyan tadi?” tanya Amar.

“Pidana yang aku maksudkan tadi bukan berarti harus dipenjara, Mar. Memang betul pidana itu berupa hukuman, tapi sekali lagi ‘bukan hanya penjara’. Masih banyak cara dan penjara bukan satu-satunya cara di antara banyak pilihan. Kan boleh saja toh, kalau si Abdul hanya direhab untuk sementara waktu, misalnya,” kata Cak Bur.

Amar baru paham. “Ohalah, begitu.”

“Tawaran hukuman penjara itu enggak sepenuhnya dapat menyelesaikan masalah, Mar. Tapi justru dapat melahirkan masalah-masalah yang baru. Dan sebuah masalah baru yang timbul dari masalah sebelumnya biasanya akan jauh lebih buruk,” kata Cak Bur.

Amar langsung merenungi kata-kata Cak Bur tadi.

“Walau bagaimana pun juga, kita harus tetap husnuzon dan terus mendoakannya. Barangkali itu cara Allah memberikan peringatan kepada dirinya agar ia segera taubat atas segala perbuatan jeleknya. Syukur-syukur kalau dia segera dapat berbuat baik. Toh, kita semua sebagai saudaranya tentu merasa senang.”

Keduanya tersenyum berharap itu semua akan segera terjadi.

"Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati." (QS. Al-Baqarah: 112)