Pernahkah Anda merasa gugup, demam panggung, tidak percaya diri bahkan sampai tidak dapat berbicara sepatah katapun ketika diminta untuk berbicara di depan umum, baik itu menjadi pembawa acara, moderator, presenter, pemateri atau lainnya?. Kalau Anda menjawab pernah, saya juga pernah pada posisi demikian.

Waktu itu saya diberi tugas oleh dosen untuk membuat satu materi dan harus disampaikan di depan kelas tanpa melihat teks. Saya berusaha untuk mencari materi dan dibantu oleh teman, bahkan teman sampai mendikte  untuk menyampaikan sesuai dengan idenya. 

Tibalah saatnya untuk menyampaikan materi tersebut. Ketika nama saya di panggil untuk tampil, dengan berani saya berjalan ke depan kelas. Namun, saya bingung dan panic harus menyampaikan apa, dalam pikiran berkecamuk antara kalimat-kalimat yang disampaikan teman atau kalimat yang sesuai dengan pendapat pribadi saya. 

Mulut  terkunci dan saya melihat semua pandangan melihat ke arah saya. Ada beberapa teman berusaha untuk mendorong saya untuk mulai berbicara. Namun akhirnya, saya kembali ke tempat duduk dengan tanpa menyampaikan sepatah katapun. Malu, tentu. Namun apa daya rasa gugup ini telah meluluh lantakan semua keberanian untuk berbicara.

Pada kesempatan lain, saya diminta untuk menjadi pembawa acara untuk upacara bendera. Baru saja upacara akan dimulai, tangan saya yang memegang kertas susunan acara bergetar, seperti orang yang sedang menggigil, namun saya berusaha untuk tidak terlalu menampakkan rasa gugup itu.  Demam panggung itu kembali menyerang.

Public Speaking  merupakan  seni berbicara di depan umum baik secara verbal maupun non verbal, yang  bertujuan supaya pesan yang akan kita sampaikan itu diterima, dipahami dan dinikmati oleh audiens.  

Seni berbicara  di depan umum ini dapat diibaratkan dengan seni suara. Semua orang pandai bernyanyi, namun tidak  semua orang dapat bernyanyi dengan merdu dan menggunakan teknik menyanyi yang baik. Mereka harus berlatih untuk memperoleh suara yang merdu dapat dinikmati oleh pendengar.

Berbicara adalah berkomunikasi. Semua orang bisa berkomunikasi. Bahkan sejak dari bayi, kita sudah bisa berkomunikasi. Namun tidak semua orang bisa menguasai seni dan teknik berkomunikasi yang baik. Teknik komunikasi tersebut tidak serta merta langsung dapat kita peroleh. Tentunya dengan banyak latihan dan selalu terus mengasah kemampuan dalam seni berkomunikasi akan menjadikan kita sebagai pembicara yang handal.

Gunakan 3 P saat berbicara di depan umum:

1. Pembukaan.

Pada tahap pembukaan ini, tiga menit pertama adalah kunci yang sangat menentukan bagaimana kita dapat menarik perhatian audiens. Adapun yang dapat dilakukan dalam tahapan ini adalah

a. Menanyakan kabar, dan memperkenalkan diri serta membangun interaksi awal dengan audiens.

b. Memberikan ice breaking, untuk mencairkan suasana.

c. Memberikan info terkini, misalnya menyampaikan kejadian terkini yang sedang viral.

d. Kutipan tokoh, menyampaikan ucapan atau kata bijak dari tokoh terkenal.

e. Cerita inspiratif, menyampaikan cerita yang dapat menggugah perasaan audiens.

f. Buat survey simpel,

g. Kuis berhadiah atau

h. Mengajak audiens dengan membuat yel-yel.

Ketertarikan audiens pada tahapan awal ini akan membuat mereka penasaran dengan materi yang akan di sampaikan. Buat suasana yang interaktif, dan melibatkan audiens.

2. Pembahasan

Materi yang akan disampaikan, tentunya sudah dipersiapkan dengan baik. Agar penyampaian terstruktur dan sistematis, terlebih dahulu gunakan mind maping. Informasi yang akan disampaikan dapat dipetakan dalam bentuk grafis, ini akan dapat mudah pembicara dalam menyampaikan pesan dan mudah dimengerti oleh audiens. Penguasaan materi  merupakan hal yang sangat menentukan berhasil tidaknya dalam saat berbicara di depan umum.

3. Penutup

Pada bagian penutup sama pentingnya dengan pembuka presentasi, agar audiens lebih memahami materi yang disampaikan. Agar audiens lebih terkesan, penutup yang dilakukan dapat berupa:

a. Ajakan, agar audiens dapat mengikuti sesuai dengan materi yang telah disampaikan.

b. Rangkuman, mengingatkan kembali  hal-hal penting yang telah disampaikan pada bagian pembahasan dengan jelas dan ringkas.

c. Memberikan kata penutup yang luar biasa, seperti pantun, lagu, kutipan cerita,  kutipan kata motivasi dari tokoh terkenal.

Pembukaan, pembahasan dan penutup yang digunakan saat berbicara di depan umum akan sangat membantu  saat akan mempersiapkan presentasi yang baik dan efektif. Sehingga dapat memberikan dampak percaya diri dan meminimalkan hal-hal yang dapat membuat malu seperti pengalaman di atas.

Hal yang dapat dijadikan pembelajaran dari pengalaman di atas adalah:

1. Tidak membuat konsep yang jelas untuk pembukaan, pembahasan dan penutup, sehingga tidak menguasai materi yang akan disampaikan.

2. Tidak melakukan latihan.

3. Tidak focus

4. Tidak siap secara mental untuk berbicara di depan umum.

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Kesalahan yang pernah dialami dapat jadikan pelajaran seperti tidak adanya konsep yang baik saat akan mempersiapkan materi yang akan disampaikan dan kurangnya berlatih. Kemampuan berbicara di depan umum merupakan sebuah keterampilan yang dapat dipelajari. Teknik-tekniknya dapat mudah dipelajari. Hal yang tidak kalah penting energy positif dari pemateri akan menular kepada audiens.

***