Deni adalah lelaki sederhana yang aku temui hari ini. Dengan 8 hektare tanah yang ia miliki, sikapnya sopan sekali. Ia rendah hati dan tak jemawa. Sikapnya bukan seperti tuan tanah. 

Dari luasan tersebut, baru 2 hektare yang ditanami cabai, terong, dan buncis. Sekali panen bisa lebih dari dua ton hasilnya. Pedagang atau tengkulak akan datang ke kebunnya untuk mengambil hasil panen.

Pandemi datang saat musim panen sekarang. Ratusan kilo cabai rawit dan cabai merah bisa segera membusuk kalau tak bertemu tuan dan puannya. Tengkulak atau pedagang tak ada lagi. Ia jual murah pun, mereka tak berani membeli. Pasar sedang sepi.

“Tidak mungkin dijual di depan rumah. Serapannya sangat terbatas,” jelasnya.

Ia berkeluh kesah pada seorang teman yang segera posting hasil panenan Deni di media sosial. Cabai merah berkisar 12-16 ribu per kilonya. Ini 60 persen lebih murah dari harga pasar. Dua minggu lalu aku beli sekilo rawit merah di Pasar Kramat Jati dihargai Rp35.000.

Pernah dengar orang berdoa di media sosial? Jawaban dan keajaiban sering kali lebih cepat jadi nyata. Bukan bermaksud aku meniadakan Tuhan, tapi orang lebih cepat percaya keajaiban media sosial karena cepatnya jawaban yang mereka pinta. 

Hanya dalam dua hari posting soal panen yang berlimpah tanpa pembeli tersebut, puluhan orang sudah mengirimkan pesan, ada yang membeli hanya satu kilo, tapi banyak juga yang memesan puluhan kilogram, seperti yang dilakukan Kris, temanku. Karena pesanan Kris-lah kami keluar rumah.

Deni tak pernah berjumpa langsung dengan keriuhan pasar. Tak pernah pula berurusan dengan angkutan barang. Saat membawa hasil panen ke Jakarta, ia salah menghitung ongkos angkut. Disangkanya 1 truk hanya Rp750.000. 

Ternyata ia harus membayar Rp1,2 juta dan kebutuhannya bukan satu truk seperti perkiraan semua, tetapi untung teman-temannya mau ramai-ramai menanggung ongkos angkut ini. Hampir 2ton hasil panenan minggu ini. Hari ini dia turun dari kebunnya untuk jumpa pembeli-pembelinya di Jakarta.

Ia yang selama ini tak pernah berurusan dengan pembeli dalam partai kecil, keteteran mempersiapkan semua barang. Cabai rawit, cawai merah besar, terong, dan buncis ia kemas per kilogram. 

“Lain kali kita kemas lebih baik, supaya masih tetap segar di tangan konsumen,” ujarnya. 

Dua minggu lagi ia akan panen lagi. Petani muda ini belum tahu, apakah pasar yang sama masih mau menyerap hasil panennya atau dia  harus mencari pasar lain lagi.

Deni, postingan di media sosial, dan kami pembeli hasil panen Deni tak sendirian. Kami dipersatukan oleh keadaan dan dikuatkan oleh semangat berbagi yang banyak dijumpai di lini masa kita saat ini. Media sosial sekali lagi melakukan keajaibannya; dan kali ini untuk Deni.

Di kebunnya di Cianjur, Deni pribadi yang baik hati. Ia tak pelit berbagi rezeki untuk pemuda dan juga orang-orang kampung yang kurang beruntung. Setiap panen, sedikit dari keuntungannya ia bagi dengan mereka yang tak punya. Dan ini sudah ia lakukan lama sebelum korona. 

Hari ini Deni lega, meski capek sangat terasa. Ia terus berharap, media sosial melakukan keajaiban pada setiap panenannya. “Saya hanya berbaik sangka pada Tuhan. Melalui media, apa pun pertolongan itu bisa datang,” ujarnya merendah.

Sepulang ambil sayuran, kata-kata ini terus terngiang; berbaik sangka pada Tuhan. Ah ya, Tuhan sering hilang dari kosa kata saat kita sedang merasa bahagia. Saat susah, Tuhan dimunculkan hanya untuk memencet tombol mengabulkan permintaan kita.

Berbaik sangka, kita hanya cukup berbaik sangka, pada Tuhan dan pada sesama. Pandemi mengingatkan pelajaran sederhana ini lagi. Dan entah akan bertahan untuk berapa lama akan mengendap dalam ingatan kita. Pelajaran sederhana yang kita dapat setelah kematian lebih dari 250 ribu jiwa.

Setelah pandemi, bisakah kita hidup sederhana? Hanya berbaik sangka dan peduli dengan orang-orang di sekitar kita? Deni, teman belajar saya hari ini. Dan kalau mau rajin mencatat, kita banyak  belajar kebaikan dari orang-orang di sekitar kita. Ini semacam jurnal syukur kalau kita berhasil memaknainya.