Di era globalisasi yang sudah semakin mengakar seperti pada saat ini, segala hal yang berbau asing sudah tak asing lagi masyarakat Indonesia, khususnya dalam hal penggunaan Bahasa Inggris. Baik itu untuk nama produk, nama restoran, bahkan untuk nama novel dan judul film.

Sebut saja salah satu film Indonesia yang melesat hingga ke negeri tetangga Malaysia, yaitu film My Stupid Boss yang diangkat dari judul novel yang sama dengan filmnyaLalu ada juga novel romantis yang diangkat menjadi film, yaitu Winter in Tokyo.

Banyak penulis yang menggunakan bahasa asing agar judulnya terlihat keren dan gaul. Namun sebenarnya tidak hanya itu saja alasan mereka untuk menggunakan bahasa asing sebagai judul novel atau judul film. Dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai judul, mereka dapat meningkatkan kualitas berbahasa Inggris mereka.

Banyak yang menganggap bahwa hal ini adalah hal yang menghilangkan rasa nasionalis kita sebagai warga negara bangsa Indonesia. Namun banyak juga orang yang menganggap hal ini adalah hal yang wajar dilakukan oleh para remaja atau para penulis muda zaman sekarang.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam penggunaan Bahasa Inggris di negara kita. Tak ada larangan juga bahwa kita tidak boleh menggunakan Bahasa Inggris untuk kita pakai sebagai bahasa kita sehari-hari atau hanya untuk dijadikan judul novel atau film.

Terkadang sebagian orang tidak terima bahwa kita menggunakan bahasa asing sebagai judul novel atau film atau bahkan dijadikan bahasa sehari-hari karena kita mempunyai bahasa sendiri, Bahasa Indonesia. Mereka bersikap terlalu berlebihan, seolah-olah menggunakan Bahasa Inggris akan melayangkan bahasa nasional kita sendiri.

Sebagian orang akan bertanya-tanya mengapa tidak menggunakan Bahasa Indonesia? Mengapa harus menggunakan Bahasa Inggris? Mengapa harus menggunakan bahasa asing di tanah kita sendiri? Dan berbagai macam pertanyaan lainnya yang bersisi konten yang sama, yang poin utamanya adalah tentang masalah penggunaan Bahasa Inggris.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M. Nuh (2013) bahwa Bahasa Inggris tidak akan mengurangi rasa nasionalisme terhadap para generasi muda zaman sekarang ini.

Menurut Mendikbud, kita harus mempelajari Bahasa Inggris karena Bahasa Inggris saat ini sangat diperlukan untuk bersaing di kancah global. Karena suatu hari nanti pasti seluruh teknologi yang ada akan menggunakan Bahasa Inggris dan segala sistem yang ada akan menggunakan Bahasa Inggris.

Kita belajar Bahasa Inggris bukan karena kita ingin menghilangkan bahasa persatuan Indonesia, Bahasa Indonesia, namun karena demi memajukan bangsa kita. Demi menaikkan harga diri bangsa Indonesia yang selama ini dianggap kurang oleh negara lain.

Sebenarnya anggapan orang bahwa penggunaan Bahasa Inggris akan mengurangi rasa nasionalis para penerus bangsa Indonesia adalah salah karena dengan menggunakan Bahasa Inggris akan memudahkan kita untuk mengikuti perkembangan dunia. Sehingga dunia tak lagi memandang kita dengan kedipan sebelah mata.

Selain itu, penggunaan Bahasa Inggris sebenarnya tak ada kaitannya tentang kurangnya rasa nasionalis terhadap bangsa Indonesia karena Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang wajib kita pelajari dan kita ketahui di zaman modern ini. Menguasai bahasa asing adalah pijakan awal untuk mengusai dunia, one step closer to lead the world.

Lalu di negara Indonesia ini, pada zaman modern ini, para generasi muda disebut sebagai ‘generasi MTV’, yaitu generasi yang meniru gaya berpakaian, tas, sepatu, dll. Menurut saya, itu adalah hal yang wajar saja. Karena manusia akan hidup sesuai dengan zamannya pada saat itu juga.

Di zaman sekarang ini, kita harus mengikuti trend yang ada karena dari sanalah negara kita, Indonesia bisa maju dan dapat mendapatkan inspirasi untuk berkarya. Contohnya dalam hal fashion, karena fashion adalah hal yang paling diminati para generasi muda di zaman sekarang ini.

Sebenarnya, tanpa kita sadari, dengan adanya generasi muda yang pandai berbicara Bahasa Inggris, atau berbicara bahasa asing lainnya, lalu generasi muda Indonesia zaman sekarang disebut sebagai ‘generasi MTV’, itu adalah sebuah bentuk bahwa Indonesia ingin maju dan bersaing dengan negara-negara maju atau berkembang lainnya.

Tanpa kita sadari juga, tanpa kita berbicara Bahasa Inggris, kita tidak dapat menjalankan kerja sama dengan luar negeri karena akan berisiko terjadinya miscommunication dan itu hanya akan memalukan bangsa kita sendiri.

Banyak keuntungan yang kita dapatkan jika kita dapat berbicara Bahasa Inggris dan itu bukanlah sesuatu yang dapat mengurangi rasa cinta tanah air kita kepada bangsa Indonesia. Tak ada hubungan sebab akibat antara menggunakan Bahasa Inggris dengan rasa nasionalis kita terhadap bangsa sendiri.

Justru sebaliknya, kita berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukanlah negara yang mudah untuk dijajah pada saat tahun 1900-an, bukan lagi negara yang lemah, dan bukan lagi negara yang kurang akan pendidikan dan sebagainya.

Jadi saya menulis artikel ini karena saya ingin membuka pikiran para pembaca bahwa bahasa inggris bukanlah sesuatu yang dapat kita hindari dan dapat kita hilangkan. Bahasa Inggris juga bukan sesuatu yang dapat merusak rasa nasionalis kita terhadap bangsa Indonesia.

Marilah kita berpikir dengan pikiran yang terbuka, bahwa bagaimana jadinya negara kita, Indonesia, tanpa generasi muda yang dapat berbahasa Inggris? Apakah kita mau negara kita akan terus tertinggal dengan negara-negara berkembang lainnya? Atau bahkan lima puluh tahun lagi tak terbaca pada google Maps?

Cara agar kita tidak menghilangkan rasa nasionalis kita terhadap bangsa Indonesia lagi adalah dengan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, tetap menjunjung tinggi bangsa Indonesia dan Bahasa Indonesia. Tetap bangga menjadi anggota warga negara Indonesia dan setia kepada dasar-dasar negara kita, yaitu Pancasila.

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap orang lain, termasuk dengan bangsanya sendiri. Menggunakan Bahasa Inggris di negeri sendiri sama sekali bukanlah parameter tingkat nasionalisme kita terhadap bangsa sendiri. Real action to nation adalah tolak ukur utama kita terhadap rasa cinta kita terhadap bangsa Indonesia.