Semua anak pasti ingin menjadi buah dari mimpi orang tua. Hangat di pangkuan, tumbuh dalam dekapan dan dukungan lalu, berbunga sesuai doa. Orang tua bangga dan anak bahagia.

Tetapi sayang, jalan cerita hidup tak melulu seperti itu. Banyak sekali simpang jalan yang harus dilewati seorang anak sehingga tempat tujuan tidak sesuai harapan orang tua meskipun sama-sama baik. Lantas ada hati yang kecewa dan ada hati lain yang merasa bersalah.

Sebuah drama korea "The Heirs" (2013) banyak bercerita tentang intervensi orang tua terhadap detail-detail kehidupan anak, khas kehidupan orang yang sangat kaya dan memiliki kelas sosial tinggi. Pejabat, pemegang saham, investor, dan pelaku bisnis besar lain. Para orang tua menginginkan anak mereka melanjutkan estafet posisi keluarga mereka saat ini sehingga mau tidak mau harus dipetakan dengan matang. Sekolah di mana, jurusan apa, bahkan menikah dengan siapa. 

Di satu sisi, anak memiliki mimpinya sendiri. Mereka tumbuh bukan hanya di lingkungan keluarga, mereka tumbuh dalam kehidupan sosial yang bisa jadi memberikan nilai yang berbeda dari yang mereka terima di rumah. Mereka juga bisa jatuh cinta dengan siapa saja di luar kontrol orang tua. 

Dalam film ini, saya menggaris-bawahi cerita Lee Hyo Shin yang merupakan putra pasangan kepala polisi dan ibunya seorang pengacara terkenal. Mereka menginginkan sang putra sekolah hukum, namun sayang Hyo Shin memilih menekuni dunia perfilman. 

Di sini, konflik yang lumayan rumit dengan inti masalah seperti yang disampaikan ayah Hyo Shin suatu waktu, "Kami tahu, kamu mempunyai mimpi sendiri, tetapi kamu juga harus tahu, kami mempunyai mimpi sewaktu kamu lahir." Jadi memang ada tipe orang tua yang ingin mewujudkan mimpi mereka dalam diri anak, tanpa peduli mimpi anak itu sendiri.

Film ini merefleksikan tidak hanya keadaan sosial di mana film itu dibuat, Korea Selatan, tetapi banyak juga kita jumpai di sini. Sedangkan kita punya etika pantang melawan orang tua, baik dari segi agama maupun sosial.

Dalam Islam, peran orang tua ditekankan pada pemberian pendidikan, sejak dalam kandungan sampai dewasa mempunyai tahapan pembelajaran untuk anak. Pendidikan tauhid dan akhlak adalah fondasi kehidupan yang akan memberikan kebaikan, bukan sekadar kesuksesan dunia. Untuk soal hasil, orang tua hendaknya meyerahkan pada takdir Allah.

Urusan dunia pun diatur sedemikian rupa, bagaimana mencari rezeki yang halal dan terberkati dengan menyesuaikan keadaan zaman anak itu hidup. Sebagaimana nasihat sayidina Ali bin Abi Tholib. "Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, Karena mereka hidup bukan di zamanmu”. Jadi, tidak kaku dalam mendidik anak masalah dunia.

Tapi sayang, tidak semua orang tua menggunakan nilai-nilai agama dan ilmu dalam mengasuh anak. Pengaruh materialisme dan hedonisme perlahan masuk dalam tatanan masyarakat. Ukuran kesuksesan dipatok pada banyaknya harta yang dimiliki sehingga anak digiring untuk mencapai hal-hal yang tinggi secara materi.

Tetapi tidak semua anak bisa menjadi seperti yang orang tua harapkan. Materi banyak, status sosial baik, keluarga harmonis, dan selalu ada ketika orang tua membutuhkan. 

Seperti jika anak perempuan terhalang restu suami untuk bekerja. Banyak orang tua yang merasa berat untuk menerima. Sedangkan anaknya sudah memiliki kebijakan keluarga sendiri, maka apa daya anak untuk bisa mewujudkan mimpi orang tua dalam persoalan materi. 

Meskipun anak tetap bisa memberikan hadiah ataupun uang dari penghasilan suami, namun tetap saja itu berbeda untuk sebagian orang tua. Ada yang berkali-kali mendaftar kerja yang diidamkan, namun gagal dan bekerja di sektor lain. Ada juga yang menolak dijodohkan dengan pasangan pilihan orang tua dengan berbagai alasan. 

Ada banyak persimpangan jalan yang dihadapi anak sehingga tidak seperti mimpi dan harapan orang tua. Bukan karena tidak menghargai, bukan juga karena tidak menyayangi. Bukan pula sebagai wujud anak durhaka. 

Kami, anak-anak, punya banyak cara lain untuk membuktikan betapa kami menyayangi orang tua kami dan berterima kasih kepada mereka. Jika kami gagal dengan cara yang satu, kami masih punya banyak cara lain tanpa mengurangi esensi.

Berbahagialah, Bapak, Ibu, meskipun kami tak seperti yang kalian harapkan. Dengan cara-cara kalian berbahagia, tanpa terganggu dengan keadaan anakmu. 

Orang tua telah memberikan fondasi pendidikan sejak kecil. Bahkan dari dalam kandungan. Mereka tidak akan kehilangan itu semua karena telah menjadi pijakan hidup anak. Jika mereka melihat kesuksesan dari fondasi yang mereka bangun, maka para orang tua akan melihat hasilnya tidak jauh dari harapan yang mereka tanamkan.

Namun jika faktor lain di luar pendidikan yang kalian ajarkan, maka ada kemungkinan kalian tidak mendapatinya. Anak-anak pun akan kecewa ketika mereka tidak bisa menjadi seperti mimpi kalian. Meskipun mereka tetap bisa berhasil dengan cara mereka sendiri. Maka berbahagialah memiliki anak-anakmu, apa pun pencapaian mereka.