Bicara tentang kemanusiaan, mungkin terdengar sangat pilu di telinga kita. Betapa tidak, begitu banyak kesempatan untuk kita sebagai manusia---yang pada dasarnya diciptakan untuk saling berbagi, menolong, dan mengindahkan satu dengan yang lainnya---akan tetapi masih terlalu bangga untuk mengabaikannya.

Adalah sesuatu yang ironi melihat fakta bahwa kita berada di era di mana kita terlalu acuh akan hal-hal kecil di sekitar kita, yang kiranya uluran tangan kita, gugahan hati nurani kita, dibutuhkan untuk berdedikasi dalam membantu mereka.

Cobalah sesekali kita berhenti, apabila sedang berada dalam perjalanan, menghentikan kesibukan sejenak jikalau berada dalam keramaian, hanya sekadar melihat sekitar dan mengamati setiap sudut tempat, di mana kita berada. Begitu banyak orang yang membutuhkan bantuan kita, yang mengharap kedermawanan kita sebagai sesama umat manusia, yang mengharap uluran tangan, belas kasihan, dan bahkan mereka yang hanya terdiam tanpa suatu kata pun.

Mereka yang tidak berharap lebih, melainkan hanya satu atau dua kali tolehan kita kepada mereka, yang bernasib kurang beruntung daripada kita. Setidaknya, itulah yang membuat mereka tersenyum, tersadar---ada yang menyadari keberadaan mereka---yang membuat mereka merasa dianggap, oleh orang-orang di sekitarnya. Walau, hanya salah satu seorang di antara kita.

Pernah suatu kali, hati ini rasanya berdegup kencang, air mata ini sudah tidak betah ditahan terlalu lama, ketika diri saya menyadari, betapa banyak orang di luar sana, benar-benar membutuhkan bantuan kita. Satu dua uluran tangan kita, memang tidaklah mungkin untuk menolong semua orang yang membutuhkan, akan tetapi uluran tangan semua orang, sangat bisa menolong satu atau dua orang dari mereka yang membutuhkan.

Hanya dengan turun langsung ke jalanan, berbagi kesenangan, menyisihkan sebagian dari apa yang kita punya, memberikan hak-hak mereka, anak-anak jalanan, tukang becak, para juru parkir yang mulia hatinya---memarkirkan banyak kendaraan orang setiap harinya.

Si penjual koran, bahkan mereka yang rela menjual suara mereka hanya demi sekeping dua keping receh untuk menyambung hidup mereka, adalah hal yang sederhana tapi bernilai tak terhingga di mata Sang Kuasa. 

Sungguh, tidaklah harus menjadi seorang pejabat atau orang yang berlimpah harta untuk berbagi, kita pun, sebagai seorang mahasiswa---yang notabenenya---uang bulanan masih didapat dari Orang Tua, berhak tergugah dan bahkan harus berniat dalam menyisihkan sebagian dari yang bukan hak kita, untuk mereka.

Pasti ada di suatu waktu, sesekali dalam sehari, kita melihat sang nenek yang menggendong sekian kilo rongsokan barang bekas, di bawah panasnya terik matahari, akan tetapi tetap menebarkan senyum pada setiap orang yang lewat di sekitarnya.

Alangkah baiknya, kita hentikan langkah kita sejenak, menghampiri beliau, sedikit berikan sesederhana suatu apa pun, yang kiranya dapat membuatnya tersadar, kita ada, untuk beliau. Kita peduli atas kurang beruntungnya beliau, kita menganggap keberadaan beliau yang patut untuk dibantu dan diringankan segala bebannya dalam mengadu nasib, dalam mengais rezeki. Sesederhana itulah seni dalam berbagi.

Pernah sekali waktu dalam perjalanan, saya sedikit mengurangi gas pada transportasi roda dua yang saya kendarai, pandangan saya berhasil dialihkan oleh pemandangan di mana terdapat seorang nenek yang mengayuh sepeda dengan dua sisi keranjang anyaman kayu---yang cukup besar---berisi beberapa hasil panen di sepedanya.

Ia mencoba menyeberang jalanan, sangat rapuh, dan begitu mungil tubuh sang nenek yang kulihat, saya yakin usia beliau sudah sangat renta, ia turun dari sepeda, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba untuk menyeberang jalan. 

Keadaan tidak memungkinkan saya untuk memarkirkan kendaraan sembarangan hanya untuk membantu sang nenek menyeberang, akan tetapi kendaraan saya sangat memungkinkan untuk menyebrang lebih dahulu dan berhenti di pasar tepat di seberang jalan sembari menunggu sang nenek menyebrang---yang mana itu ialah tempat pilihan sang nenek untuk berteduh---sasaran sangat tepat.

Jika sudah niat, harus terlaksana, saya pun pelan-pelan mendatangi sang nenek, mencoba menyapa dan menebar senyum, menyalurkan hak beliau.

Tanpa basa-basi, dengan sangat erat tangan saya digenggam, panjang ucapan terima kasih dan deretan do'a beliau sematkan untuk saya. Begitu berharga, sangat berharga dan bahkan tiada harganya. Tak terganti oleh suatu apapun. Hanya hal sederhana yang saya lakukan, dibalas dengan deretan do'a yang sempurna, yang lebih menyenangkan hati seorang mahasiswa seperti saya. Air mata pun, tak kuasa untuk dibendung lagi. Memberi, berhasil membuat saya menangis.

Memang, alangkah lebih sempurna, bila kejadian tadi, ada satu aktor---siapa pun yang memiliki kesempatan, yang berperan untuk membantu menyeberangkan sang nenek, sehingga ia tak perlu menunggu berlama-lama di bawah terik matahari, hanya untuk menyeberang.

Sering kali kesempatan datang, akan tetapi kita sebagai manusia sudah terlampau bangga dengan memilih sikap untuk berpura-pura tidak tahu. Padahal, sekecil apa pun kesempatan yang ada, disitulah sesuatu sederhana yang kita lakukan bisa mengubah keadaan seseorang yang membutuhkan. Sudah sangat pas dengan kutipan dari Ronald Reagan, "We can't help everyone, but everyone can help someone." Jika ada kesempatan.

Source: Humanity Quotes from pinterest.com

Seketika pun saya percaya, bahwa berbagi memang tidak mengenal profesi, berbagi pada dasarnya tidak memerlukan perantara. Pada hakikatnya, di dalam diri kita, Tuhan telah tanamkan sifat manusiawi, yang di mana itulah tugas kita untuk menyalurkannya, melalui hal-hal sederhana yang bermakna. Benar adanya bahwa kesadaran diri perlu terus ditanamkan dan wajib hukumnya untuk ditingkatkan dalam hal ini.

Ringankan tangan kita, ikuti kata hati kita yang tergugah dalam melihat fenomena sekitar, melihat mereka yang membutuhkan kita, maka realisasikanlah, bantu mereka dan ringankan beban mereka.

Coba perhatikan wajah sendu mereka, yang sekali waktu dapat berubah dikala mereka begitu mensyukuri kepedulian kita, di kala mereka menyadari keberadaan kita untuk membantu mereka. Hal yang sederhana, namun menghasilkan kepuasan terbesar dalam hidup kita, dapat kembali merekahkan senyum di bibir mereka.

Sangat sederhana dan tidak lagi memilukan, memperhatikan sekitar dapat saling berbagi, saling tolong-menolong, dan terus membuktikan kepada dunia, bahwa berbagi dapat dilakukan oleh siapapun, bahwa berbagi tidak memerlukan perantara. Kitalah, satu-satunya yang berandil besar dalam suatu kontribusi.

Karenanya, berbagilah hingga menggugah hati para andil-andil yang lain. Berbagilah, hingga menghasilkan inspirasi untuk orang lain, membuat mereka tersadar, untuk senantiasa mendedikasikan hidup mereka, untuk mereka yang membutuhkan.

Teruslah berbagi, teruslah menginspirasi. Jangan berbangga hati dengan sikap tak peduli. Ingat, berbagi tidak mengenal profesi, pun memerlukan perantara.

#LombaEsaiKemanusiaan