Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dengan kasus kecelakaan pasangan artis yang berujung pada kematian keduanya, dengan meninggalkan putra semata wayang yang masih batita. Indonesia pun berduka. Selama berbulan-bulan setelahnya netizen masih saja ramai mengikuti kelanjutan berita ini, bahkan sampai menggalang dana hingga miliaran rupiah demi kelanjutan hidup si anak tunggal. 

Berbagi memang menjadi salah satu langkah konkret kebaikan yang bisa dilakukan kepada sesama manusia. Pahalanya bisa dirasakan bahkan sampai ke generasi berikutnya. Tidak perlu muluk-muluk harus berdonasi pada yayasan besar. Kita bisa memulainya dari lingkungan terdekat, misalnya keluarga atau handai taulan.

Salah satu cara berbagi di era pandemi ini adalah dengan memberikan barang atau hadiah untuk orang-orang tersayang. Berhubung sekarang zamannya internet, belanja online menjadi pilihan tepat. 

Beragam produk terbaik, proses yang cepat dan mudah, serta rangkaian promo menarik lainnya membuat makin banyak orang memilih belanja online ketimbang capek-capek ke toko. Apalagi selisih harga yang cukup besar sering kali diberikan sebagai jurus andalan. 

Hal ini saya alami saat membelikan laptop untuk si sulung. Selisih harga hampir 500 ribu rupiah membuat saya tak bisa berkutik dan memutuskan untuk bertransaksi lewat e-commerce saja.  

Jadilah dalam hitungan menit, saya menyelesaikan transaksi tersebut dan duduk manis menunggu Kang Paket datang. Yang saya butuhkan hanya WiFi cepat untuk melakukan semua proses pembelian, mulai dari memilih barang, mencari toko terdekat, membandingkan harga, dan menyelesaikan pembayaran. Saya pilih kurir instan agar pesanan sampai rumah  dalam hitungan jam.

Sebagai pengikut sekte belanja online, sudah tak terhitung berapa kali saya bertransaksi. Dari yang sekadar beli makanan, gadget, skincare, hingga mebel untuk mertua yang ada di luar kota, semua sudah pernah saya lakukan. 

Internet menyatukan Indonesia, bisa jadi sebuah ungkapan yang tepat buat kami sekeluarga. Di saat pemberlakukan PPKM yang membuat kami tak bisa bertemu muka dengan keluarga terkasih, saya dan suami masih bisa berbagi kebahagiaan dengan mengirimkan hadiah dengan berbelanja online di e-commerce favorit.


Berbagi adalah cara saya bermultiplikasi. Satu yang saya berikan, dua atau tiga yang kelak akan saya terima.

Buat saya, berbagi adalah investasi yang akan selalu bermultiplikasi. Mungkin saja saat ini kita tidak mendapatkan imbal baliknya, tapi anak cucu kita kelak pasti merasakannya.

Berikut adalah 3 manfaat berbagi kebaikan yang jarang kita sadari:

1. Berbagi membuat kita lebih bahagia

Saat berbagi, tubuh kita menyemburkan hormon dopamin yang bikin bahagia. Senang rasanya melihat senyum di wajah orang tua, sebagai ganti rupiah dan waktu yang tersita untuk menyelesaikan proses belanja tadi. Tak mengapa, selama ada WiFi cepat di rumah, waktu yang terbuang tak banyak juga kok.

Tidak hanya senang karena sofa di rumah mertua akhirnya ganti setelah puluhan tahun, doa terbaik dari orang tua juga menjadi berkah luar biasa buat keluarga kami. Sejak ibu saya meninggal dua tahun lalu, restu dari ibu mertua sayalah gantinya.

2. Berbagi menurunkan tingkat stres dan meningkatkan level kesehatan

Tekanan pekerjaan, masalah kesehatan dan lain-lain, sering menjadi pemicu meningkatnya level stres pada masyarakat modern. Akibatnya, makin banyak orang yang bermasalah pada kesehatan. Pada saat berbagi, tubuh kita mengeluarkan hormon oksitosin yang memberikan efek anti stres dan hasilnya tubuh kita lebih sehat.

3. Berbagi meningkatkan interaksi sosial yang positif

Sebagai makhluk sosial, manusia butuh interaksi yang cukup dengan sesamanya. Saya percaya saat ini banyak di antara kita yang mendamba temu kangen dengan keluarga, teman sejawat, atau sekadar ngopi bareng di warung sebelah yang menyediakan WiFi cepat itu.  

Saya senang delapan tahun terakhir memutuskan balik kampung ke Jogja yang masih sangat kental dengan nilai sosial, termasuk kekeluargaan. Setiap hari, saya hampir selalu bisa melihat tetangga saling berbagi. Entah itu hasil bumi, masakan, hingga sesepele bertukar senyum dan sapa. Hampir semua orang di lingkungan saya saling mengenal, bahkan sampai ke generasi ketiga atau keempat. 

Interaksi sosial yang positif juga berdampak pada tingginya harapan hidup masyarakat. That’s why lebih banyak lansia di desa ketimbang di kota besar. Ya karena orang desa itu lebih santai, lebih mudah bahagia, dan tentunya sangat suka berbagi dengan sesama. 

Meskipun pandemi membuat aktivitas berbagi dan berkumpul bersama orang lain saat ini sangat terbatas, saya bersyukur bisa tetap berbagi. Secara online tentu, berbekal niat tulus, aplikasi belanja, dan IndiHome. Saya percaya selalu ada jalan untuk kita berbuat baik. 

Pengalaman belanja online sekaligus sebagai sarana berbagi kepada orang-orang terdekat inilah yang membuat saya tak henti berterima kasih. Betapa hidup akan lebih berarti saat kita bisa mengukir senyum di wajah orang lain. Selamat berbagi!