Dalam lanjutan pertandingan EPL antara Tottenham Hotspur melawan Manchester United pada kamis dini hari lalu, ada beberapa rekor yang terjadi menemani kekalahan 2-0 MU dari tuan rumah Hotspur. Rekor pertama adalah, ternyata ada 81.978 penonton yang menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri pertandingan tersebut di Wembley stadium, yang merupakan rekor terbanyak penonton EPL selama ini.

Rekor terbanyak sebelumnya ternyata adalah milik tim The Lilywhites tersebut juga, yakni ketika 80.827 pasang mata penonton menyaksikan penampilan menggila Hotspur ketika menggilas Liverpool dengan skor telak 4-1! Entahlah, apakah ada korelasi langsung antara kuantitas penonton dengan kualitas permainan Hotspur ini ketika bermain dikandangnya sendiri...

Akan tetapi sebaliknya ada catatan buruk ketika tim The Lilywhites ini bertandang ke markas tim “The big six” lainnya. Mereka ini kerap “dipermak” bila bermain dikandang lawan. Sindrom ini jelas menggelisahkan Pochettino untuk meramu strategi yang pas terkait pertandingan Liverpool-Hotspur yang akan berlangsung di markas Liverpool pada Ahad besok. Tentu saja The Anfield gank akan bermain kesetanan untuk menebus kekalahan 1-4 dari Hotspur kemarin itu...

Rekor berikutnya adalah ketika gawang David de Gea bobol hanya dalam waktu 11 detik, yang merupakan rekor kebobolan tercepat bagi MU! Gol ini, maaf seperti gol pantat! Tivi baru dinyalakan, dan pantat belum duduk dengan pas di kursi, eh gak taunya sudah gol! Itulah sebabnya disebut gol pantat... Biasanya hal beginian sering terjadi pada pertandingan kompetisi nasional. Pertandingannya berjalan lamban dan membosankan. Penulis kemudian pergi ke dapur membuat kopi untuk  penghilang kantuk. Ketika pantat baru saja melewati pintu dapur, komentator sudah berteriak “Goooolll!” Penulis hanya bisa berbisik kesal, “Pantatlah....”

Rekor selanjutnya kemudian terjadi lagi ketika gawang David de Gea bobol untuk kedua kalinya pada menit ke-27 lewat tendangan cantik Phil Jones. Phil Jones? iya Phil Jones itu bekaus merah bukan putih The Lilywhites! Artinya gol tersebut adalah gol pantat, alias gol bunuh diri!

Gol bunuh diri tersebut sekaligus menorehkan rekor Spurs sebagai tim yang paling sering diberi hadiah gol bunuh diri dibanding tim-tim lain, yakni tiga buah gol. Melihat dua gol yang menggelikan itu, Mourinho kemudian menendang botol air mineral sambil berteriak, “Pantat!”

***

Mou melangkah ke Wembley stadium dengan cukup pede. 8 pertandingan sudah dilaluinya tanpa kekalahan. Bahkan sepanjang tahun 2018 ini gawang MU belum pernah kebobolan! Statistik pertandingan juga menguntungkan MU. Namun hasil pertandingan tersebut sangat mengecewakan dan membuat Mou terpaksa menyerah untuk mengejar “sitetangga berisik” Manchester City, yang kini hanya membutuhkan 8 kemenangan lagi untuk menyegel juara EPL 2017-2018.

Mou ini termasuk beruntung karena memiliki kedalaman skuat yang mumpuni. Semua pemain cadangan MU dipastikan akan menjadi pemain inti kalau bermain di klub lain! Dengan demikian Mou ini tidak akan kesulitan untuk meramu strategi yang pas untuk kebutuhannya. Namun demikian, sebagai mantan “The special one,” Mou ini sangat berhati-hati kala berhadapan dengan tim “The big six” lainnya. Kalau berhadapan dengan Liverpool ataupun Chelsea, Mou tidak akan pernah ragu untuk menerapkan strategi ala parkir bus. Ini soalnya menyangkut marwah pribadi!

Berhadapan dengan Hotspur, Mou mengusung skema 4-2-3-1 yang cenderung agresif dengan 2 bek sayap, Ashley Young dan Antonio Valencia (bukan Full-back, Luke Shaw dan Marcos Rojo)

Posisi bek tengah diisi Phil Jones dan Smalling. Gelandang bertahan diisi oleh pemain favorit Mou, Pogba dan Matic. Trio gelandang serang ada Alexis Sanchez, Lingard dan Martial. Pos penyerang tengah diisi oleh Lukaku.

Dari susunan pemain ini kita bisa melihat bahwa Mou ingin segera mendapatkan gol secepat mungkin, dan barulah kemudian berusaha untuk mengamankan hasil. Entah nasib baik, atau memang Pochettino sudah mengantisipasinya sehingga sedari awal Hotspur langsung menekan MU! Hasilnya langsung dituai Spurs hanya dalam 11 detik saja! Pertandingan langsung menjadi seru, dan terjadi jual beli serangan. Malangnya gol kedua pada pertengahan babak pertama semakin menghancurkan mental anak asuh Mou.

Kalau di babak pertama keadaan masih berimbang, maka di babak kedua MU semakin tertekan. Kecemerlangan de Gea sebagai salah satu kiper terbaik didunia akhirnya mampu menghindarkan MU dari kekalahan yang lebih besar. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan? Yang jelas MU kalah ditengah sehingga penguasaan bola dan alur serangan dikuasai oleh Hotspur secara mutlak!

Hotspur mengusung skema permainan yang sama seperti MU dengan pola 4-2-3-1. 4 bek diisi oleh Vertonghen dan Davinson Sanchez ditengah, Davies sebagai bek kiri dan Trippier sebagai bek kanan. Davies dan Trippier benar-benar berfungsi sebagai wing-back yang mampu bertahan dan menyerang sama baiknya. Mereka punya fisik yang tangguh dan kecepatan dalam berlari. Tackling dan umpan mereka juga lumayan akurat. Gol kedua Hotspur berasal dari umpan terukur Trippier yang harus secepatnya dipotong oleh Jones, tetapi sialnya malah masuk ke gawang sendiri...

Sebaliknya dengan wing-back “uzur” MU. Tidak ada yang meragukan kemampuan Valencia dan Young dalam menyerang. Ingat, sejak bermain di Aston Villa dulu, kedua pemain ini adalah gelandang sayap murni yang sangat agresif bermain di posisi sayap. Tetapi “umur tidak bisa bohong” dan mereka ini bukan bek sejati! Mou sebenarnya punya bek jagoan pada sosok Luke Shaw dan Marcos Rojo. Tetapi itu tadi, Mou ingin mencari gol cepat lewat serangan sayap untuk dituntaskan oleh Lukaku.... Kali ini Mou “kena batunya.” Valencia dan Young tidak berani sesumbar untuk naik karena takut akan keganasan Davies dan Trippier...

Duet gelandang bertahan Eric Dier dan Dembele menjadi salah satu kunci kemenangan Hotspur. Alur serangan Hotspur dimulai dari sini, dan sebaliknya serangan MU sering kandas ditangan double pivot ini. Tak heran karena Dier memang mampu bermain dengan baik pada beberapa posisi. Sebagai bek tengah, gelandang bertahan maupun gelandang serang. Tendangan bebas Dier juga setara dengan tendangan bebas Coutinho... Trio gelandang serang Hotspur diisi oleh Son Heung-Min, Eriksen dan Dele Alli yang kemampuannya setara dengan trio gelandang serang MU. Artinya hanya pada posisi inilah benar-benar MU dan Hotspur berimbang!

Pada posisi penyerang, inilah duel penyerang nomer 9 terbaik diEPL, yang juga merupakan kandidat top skorer 3 tahun terakhir. Kemampuan Lukaku dan Kane itu setara, itulah sebabnya mereka selalu bersaing pada akhir musim untuk mencari yang terbaik di EPL. Pembeda keduanya terletak pada mindset! Lukaku itu lebih suka untuk  “menunggu bola” datang kepadanya untuk dilesakkan ke gawang lawan.

Sebaliknya dengan Kane. ketika tidak ada bola mendekat kepadanya maka ia akan mencarinya. Ketika pemain lawan menempelnya dengan ketat, Kane akan mundur sedikit dan memberi tempat di depan kepada rekannya yang tidak terjaga. Kane selalu bergerak mencari ruang, mencari bola ataupun membuka peluang bagi rekannya. Kane juga tidak keberatan untuk melayani Son, Alli ataupun Erikson untuk menciptakan gol bagi tim mereka. Jadi walaupun kemampuannya setara, tetapi kane dan Lukaku memberi efek yang berbeda bagi timnya secara keseluruhan

Jadi akhirnya waktu untuk menilai. Di lini depan, Kane memberi efek positif bagi tim. Hotspur unggul dari MU. Trio gelandang serang kedua tim sama baiknya, skor sama kuat. Duet gelandang bertahan Hotspur lebih unggul dari MU, dan inilah penyebab permainan MU kalah dari Hotspur. Mou lalu memasukkan Juan Mata, Fellaini dan Herrera untuk memperkuat lini tengah, namun tidak menolong juga. Bek tengah Hotspur dan MU sama kuatnya, akan tetapi pada posisi wing-back MU kalah tipis. Akhirnya dibelakang Hotspur lebih unggul dari MU.

Untuk posisi kiper, kali ini Lloris bisa mengimbangi de Gea. Sialnya dua gol cepat Hotspur sudah terlebih dahulu mengunci keunggulan Hotspur. Akhirnya skor 2-0 untuk kemenangan Hotspur dikandang sendiri ini memang terasa wajar.