Pemikiran setiap orang dipengaruhi oleh apa yang ia dengar, baca, lihat, dan juga pengalaman. Hasil dari analisis semua hal itu memberikan perspektif yang berbeda-beda, tergantung cara pandang serta pendekatan yang digunakan. Terkadang seseorang memiliki daya imajinasi yang kuat sehingga mampu memberikan argumen-argumen kreatif dan konstruktif.

Namun di sisi lain ada pula argumen yang hanya disandarkan pada pemahaman yang literalistik-skriptual, sewajarnya argumennya bisa rasional namun kurang begitu mendalam. Argumen cenderung lahir dari pemikiran bukan sekedar tindakan spontan, karena argumentasi lahir dari pertimbangan rasional dengan konteks yang berkembang.

Argumentasi merupakan ungkapan atau ekspresi dari analisa terhadap suatu keadaan, wacana, dan hal-hal yang faktual. Argumentasi yang tidak disandarkan pada pemikiran dan analisa bukanlah argumentasi yang kuat, karena argumentasi baru bisa diterima ketika ia rasional dan memang didasari pada landasan dan juga alasan yang kuat.

Sama halnya dengan tulisan ilmiah di mana penulis harus menyertakan bukti-bukti ilmiah sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Hal demikian begitu penting dalam rangka melahirkan pemikiran-pemikiran yang responsif bukan spontanitas.

Selama ini kita tahu media sosial menjadi bahan beradu argumen yang ketat, banyak aliran yang turut hadir, aliran kiri dan kanan, kaum rasionalis hingga literalis, dan juga kalangan fundamentalis sampai liberalis. Argumentasi bisa dengan mudah dianalisis jika itu tidak hanya spontanitas maka argumen yang ada tidak berupa kemampuan analisis yang mendalam, namun sekadar cercaan, komentar negatif, bahkan intimidasi kepada kelompok lain.

Berargumen bukanlah tindakan spontan, ia harus diolah atas pemikiran dan analisa. Membangun argument kreatif perlu berpikir secara imajinatif. Karena imajinasi disini penting untuk melampaui apa yang ia lihat, dengar, baca, dan juga rasakan.

Imajinasi ini menjadi salah satu landasan bagi seseorang untuk membangun argumen yang kritis dan juga kreatif. Argumentasi yang kreatif pasti terbuka dan inklusif, ia lahir bukan secara spontan sebagai komentar, namun ia lahir sebagai bagian dari pemikiran yang konstruktif. Hal inilah pentingnya berargumen secara kreatif tidak hanya kritis, karena kita butuh dialog yang produktif bukan konfrontatif.

Argumen kritis dan juga kreatif patut untuk selalu dilakukan. Berargumen secara kritis saja tanpa pemikiran dan analisa sama halnya dengan tindakan spontan hingga tidak produktif. Kritis memang penting namun juga perlu kreatif. Berargumen perlu kreatif agar argumentasi yang lahir selalu memberikan kontribusi yang positif.

Argumentasi kritis-kreatif lebih positif daripada sekedar kritis, kreativitas membutuhkan imajinasi, dan imajinasi dimiliki oleh semua orang, namun tidak semua orang menggunakan kemampuan imajinasinya secara kreatif.

Dari sinilah kemudian lahir argumentasi yang cenderung literalis karena imajinasinya tidak digunakan secara kreatif. Para pemikir dan cendekiawan muslim maupun barat mampu melahirkan berbagai rumpun keilmuan karena mereka berpikir secara kritis dan juga kreatif.

Dengan modal imajinasi dan pemikiran-pemikiran yang konstruktif mampu kontributif terhadap peradaban. Sebaliknya, argumentasi yang sekadar spontanitas dan hanya kritis saja itu tidak kreatif dan cenderung tidak produktif.

Pemikiran yang kontributif adalah argumentasi yang kritis dan juga kreatif. Kreativitaslah yang mampu membangun lahirnya beragam dan varian wacana serta keilmuan di masa-masa sekarang dan juga mendatang. Imajinasi hanya bisa diasah dengan terus melakukan analisa secara kritis, dan juga mendalam. Imajinasi merupakan modal seseorang berpikir kreatif bukan sekedar spontanitas yang menjebak pada pemikiran yang  konfrontatif.

Argumentasi yang baik perlu dibangun dengan pemikiran dan merubah cara pandang, mendengar, membaca dan juga menganalisa menggunakan daya imajinasi secara kreatif mampu melahirkan argumentasi yang produktif serta kontributif.

Banyak faktanya, ada yang sangat kritis tapi gagal kreatif. Cara berpikirnya spontanitas saja. Ini salah satu yang menyebabkan antar agama sering konflik, karena cara berpikirnya spontanitas. Ada seseorang menafsirkan al-Qur’an, berbeda, spontan berpikir kritis, tapi tidak kontributif, akhirnya saling menyesatkan orang lain.

Ada lagi, tanpa berpikir kreatif-kontributif mengeluarkan fatwa kepada kelompok lain, karena hanya spontanitas, justru fatwanya menyulut konflik-kolektif. Semoga bermanfaat!