Pembuka: Keresahan Penulis

Benarkah aku harus selalu memikirkan kritik seseorang? Benarkah kritik yang dilontarkan seseorang pada-ku itu terbukti benar? Mengapa segala kritik ini begitu menyiksa-ku? Dan lalu, efek buruk yang timbul dalam benak-ku dari segala kritik ini adalah memberhentikan atas suatu hal yang ingin aku lakukan.

Semua pikiran yang terdapat pada paragraf pertama adalah hasil dari perenungan penulis dan diyakini oleh penulis bahwa ada juga orang lain yang merasakan hal yang sama. Tulisan ini ditujukan bagi pembaca yang merasa terpenjara oleh kritik. Penjara dianalogikan sebagai kekangan yang menyiksa.

Penulis pun juga menyadari, bagi beberapa orang, kritik adalah sesuatu yang bisa membangun seseorang. Kritik memberikan seseorang sebuah pandangan baru atas apa yang telah ia lakukan.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kritik sifatnya subjektif. Kebenaran kritik selalu bersifat benar bagi pengkritik. Misalnya pada kasus seorang gitaris dan temannya. Seorang gitaris yang merasa nyaman memetik gitar listrik tanpa menggunakan pick, namun temannya mengatakan pada gitaris tersebut, "kalo main gitar listrik itu ya pake pick, nggak bener kalo gitu, suaranya jadi nggak enak."

Dari contoh kasus tersebut dapat terlihat, bahwa si gitaris dan temannya mempunyai cara pandang yang berbeda. Dengan kritik dari temannya itu, ada tiga kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, gitaris tersebut mengikuti atau memperbaharui kritik temannya. Kedua, gitaris tersebut tetap dengan cara pandangnya dalam bermain gitar listrik. Terakhir, gitaris tersebut akan berhenti bermain gitar.

Kembali ke topik, dari kasus tadi kita tahu bahwa ada 3 efek dari kritik, yaitu mengikuti atau memperbaharui, melanjutkan, dan berhenti. Di tulisan ini, penulis akan membatasi bahasan pada kritik yang memberhentikan.

Mulai dari sini, penulis akan mengutarakan pendapatnya. Pembaca boleh setuju maupun tidak. Karena penulis menyadari, bahwa tulisan ini bersifat subjektif.

Kritik Memenjarakan Diri

Kritik lahir dari perbedaan cara pandang. Seperti yang kita ketahui, cara pandang yang seseorang miliki itu berasal dari pengetahuan yang ia miliki.

Bagi beberapa orang, kritik dari orang lain menyebabkan efek yang buruk. Dengan adanya kritik tersebut, justru malah membuat seseorang jadi tidak membangun hal yang ingin ia lakukan.

Karenanya, kritik menjadi seperti penjara yang membuat seseorang terkekang, tersiksa, dan akhirnya ia terpaksa berhenti atas perbuatan yang ia lakukan. Seperti seorang penjahat yang ditangkap, lalu diborgol, dan dimasukkan ke penjara. Ketika berada di penjara, ia tidak dapat melakukan hal yang biasa ia lakukan, yaitu melakukan kejahatan.

Jika penulis menganalogikan pengekangan dan penyiksaan kebebasan menggunakan penjara, di bawah ini, ada sebuah pendapat lain dari seorang filsuf asal Prancis, yang tidak bisa terelakkan lagi bahwa penulis terinspirasi olehnya.

"Orang lain adalah neraka," begitulah yang dikatakan oleh filsuf Prancis bernama Jean-Paul Sartre. Dengan adanya orang lain, seseorang jadi tidak benar-benar bebas, kebebasan seseorang jadi terkekang dan membuat ia tersiksa, dan kritik itu pasti dilontarkan oleh orang lain.

Maka tidak dapat dipungkiri, kritik adalah sesuatu yang begitu menyiksa bagi sebagian orang. Pikiran-pikiran seperti, "kok aku salah terus, sih?", "aku sudah berusaha semampuku, tapi selalu saja salah," hingga pada akhirnya, "sudahlah, sebaiknya aku berhenti saja, aku lelah untuk jadi tidak pernah benar,"-pun muncul dari benak.

Akibat kritik yang didasari oleh cara pandang yang berbeda tadi, akhirnya malah membatasi kebebasan seseorang, seperti penjara. Pembatasan kebebasan tersebut begitu tidak mengenakkan hati. Segala usaha yang telah dilakukan dengan kebahagiaan sebelumnya, akhirnya dipatahkan oleh kritik yang menyakitkan hati. Hingga akhirnya, seseorang jadi putus asa dan berhenti melakukan perbuatan yang ingin ia lakukan.

Begitulah kritik yang bagi beberapa orang membangun, namun ternyata bagi sebagian lainnya sebuah penjara.

Bagi yang terpenjara oleh kritik, yang harus disadari adalah bahwa sebenarnya manusia itu bebas, setiap individu bebas dalam menjalankan pilihannya. Maka dari itu, jangan biarkan kritik membatasi kebebasan manusia.

Namun, ada sebuah problem. Yaitu, problem kebebasan. Apakah itu?

Problem Kebebasan

Manusia sejatinya adalah makhluk yang bebas. Karena hanya manusia yang memiliki kemampuan untuk memilih, sebagaimana yang kita ketahui pada umumnya. Tapi, di sini ada sebuah pengalaman dari penulis yang membuatnya bingung tentang kebebasan manusia.

Dalam sebuah kejadian, penulis mengingatkan temannya untuk jangan misuh di hadapan orang tua, namun, setelah itu, temannya berargumen dengan bahasa Jawa, "sak karepku, toh! Lah wong cangkem-cangkemku, kok!"

Dari kasus di atas, penulis pun berpikir, "ya benar juga, sih, terserah dia. Tapi, ya nggak gitu juga. Terus gimana, dong?" 

Ternyata jawabannya adalah kebebasan manusia selalu diiringi dengan konsekuensi. Maka, benar adanya jika manusia itu bebas memilih dan melakukan segala hal, namun segala pilihannya untuk melakukan segala hal selalu ada konsekuensinya.

Menurut Jean-Paul Sartre, manusia dikutuk untuk bebas, artinya manusia selalu bebas memilih namun ia harus menanggung konsekuensinya.

Semisal, pada kasus penulis tadi, teman penulis memang bebas ingin mengucapkan apapun dari mulutnya, termasuk misuh. Tetapi, ada beberapa kemungkinan yang pasti terjadi setelah itu, dia mungkin akan dikritik, dijauhi, diludahi, dirasani, dibunuh, atau bahkan ditemani, bisa jadi.

Pada tulisan ini, kritikan adalah salah satu konsekuensi atas apa yang kita lakukan. Setiap perbuatan yang kita lakukan, kritik akan menjadi sebuah kemungkinan yang pasti.

Dari sini kita dapat menilai, bahwa kebebasan tidak sepenuhnya mengenakkan, karena konsekuensi selalu menghantui kebebasan manusia. Manusia harus siap menanggung kutukan ini sampai akhir hayatnya.

Penutup: Kesimpulan

Untuk menutup tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa kita bebas melakukan apapun. Lepaskan segala kritik yang mengekang dan menyiksa diri. Segala kritik yang ada hanyalah karena perbedaan pendapat dari tiap individu. Manusia bebas untuk memilih kebenarannya sendiri.

Lakukan apa yang ingin dilakukan. Bebaslah!

Namun, yang harus diingat konsekuensi akan selalu menghantui manusia. Selamanya.