1 tahun lalu · 399 view · 7 menit baca · Perempuan 44552.jpg
IG/@MUALIMINMELAWAN

Berani Bubarkan Pernikahan Mantan?

Solidaritas untuk Mereka yang Dikhianati

            Kuhitung, sudah ada sepuluh orang sahabat, teman, orang yang ku kenal, patah hati karena ditinggal nikah pacarnya. Cerita perpisahannya pun, bermacam-macam kisah. Ada yang ditinggal nikah diam-diam. Ada yang tiba-tiba menerima maklumat, tiba-tiba diajak putus. Ada yang alasannya pindah Kota, eh, tak tahunya menikah dengan Om-om Pengusaha kaya.

            Ada yang frustasi. Setelah beberapa bulan lost contact, tiba-tiba, dapat kabar dari temannya, si doi sudah mau nikah dengan oranglain. Ada faktor lain diluar urusan perasaan, yang mendorong hal itu dapat terjadi. Entah karena orang baru tersebut lebih tampan/cantik, mapan, bergaji tinggi. Atau si dia, dijodohkan paksa orangtuanya, yang tentu saja dia tidak bisa melawan.

            Melalui tulisan ini, Saya tidak sedang membuat GGPM (Gerakan Gagalkan Pernikahan Mantan), atau memprovokasi orang untuk memprotes tentang apa yang terjadi dalam hidupnya. Tidak! Sama sekali tidak. Hanya saja, Saya prihatin, mendengar kisah cinta mereka yang menyedihkan. Pesan ini, khusus untuk temanku, dan untuk orang-orang lain diseluruh dunia yang sedang patah hati.

            Jadi begini, memang, Kita tidak akan pernah tahu seberapa dalam rasa cinta kekasihmu padamu. Di dunia ini, tidak ada manusia yang mengetahui isi hati seseorang seutuhnya. Tapi, yang perlu Anda tahu, sebagai kekasih, tidak seharusnya Anda ditinggalkan kekasih Anda tanpa alasan yang dapat diterima.

            Ketika kekasih Anda tiba-tiba pergi, menghilang, atau berubah sikap tiba-tiba. Hingga seolah Anda tak lagi mengenalnya sebagaimana dia yang Anda kenal dulu. Tentu, ada sebab-sebeb tertentu yang menyebabkan dia seperti itu.

            Salah satu sebab yang umum, adalah karena hadirnya orang ketiga. Atau atas desakan pihak tertentu, entah orangtua atau saudaranya, memaksanya untuk berubah, dan berputar haluan dari kita.

            Kata orang bijak, dengan melihat oranglain yang kita cintai bahagia (termasuk hidup dengan oranglain), sudah cukup untuk membuat kita pun merasa bahagia.

            Tapi menurutku, tidak seharusnya seseorang itu bersikap naif. Cinta yang tak sekaligus memiliki, hanya akan melahirkan kepedihan luka dan ada naskah rasa yang tidak selesai dalam hati. Cinta yang tidak diikuti kepemilikan atas orang, adalah omong kosong belaka.

            Dimana di dunia ini, ada orang rela mencintai tanpa memiliki? Tanpa sedikitpun ingin berkuasa atas yang dicintainya? Apakah Anda ikhlas, mencintai seseorang, yang seorang tersebut jatuh ke pelukan oranglain? Yang orang tersebut, tiap malam bercinta, mendesah, meronta mesra, bersama suaminya, istrinya? Yakin Anda tidak cemburu? Yakin Anda terima? Yakin Anda tidak marah? Jujur saja!

            Ketika Anda mengagumi seseorang, mengingingkan bercanda bersamanya, rindu melihat senyum, lirikan dan caranya tertawa. Itulah ketika Anda sedang jatuh cinta pada seseorang. Saat itu pulalah, Anda tiap waktu ingin bersamanya. Itu artinya, memiliki adalah suatu kebutuhan. Itulah cinta. Cinta yang tanpa disertai pemilikan, bak singa lapar dalam kerangkeng, yang dikelilingi seonggok daging segar diluar jeruji, pedih!

            Pacaran, ta’aruf, atau masa-masa pranikah, adalah awal menuju pengikatan komitmen akhir. Kekasih, seringkali ingin mengenal dan memahami karakter masing-masing. Dan bila sudah yakin betul, barulah pernikahan diselenggarakan.

            Sebagai kekasih, Anda boleh jelek, miskin, bodoh, lugu, atau tidak memiliki gelar Sarjana. Tapi, Anda punya hak penuh untuk tahu, apakah ikatan yang Anda bangun tersebut jadi naik ke jenjang pelaminan, atau putus ditengah jalan.

            Seorang patah hati, putus, atau orang yang kisah cintanya kandas, sudah menjadi narasi yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. Apakah kita akan terpuruk, tidak mampu berdamai dengan kenyataan, gila, kacau, hancur, atau mampu move on dan segera melupakan luka masa lalu, sembari membuka lembaran baru.

            Saya disini, hanya fokus pada kisah orang-orang yang patah hati karena penghianatan. Entah ditinggal nikah, dijodohkan oleh orangtuanya dengan calon yang lebih mapan, atau pergi begitu saja tanpa penjelasan yang masuk akal.

            Bila Anda merasa hubungan Anda dengan kekasih Anda baik-baik saja, lalu, tiba-tiba, dia memutuskan Anda sepihak. Dan ternyata, pemutusan tersebut adalah karena dia dipaksa nikah oleh orangtuanya dengan orang lain yang lebih mapan, maka saat itulah telah terjadi penghianatan cinta. Saran Saya, sebaiknya Anda jangan terima kenyataan tersebut. Anda harus melawan, menggugat dan meminta keadilan.

            Bila Dia memutuskan Anda, dan memilih hidup dengan oranglain secara sepihak, padahal sebelumnya masih terikat komitmen dengan Anda, saran Saya, Anda harus menuntut penjelasan yang memuaskan. Mengapa dia seenaknya mencampakkan Anda seperti tu? Seolah Anda yang dulu disanjung-sanjung olehnya, diinginkan dia, tiba-tiba dibuang tanpa ada permisi sedikitpun. Maaf, tapi Anda adalah manusia, bukan sampah.

            Banyak orang menasihati. Bahwa, hidup ini hanya sekali. Oleh karenanya, bila seseorang mencampakkan Anda dan memilih bersama oranglain, ya sudahlah. Lupakan saja. Toh, perempuan laih masih banyak di dunia ini. Toh, masih banyak lelaki lain yang jomblo di muka bumi, (kecuali hanya Lelaki tersebut doang yang mau sama Anda).

            Kalau menurutku, justru karena hidup hanya sekali, maka, jangan mau dihianati. Jangan mau diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Justru karena hidup ini singkat, jangan mau dipermainkan.

            Mencintai perempuan, memilihnya untuk dijadikan pendamping hidup, tidak sama seperti membeli kambing, yang kalau kita kehilangan pilihan pertama, kita bisa mencari kambing lain di pasar lain. Di dunia ini, boleh ada ribuan perempuan, yang lebih cantik dan menggemaskan dari kekasih Anda yang meninggalkan Anda pergi. Tapi, apalah arti kecantikan, bila tidak srek dihati?

            Ketika kekasih Anda pergi tanpa bilang-bilang dan tidak ada penjelasan sedikitpun, boleh ada gadis yang seribu kali lebih manis dari dia di dunia ini. Tapi, kalau gadis lain tersebut tidak memberikan Anda kenyamanan, Anda mau apa?

            Hidup sekali. Orang yang sudah jelas-jelas mampu memberikan kenyamanan pada Anda. Dan Anda sudah merancang masa depan bersamanya, maka Anda harus perjuangkan mati-matian orang tersebut.

            Ketika orang yang Anda cintai pergi, atau sengaja dipisahkan dari Anda, maka saat itulah, separuh hidup Anda tercerabut. Cinta, tidak bisa dibarter dengan kecantikan oranglain. Cinta, tidak bisa digantikan dengan kekayaan atau karir.

            Soal cinta, siapapun bisa menjadi konyol. Makanya, wajar, ada orang bela-belain ribut, bertengkar, bentrok, tawuran, bahkan bacok-bacokan demi memperebutkan atau membela kehormatan kekasihnya. Bahkan, tak jarang, dua kerajaan perang berdarah-darah, hanya karena Pangerannya menginginkan seorang Perempuan pujaan hati.

            Menurut saya, Lelaki yang berani berdarah-darah memperjuangkan gadisnya atau calon Ibu dari anak-anaknya kelak (kalau tidak mandul), adalah tindakan yang patut diapresiasi. Itu artinya, Dia tidak setengah-setengah dalam menginternalisasi rasa cinta pada kekasihnya.

            Dulu, seorang kawan SMA Saya, yang dekat dengan Saya, pernah meminta bantuan menemaninya, melabrak Preman desa di kampung sebelah. Dia bercerita, kekasihnya usai pulang sekolah, disergap, dicegat ditengah jalanan desa yang sepi. Diserang, dilecehkan. Tapi tidak sampai diperkosa. Preman tersebut, cintanya sudah berkali-kali ditolak oleh kekasih sahabat saya.

            Sahabat saya, tentu tidak terima. Dan karena Saya dianggapnya bisa Silat, Dia mengajak Saya untuk memberikan pelajaran pada Si Preman tadi. Dan bisa ditebak, waktu itu, saya ikut menerjang si begundal tersebut hingga tergeletak. Sampai-sampai, warga selingkungan sekitar, melerai dan mengusir kami untuk segera pulang. Balik ke rumah masing-masing, dan berlalu meninggalkan kegaduhan sore hari di desa orang.

            Bahkan, setelah kejadian yang berlangsung tujuh tahun silam, menurut Saya, tindakan konyol tersebut, yang dilakukan sahabat Saya demi kehormatan cinta yang ia yakini, bisa dipahami dan relevan untuk dilakukan.

            Beberapa waktu yang lalu, sempat viral di youtube. Seorang Pemuda, berteriak-teriak tidak terima, nekad berniat membubarkan acara pernikahan gadis pujaan hatinya. Seandainya, dia beringas tersebut demi menuntut keadilan, demi meminta penjelasan karena tiba-tiba ditinggalkan. Maka, tindakannya tersebut bisa dipahami.

            Melalui tulisan ini, Saya sama sekali tidak mengagitasi orang untuk melakukan pembubaran prosesi pernikahan mantannya. Tidak. Hanya saja, bila Anda dianiaya kekasih Anda, Anda dihianati tanpa penjelasan, sebaiknya Anda harus menuntut jawaban.

            Bila kasusnya adalah Anda dan kekasih Anda saling mencintai. Tetapi karena Anda miskin, lalu ditolak orangtuanya yang orang kaya. Dan akhirnya kekasih anda dijodohkan paksa dengan oranglain, lalu menyisakan Anda yang terluka hati, maka Anda tidak boleh diam saja. Yang ingin menikah itu kekasih Anda, bukan orangtuanya. Apalah arti pernikahan bila timbul dari paksaan dan ketidaktulusan?

            Orang yang menikah karena dipaksa, ditekan, dijodohkan, dan diancam, demi sebuah ketaatan arogansi orangtuanya, adalah bentuk lain penjajahan. Anda jangan terima, bila kekasih Anda dipaksa, lalu dinikahkan dengan Pria lain yang tidak dia cintai. Dan akhirnya, hanya akan menjerumuskan pujaan hati Anda dalam jurang perbudakan rumah tangga. Jangan diam, Anda harus melawan dan membebaskannya.

            Ingat, tidak semua pernikahan adalah untuk melipatgandakan kebahagiaan. Ada pernikahan-pernikahan tertentu, yang bila dikaji lebih dalam, melanggar Hak Asasi Manusia; yaitu Hak menikah dengan orang yang dipilih dan dicintainya.

            Bila kekasihmu dipaksa menikah orangtuanya dengan oranglain, sedang kekasih Anda hanya menginginkan Anda seorang, itulah awal munculnya tirani. Maka, pernikahannya bertentangan dengan prinsip demokrasi. Itu haram dalam era peradaban modern. Itu melanggar prinsip-prinsip Universal Declaration of Human Right tahun 1948 di Paris dan Undang-undang Nomor 9 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Oleh karenanya, Anda harus mengupayakan, bagaiamana caranya pernikahannya gagal, dan rebut kembali cintamu yang sebelumnya direnggut oleh orangtuanya yang matrealis.

            Saya, mendukung penuh jomblo-jomblo sedunia, untuk bersatu padu menuntut keadilan dan memerangi pernikahan yang timbul dari pemaksaan. Kinilah saatnya, orang-orang yang sakit hati, yang terluka hatinya karena asmara, untuk merapatkan barisan, meminta dihormatinya hak memilih pasangan sebagai hak dasar pemberian Tuhan untuk anak manusia.

            Hak mencintai dan dicintai, hak untuk menikah dengan siapa dan menikahi siapa, adalah hak mutlak individu yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, tidak terkecuali oleh orangtua yang sudah membesarkan kita. Menghormati orangtua yang berjasa melahirkan, merawat dan mencukupi hidup kita, dengan menolak perjodohannya atas kita, adalah dua hal yang berbeda. Mari menggugat dan melawan!