Dewasa ini, wacana “Abad 21 adalah Abadnya Asia” bukan lagi menjadi sesuatu yang mengherankan. Bangsa-bangsa Asia telah bangkit. Perubahan positif tak hanya terjadi di Kawasan Asia Timur, Asia Barat maupun Asia Tenggara. Lebih dari itu, Kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan terus memaksimalkan posisi strategisnya seraya memanfaatkan globalisasi yang sedang berlangsung. Layaknya negara Asia lainnya, Uzbekistan terus mengintensifkan perannya di kawasan maupun dalam percaturan internasional.

Asia Tengah dan Uzbekistan

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Asia Tengah telah mengalami perubahan besar yang tercermin dalam penguatan kemitraan strategis dan kerja sama yang saling menguntungkan. Tren positif di kawasan ini telah mempengaruhi hampir semua bidang, dari politik dan ekonomi hingga budaya dan kemanusiaan.

Uzbekistan sebagai negara double landlocked yang terletak di jantungnya Asia Tengah, menjadikannya kandidat kuat sebagai pemain regional di kawasan. Hal ini tercermin dari reformasi besar-besaran sejak masa kepemimpinan Presiden Shavkat Mirziyoyev dimulai pada akhir 2016. Reformasi, transparansi, pembaruan, dan perubahan yang diamati dalam kebijakan domestik Uzbekistan dalam beberapa tahun terakhir juga terbukti dalam kebijakan luar negerinya.

Salah satu tujuan utama kebijakan luar negeri Uzbekistan adalah menciptakan suasana perdamaian, stabilitas, dan keamanan di sekitar wilayahnya. Dalam hal ini, Presiden Mirziyoyev konsisten dalam memperkuat hubungan yang ramah, bertetangga baik, dan saling menguntungkan dengan negara-negara Asia Tengah sebagai prioritas kebijakan luar negeri Uzbekistan.

Sebagai hasil dari kebijakan Uzbekistan yang terbuka, konstruktif, dan pragmatis terhadap Asia Tengah, berbagai permasalahan kawasan semakin ditangani dan diselesaikan sepanjang tahun 2017-2020. Lingkungan baru yang stabil serta iklim politik saling percaya akan berimplikasi pada meningkatnya daya tarik investasi kawasan sekaligus menciptakan peluang kerja sama dengan mitra dan investor asing.

Kerja sama regional yang intensif telah berkontribusi pada penguatan perdagangan di Asia Tengah, peningkatan sirkulasi barang di negara-negara kawasan, dan pengembangan kerja sama perdagangan dan ekonomi. Misalnya, pada periode 2017-2019, peredaran barang di negara-negara Asia Tengah naik hampir dua kali lipat, dari $2,7 miliar menjadi $5,2 miliar, termasuk dengan Kazakhstan 1,8 kali, Kirgizstan 5 kali, Turkmenistan 2,7 kali dan Tajikistan 2,4 kali serta pangsa negara-negara Asia Tengah dalam perdagangan luar negeri Uzbekistan meningkat dari 10,2% menjadi 12,4%.

Tren positif ini terus berlanjut bahkan selama pandemi Covid-19. Terlepas dari dampak negatif dari pembatasan yang dipicu oleh virus corona, arus peredaran barang antara Uzbekistan dan negara-negara Asia Tengah dari Januari hingga Oktober pada 2020 berjumlah $3,8 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa pendalaman konektivitas regional adalah proses yang sangat dibutuhkan agar berkontribusi pada munculnya kawasan yang stabil dan berkembang secara dinamis.

Prospek Kerja Sama Antar Kawasan

Asia Tengah adalah pasar dengan populasi 75,3 juta dan total PDB sebesar $291 miliar (2020). Pada saat yang sama, tingkat pertumbuhan PDB di negara-negara Asia Tengah dalam beberapa tahun terakhir cukup tinggi di kisaran 5-7% dan bahkan di tahun krisis 2020, tingkat pertumbuhan negatif hanya terjadi di Kazakhstan dan Kirgizstan. Menurut perkiraan Bank Dunia, negara-negara Asia Tengah pada tahun 2021 akan dapat memulihkan dinamika positif pertumbuhan PDB dan meningkatkan tingkat pertumbuhan pada tahun 2022.

Pada tahun 2020, total omset perdagangan luar negeri negara-negara Asia Tengah berjumlah $142,6 miliar, dimana $12,7 miliar (atau 8,9%) merupakan bagian dari perdagangan intrakawasan, yang akan jauh lebih tinggi jika dikecualikan ekspor produk primer, yang sebagian besar dipasok oleh kawasan tersebut ke negara-negara luar kawasannya.

Rute perdagangan utama negara-negara Asia Tengah diletakkan di arah utara, untuk mendiversifikasi perdagangan luar negeri, arah yang menjanjikan adalah pengembangan kerja sama ekonomi dengan negara-negara Asia Selatan, yang secara geografis terletak di Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, Maladewa, Nepal, Pakistan, India dan Sri Lanka.

Negara-negara Asia Selatan adalah pasar dengan populasi sekitar 1,9 miliar (25% dari dunia), dengan total PDB lebih dari $3,3 triliun (3,9% dari PDB Global) dan omset perdagangan luar negeri lebih dari $1,4 triliun.

Saat ini, omset perdagangan negara-negara Asia Tengah dengan negara-negara Asia Selatan memiliki volume relatif kecil yakni $4,43 miliar (2020), yang hanya 3,2% dari total omset perdagangan luar negeri kawasan Asia Selatan. Pada saat yang sama, omset perdagangan luar negeri Kazakhstan adalah 2,3%, Uzbekistan 3,8%, Turkmenistan 3,4%, Tajikistan 4,0% dan Kirgizstan 1,0%.

Perhitungan menunjukkan bahwa ada potensi yang belum direalisasi untuk perdagangan antara negara-negara Asia Tengah dan Selatan sebesar $1,6 miliar, di antaranya dari Asia Tengah hingga Asia Selatan, sekitar $0,5 miliar. Meskipun volume perdagangannya kecil, negara-negara Asia Tengah tertarik untuk mengimplementasikan proyek-proyek investasi besar dengan partisipasi negara-negara Asia Selatan.

Misalnya, Kirgizstan dan Tajikistan dalam pelaksanaan proyek internasional ‘CASA-1000’, yang menyediakan pembangunan jalur transmisi untuk pasokan listrik sebesar 5 miliar kW/jam ke Afghanistan dan Pakistan. Selain itu, Turkmenistan dalam pembangunan pipa gas Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan-India (TAPI) dengan kapasitas 33 miliar meter kubik gas per tahun. Tak kalah penting, Kazakhstan dalam pengembangan koridor transportasi internasional ‘Utara-Selatan’, menggunakan pelabuhan Iran Chabahar untuk meningkatkan perdagangan dengan India dan negara-negara lain di Asia Selatan.

Uzbekistan Meletakkan Rute Transportasi ke Selatan

Saat ini, penting bagi negara-negara Asia Tengah untuk memastikan bahwa mereka mengambil langkah-langkah terkoordinasi secara politik yang bertujuan tidak hanya untuk mengintensifkan kerja sama ekonomi regional, tetapi juga mencapai tingkat konektivitas baru antarkawasan.

Selama sesi ke-75 Majelis Umum PBB tahun lalu, presiden Uzbekistan mengusulkan pembentukan Pusat Regional untuk Pengembangan Keterkaitan Transportasi dan Komunikasi di bawah naungan PBB untuk memastikan integrasi mendalam kawasan Asia Tengah ke dalam koridor ekonomi dan transportasi global, meningkatkan daya saing negara-negara Asia Tengah di pasar global untuk jasa transportasi. Tugas utama pusat tersebut adalah untuk pengadopsian program regional, proyek, dan dokumen penting strategis sehingga dapat diimplementasi inisiatif transportasi dan logistik bersama.

Penciptaan koridor dan infrastruktur transportasi internasional di kawasan ini sangat penting bagi negara-negara Asia Tengah. Salah satu wilayah penting dalam hal ini adalah Asia Selatan, wilayah yang secara historis terkait erat dengan Asia Tengah oleh arus migrasi yang luas dan sirkulasi barang yang intensif, serta penyebaran ide-ide ilmiah dan pengaruh budaya timbal balik yang cepat.

Tidak diragukan lagi, mata rantai utama dalam konektivitas regional antara kedua kawasan ini adalah Afghanistan. Saat ini, ada peluang strategis baru untuk integrasi Afghanistan ke dalam proyek infrastruktur internasional dan pengembangan koridor transportasi yang dimaksudkan untuk menghubungkannya.

Contoh kebijakan regional yang dinamis termasuk negosiasi trilateral tentang konektivitas transportasi antara Asia Tengah dan Asia Selatan, yang berlangsung di Ibu Kota Uzbekistan Tashkent pada 2 Februari lalu, dengan partisipasi delegasi tingkat tinggi dari Uzbekistan, Afghanistan dan Pakistan. Pertemuan tersebut menghasilkan penandatanganan rencana aksi bersama untuk pembangunan jalur kereta api Mazar-i-Sharif – Kabul – Peshawar (Trans-Afghan).

Pelaksanaan proyek ini akan berkontribusi untuk mencapai salah satu tujuan strategis Asia Tengah, yaitu memastikan akses ke Samudra Hindia, khususnya pelabuhan Karachi, Kasem dan Gwadar di Pakistan, dan menghubungkan sistem perkeretaapian Asia Selatan dengan sistem Asia Tengah dan Eurasia. Proyek ini akan memfasilitasi pertumbuhan perdagangan, meningkatkan impor dan ekspor di seluruh Eropa, Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta secara substansial mengurangi waktu pengiriman barang pada rute regional dan internasional.

Selain itu, pembangunan jalur kereta api trans-Afghan tersebut akan memberikan kontribusi penting bagi keamanan regional. Memperbaiki situasi sosio-ekonomi di provinsi utara dan timur Afghanistan akan memungkinkan untuk memperkuat keamanan negara ini serta negara-negara tetangga, menyusul penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan.

KTT Asia Tengah-Selatan di Uzbekistan

Sumber gambar: europorter.co

Hanya sebulan setelah Tashkent menandatangani Peta Trans-Afghan pada Februari lalu dengan Pakistan dan Afghanistan, pejabat Uzbekistan secara aktif bekerja dengan tetangga Asia Tengah dan Asia Selatan untuk mengorganisir konferensi internasional yang akan menjadi landasan untuk masuknya Asia Tengah ke Asia Selatan.

Atas prakarsa Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, pada 15-16 Juli 2021, diadakan konferensi Tingkat Tinggi “Asia Tengah dan Selatan: Keterkaitan Regional, Tantangan dan Peluang”. KTT yang akan berlangsung selama dua hari ini akan memiliki tiga tema diskusi: Ekonomi, Budaya, dan keamanan.  

Konferensi ini rencananya akan dihadiri oleh Presiden Republik Uzbekistan, Presiden Republik Islam Afghanistan, Perdana Menteri Republik Islam Pakistan, para menteri luar negeri dan perwakilan tinggi negara-negara Asia Tengah dan Selatan, pimpinan dan perwakilan dari negara-negara sahabat (termasuk Rusia, Iran, China, AS, dan Uni Eropa juga telah diundang), kepala organisasi internasional dan regional, lembaga keuangan global, pusat penelitian dan analisis terkemuka.

Tujuan utama dari konferensi ini adalah untuk memperkuat hubungan historis yang erat dan bersahabat antara negara-negara Asia Tengah dan Asia Selatan demi kepentingan seluruh masyarakat di kedua kawasan. Selain itu, konferensi ini diharapkan dapat menciptakan wadah politik dan pakar untuk diskusi multilateral tentang model hubungan strategis Asia Tengah-Selatan dalam berbagai bidang.

Pada konferensi tersebut, Uzbekistan akan mempresentasikan visi strategisnya mengenai penguatan konektivitas Asia Tengah dan Selatan. Selain itu, forum ini akan menawarkan platform diskusi yang kondusif tentang proposal spesifik mengenai pemanfaatan potensi transportasi dan transit negara-negara di kedua kawasan, serta peluang untuk memasuki pasar yang menjanjikan, meningkatkan ekspor, mendorong investasi, pembangunan inovasi dan teknologi, dan peningkatan pertukaran kemanusiaan dan pariwisata.

Secara umum, perluasan hubungan antarkawasan antara Asia Tengah dan Asia Selatan serta pemanfaatan potensi ekonomi, transportasi, energi dan kemanusiaan yang sangat besar di kawasan ini merupakan proses alami dan sangat dibutuhkan. Komplementaritas pasar dan kesempatan bagi negara-negara di kawasan untuk mendapatkan akses ke rute terpendek menuju laut menciptakan kondisi alami untuk mengintensifkan dan memperkuat kolaborasi.

 Dengan demikian, proyek-proyek yang sedang berlangsung seperti Jalur Trans-Afghan serta KTT Konektivitas Regional tersebut menggarisbawahi tujuan Tashkent bahwa dirinya tak hanya mencari kerja sama yang menguntungkan Uzbekistan saja, akan tetapi berupaya untuk menjadi pemain regional yang bertanggung jawab, dapat diandalkan, dan bermitra terbuka.