Menjadi seorang muslim tidak hanya sebatas informasi pelengkap pada kartu identitas saja, melainkan harus siap pula dalam menjalankan segala ketentuan yang terdapat dalam agama Islam. Seorang muslim juga wajib memelihara dan menjaga keislamannya agar tetap terjaga keimanannya serta tidak merusak atau membatalkan Islamnya. 

Oleh karena itu, dalam menjalankan segala perbuatan dan perintah Allah Swt harus disertai dengan ilmu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz :

مَنْ عَبَدَ بِغَيرِ عِلْمٍ كَانَ مَايُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمّا يُصْلِحُ

“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.”

Menurut Imam Al-Ghazali, hukum mempelajari suatu ilmu dibedakan menjadi dua, yakni fardhu kifayah dan fardhu ‘ain. Hukum ilmu yang fardhu kifayah adalah ilmu yang cukup dipelajari oleh salah seorang di antara kelompok saja agar dapat menggugurkan kewajiban tersebut, seperti ilmu kedokteran, ilmu sains, ilmu hadits, dan lain sebagainya. 

Sementara, hukum ilmu yang fardhu ‘ain adalah ilmu yang wajib dipelajari bagi setiap muslim. Menurut Sayyid Bakri al-Makki dalam kitab Kifayatul Atqiya’ bahwa ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu fikih, akidah, dan ilmu yang menjadikan hati bersih.

Manuskrip : Masail al-Muhtadi li Ikhwan al-Mubtadi Karya Syaikh Muhammad Baba Daud Rumi

            Kitab Masail al-Muhtadi li Ikhwan al-Mubtadi sebenarnya belum diketahui secara pasti mengenai siapa penulis kitab tersebut, hal ini dikarenakan tidak ditemukan keterangan penulis pada bagian pendahuluan maupun penutupnya. Namun, banyak sumber yang menyatakan bahwa kitab ini disusun oleh seorang ulama Aceh bernama Syaikh Muhammad Baba Daud Rumi atau yang dikenal juga dengan nama Baba Daud al-Jawiy bin Isma’il bin Agha Mushthafa bin Agha Ali ar-Rumi. Beliau merupakan murid kesayangan ulama besar Aceh bernama Syaikh Abdurrauf as-Singkili. Naskah asli kitab ini disimpan oleh Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, yaitu Tarmizi Abdul Hamid.

Kitab ini berisi penjelasan mengenai akidah dan hukum fikih berdasarkan mazhab Syafi’i yang diterangkan dalam bentuk tanya-jawab. Sebagaimana yang tertera dalam kalimat pendahuluan pada kitab ini :

Bahwa kami bayankan (jelaskan) segala masalahnya dengan thariq (metode/cara) soal dan jawab supaya ingat segala orang yang mubtadi (pemula) dan yang menghafadzhkan (menghafalkan) dia bahwa kepada Allah jua kita meminta tolong akan ketetapan di dalam agama yang sebenarnya yaitu agama Islam dengan berkat Nabi Sayyidil Mursalin wa ‘Ala Alihi wa Sahbihi Ajma’in.”

Beliau menggunakan metode tanya-jawab guna dapat diingat bagi para pembacanya serta dapat membentuk pemikiran-pemikiran kritis. 

Beliau menerangkan tujuan penulisan kitab ini sama dengan arti dari judul kitab tersebut, yakni memberikan penjelasan atau jawaban atas segala masalah bagi mereka yang baru belajar, khususnya mengenai ilmu akidah dan fikih. 

Akan tetapi, kitab ini tidak hanya diperuntukkan bagi para pemula saja, melainkan juga bagi mereka yang sudah mempelajari ilmu tersebut dan berguna untuk menjawab pertanyaan seseorang dengan jawaban yang sederhana dan mudah dimengerti.

Selain itu, mempelajari ilmu akidah dan fikih tidak hanya diwajibkan bagi mereka yang tinggal di pondok pesantren saja, tetapi juga bagi seluruh muslim di manapun berada. Adapun dalam mempelajari suatu ilmu, khususnya ilmu akidah dan fikih diwajibkan mempunyai atau belajar kepada guru yang jelas akan sanad keilmuannya.

Pada akhir zaman ini, banyak sekali manusia yang mengaku muslim, tetapi enggan menjalankan syariat agama Islam. Mereka sering kali mengabaikan serta menyepelekan perintah Allah SWT, meskipun pada dasarnya mereka mengetahui akan hukum perbuatan yang dilakukannya. Bahkan mereka merasa cukup menjadi seorang muslim dengan mengandalkan ucapan kalimat syahadat saja. 

Akan tetapi, mereka lupa untuk memperhatikan empat perkara sah syahadat, yaitu mengetahui, mengikrarkan, membenarkan, dan mengamalkan makna yang terkandung dalam kalimat syahadat.

Sebagaimana yang penulis sampaikan, saat ini banyak muslim yang menormalisasikan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, baik yang hukumnya tertera dalam dalil al-Qur’an maupun tidak. 

Contohnya seperti mendukung atau bahkan menjadi bagian dari kaum LGBTQ+, berzina, mengadu domba, korupsi, mengkonsumsi makanan atau minuman haram, dan lain sebagainya. 

Hal tersebut tidaklah mencerminkan pribadi seorang muslim, karena hal tersebut jauh dari empat perkara tanda sebagai seorang Islam, yaitu rendah diri terhadap sesama muslim, suci lidahnya daripada perkataan dusta, suci perutnya daripada memakan yang haram, dan suci badannya dari pada sifat tamak. 

Begitu pula dengan perkara syarat Islam, salah satunya adalah mengikuti firman Allah Swt dan sabda Rasulullah saw serta menjauhkan segala larangan keduanya.

Lalu, mempelajari ilmu fikih juga sangat penting bagi setiap muslim, mengingat dalam beragama tidak lepas dari yang namanya ibadah, baik berupa ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah

Setiap muslim wajib mengetahui pelbagai jenis hukum dalam Islam, seperti rukun, fardhu, syarat, dan segala perkara yang dapat membatalkan ibadah tersebut. Adapun kewajiban dalam beribadah ialah mensucikan diri, seperti wudhu untuk perkara hadas kecil dan mandi junub untuk hadas besar. Dalam perkara mandi junub, setiap muslim pasti memiliki syarat atau alasan yang menjadikan dirinya wajib untuk melakukan hal tersebut. 

Oleh karena itu, kita wajib mempelajari apa saja perkara yang mewajibkan mandi junub, baik hukum fardhu maupun sunnahnya. Dikarenakan mandi junub menjadi salah satu kunci apakah ibadah yang kita lakukan sah atau tidak.

Selanjutnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Husein bin Thahir dalam kitab Sullamut Taufiq bahwa terdapat kewajiban bagi para mukallaf, yaitu muslim yang baligh, berakal, dan telah diberi beban hukum atas perbuatannya, untuk senantiasa mengingatkan muslim lainnya dalam melaksanakan kewajibannya dengan benar. 

Adapun bagi mukallaf yang tidak mampu mengajak orang tersebut, maka wajib baginya untuk mengingkari hal tersebut dalam hati. Tidak hanya berkewajiban dalam menjauhi segala perkara yang diharamkan, para mukallaf juga wajib menjauh dari tempat maksiat.

Seyogyanya, para orang tua mulai mendidik anak-anaknya untuk mempelajari ilmu akidah dan fikih sejak dini. Dengan alasan karena ketika mereka telah mencapai akil baligh atau telah mukallaf, mereka telah dapat mengetahui tuntutan syariat yang wajib mereka lakukan dan tinggalkan serta mengetahui pula akan hukum dari setiap perbuatan tersebut. 

Menurut Yazid Muttaqin dalam artikelnya, Ia menjelaskan bahwa bagi anak-anak yang telah mencapai akil baligh tetapi mereka belum mengetahui tata cara berakidah dan beribadah kepada Allah, maka orang tuanya pun ikut menanggung akibat dari kesalahan tersebut. 

Hal ini disebabkan kelalaian orang tua yang tidak memperhatikan dan tidak memberikan ilmu agama yang cukup kepada sang anak sejak dini.

Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim alangkah baiknya kita senantiasa belajar serta mengamalkan ilmu-ilmu yang dijadikan pondasi dalam beragama yang dimulai dari ilmu fikih dan akidah sejak dini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Abu Bakar as-Shidiq bahwa tanpa ilmu, amal tidak ada gunanya. Sedangkan ilmu tanpa amal adalah hal yang sia-sia.

 Wallahu a’lam.