Penulis
9 bulan lalu · 61 view · 4 min baca menit baca · Agama 24639_30737.jpg
Pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) di Ambon, Maluku.

Beragama yang Baik, Membantu tanpa Menghakimi

Kisah para aktivis sosial yang melawan eksklusivitas agama

Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

Nampaknya, kalimat bijak dari Presiden RI ke 4 Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, tak lagi berlaku saat ini. Sebaik apapun perbuatannya, semua akan percuma kalau agamamu berbeda. Contoh nyata saya temukan di postingan berikut ini: klik.

Unggahan tersebut menceritakan tentang turis dari Norwegia yang memilih tinggal di Lombok, membantu korban bencana, dibandingkan pulang ke tanah airnya. Ceritanya membuat hati kita hangat. Tetapi ketika membaca komentar di bawahnya, saya terhenyak.

Di kolom komentar, banyak orang yang mendoakan semoga dermawan itu mendapat hidayah dan menjadi mualaf. Beberapa bahkan terang-terangan menyayangkan karena kebaikannya hanya mendapat balasan di dunia, tak berarti di akhirat dengan dalih memeluk agama kafir.

Lain ladang, lain pula cerita. Sekelompok masyarakat menolak memberikan kembalian belanja sebagai sumbangan di toko kelontong modern. Musababnya, sumbangan itu akan diserahkan ke Unicef dan digunakan untuk membiayai penyediaan air bersih yang kebetulan akan dirasakan oleh masyarakat beda agama dengan penyumbang.

Agama manapun selalu mengajarkan kebaikan kepada sesama sebagai pengabdian terhadap Sang Pencipta. Tak ada satupun ajaran agama yang melarang untuk membantu makhluk lain. Lantas, apa yang membuat sebagian umat beragama menjadi demikian eksklusif? Memilah pilih, mana yang dibantu dan mana yang tidak.  

Inklusivitas dalam Beragama

Bulan Juli 2018 lalu, saya bergabung di kepanitiaan Indonesia Development Forum (IDF) 2018. Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, para inovator, dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Di sini, saya menemukan banyak cerita inspiratif dari para  aktivis sosial yang tidak membeda-bedakan siapa yang bakal ditolong atau pun siapa bersedia menolongnya.

Sebut saja Nani Zulminarni, Direktur Eksekutif Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), lembaga yang mendampingi para perempuan kepala keluarga agar bisa mengakses layanan publik dengan layak. PEKKA aktif di 20 provinsi, 65 kabupaten , 220 kecamatan dan 850 desa. Mbak Nani dengan tim PEKKA-nya membantu para perempuan bisa mandiri dan berdaya tanpa memandang suku dan agama.

Berdasarkan penelitian PEKKA, satu dari empat keluarga di Indonesia dikepalai oleh perempuan. Sedangkan sebanyak 70 persen keluarga yang dikepalai oleh perempuan berkubang pada kemiskinan. Bisa disimpulkan mayoritas kemiskinan di Indonesia berasal dari keluarga  yang beban hidupnya ditanggung perempuan.

Padahal, tahukah anda, Mbak Nani pernah mengalami diskriminasi--ditolak setiap melamar pekerjaan meski hasil tes gemilang-- di akhir tahun 80-an lantaran menggunakan jilbab. Namun pengalaman buruk itu tak membuatnya jera membantu orang lain. Jauh berbeda dengan oknum yang mempertanyakan agama orang lain padahal hijrah hanya baru-baru ini.    

Ada juga seorang ibu yang membuat saya kagum, pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakayatan Tri Mumpuni. Di puluhan desa terpencil, dia membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebagai sumber energi listrik dengan memanfaatkan potensi energi air di wilayah setempat untuk menggerakkan turbin. Di IDF 2018, Bu Tri menjelaskan mengenai modal sosial untuk mengatasi kesenjangan daerah. Tanpa pemikiran yang inklusif, tak membedakan identitas satu sama lain, pembangunan yang merata akan sulit terwujud.

Dia mencontohkan saat membangun pembangkit listrik di sebuah desa terpencil di pegunungan NTT. Kendaraan tak bisa mengangkut mesin pembangkit ke puncak gunung. Masyarakat kemudian bahu membahu mengangkat mesin itu dari lembah ke puncak gunung seraya mengaturkan puji-pujian kepada sesembahannya. Cara ini tentu berbeda dengan keyakinan yang Bu Tri anut. Tak jadi soal, karena pembangunan perlu mendengar aspirasi masyarakat bukan memaksakan. 

Kisah serupa ini juga dirasakan oleh pendiri Common Room, Gustaff Hariman Iskandar,  saat mendampingi masyarakat adat Ciptagelar, Jawa Barat. Masyarakat Ciptagelar erat dengan budaya dan tradisi yang berhubungan dengan ritual perawatan padi. Tata cara bercocok tanam sangat melekat dengan sistem kepercayaan di sana terutama yang berkaitan dengan pemuliaan Sang Hyang Sri. Tradisi bertani mereka menghasilkan padi yang berlimpah di saat daerah lain gagal panen.

Berkat kerja sama antara tim Gustaff dan masyarakat adat Ciptagelar, kearifan lokal di bidang pertanian akhirnya bisa mengudara dengan teknologi digital. Artinya, kerja sama tanpa membeda-bedakan suku, agama, dan keyakinan bisa menjadi modal dalam mengatasi masalah kemanusiaan.

Ada juga cerita menarik dari Indonesia timur. Komunitas Heka Leka di Ambon yang bergerak pada bidang pendidikan. Pendirinya, Stanley Ferdinandus,  adalah korban kerusuhan akibat konflik agama di Ambon, 1999 dan 2001.  Dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kekerasan dan kerusuhan berlangsung di sana hanya karena tak mampu menerima perbedaan. Kekerasan dan kerusuhan yang mengakibatkan anak-anak tersendat. Bahkan, kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Mereka tak ingin anak-anak Maluku yang sekarang mengalami hal yang sama.

Tak ingin mengulang sejarah kelam, dia dan relawan lain mencoba memperbaiki kualitas pendidikan anak-anak terlepas memilik keyakinan apapun. Bagi dia, generasi yang berpikiran terbuka dan berpendidikan tentu akan menghindari konflik dan mampu mengatasi masalah sosial lain.

Kisah lain dari tiga perempuan muda yakni Azalea Ayuningtyas, Melia Winata, dan Hanna Keraf yang memberdayakan para ibu dari kelompok miskin di Nusa Tenggara Timur lewat social enterprise yang diberi nama Du’Anyam, artinya ibu yang menganyam.  Ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya mengurus keluarga dan ternak akan semakin produktif sehingga menambah pemasukan keluarga.

Dari riset juga, Du' Anyam melihat uang yang masuk ke perempuan akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan gizi dan pendidikan buah hati dibandingkan ketika masuk ke laki-laki. Dengan usaha ini, para ibu itu tak hanya meningkatkan pendapatan keluarga menjadi rata-rata 40 persen tetapi juga mempunyai posisi yang setara dengan suaminya.

Sejatinya, masih banyak kisah aktivis yang menarik dan menginspirasi di IDF 2018. Saya tak bisa menulis satu per satu di sini. Namun yang pasti, ada persamaan dari mereka saat membantu membantu orang yang berbeda dengan dirinya. Tentu bukan persamaan agama, suku, atau jenis kelamin melainkan sikap inklusif, lawan dari eksklusifitas beragama.

Saya tak bisa menilai apakah mereka masuk surga atau tidak karena hanya Tuhan yang berhak menilai umatnya.  Tapi yang pasti, saya yakin mereka orang yang taat, terlihat dari bagaimana cara menjalin hubungan sesama manusia.

“No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.” Nelson Mandela

Artikel Terkait