Penikmat kopi
1 minggu lalu · 73 view · 3 min baca menit baca · Agama 94406_64149.jpg
Foto: Tempo

Beragama Lebih dari Pemeluk

Seperti biasa, saya menghabiskan segelas kopi yang terhidang. Di depan ada layar notebook. Ya, saya menyaksikan info yang timeless dan aktual. Ada yang aktual bin fakta, ada juga yang sekadar nyinyir dan berkadar hoaks.

Tiba-tiba jemari saya tertuntun untuk menulis usai menyimak beberapa penulis maupun warganet yang ‘gentayangan’ dengan perspektif masing-masing; masih seputar soal agama dengan ragam isu.

Secara prinsipil, agama memang lekat dengan hak asasi. Ia adalah keyakinan yang melibatkan tata nilai, moral, dan religiositas, juga komplet dengan panduan (baca: kitab suci) maupun dalil-dalil tertentu untuk menguatkan legitimasi keyakinan pemeluknya. Sehingga agama begitu sensitif, seolah ia adalah nafas dari kedirian pemeluknya.

Wajar saja, pemeluk agama tertentu mudah saja tersulut tatkala agamanya disindir, disinggung, atau ‘ditikung’. Wajar, sah-sah saja. Yang jadi soal, jangan sampai kepekaan soal agama ini tak paralel dengan kadar pemahaman dan kecintaan dalam beragama.

Pahaman saya, mencintai agama letaknya bukan pada soal kultus atau puja-puji. Letaknya ada pada implementasi kecintaan kita pada Tuhan dan manusia. Mencinta Tuhan dan manusia adalah perwujudan kadar kecintaan kita terhadap agama.

Anda bisa saja dikatakan beragama ketika tersulut emosi manakala penanda agama Anda diganggu. Tetapi, secara eksplisit, Anda belum tentu mencintai agama. Bukankah mencintai itu bukan sekadar urusan peluk-memeluk? Terlebih melegitimasi kecintaan Anda dengan dalil ‘saya sebagai pemeluk!’. Tidak, itu kecintaan yang dangkal!

Bicara cinta, menarik untuk sedikit menukil Gabriel Marcel dalam fatwa-fatwanya. Ia mengatakan cintalah yang memanggil manusia untuk mengadakan hubungan eksistensial. Cinta bukanlah perasaan emotif, tapi menjadi inti kehidupan yang berproses dalam hubungan manusia.

Lebih utuh, bisa ditarik sebuah konklusi dari pemikiran Gabriel, cinta bisa menjadi sentral dalam sebuah relasi sehingga aku dan engkau menjadi satu komunio, aku dan kau menjadi berpadu hati sebagai kami. Cinta adalah entitas yang transenden melampaui keakuan dan keengkauan. Dengan cinta, manusia keluar dari dirinya dan memeluk yang transenden yang terlampaui olehnya.

Beragama dengan cinta adalah menghadirkan kesejukan dan rasa persamaan. Bukan menganggap yang satu sebagai bagian yang lain. Perbedaan keyakinan jangan dijadikan alasan untuk lebih jauh menghakimi atau mendaulat sebagai diri yang benar.

Wanita Katolik bawa masuk anjing ke masjid tak meletup jika seandainya ia adalah seorang Muslim. Ini bilamana kalau saya diizinkan untuk berandai-andai; tak ada salahnya, kan? 

Bila pun Anda marah pada ‘kengawuran’ ini, silakan! Saya hanya coba menghadirkan perbandingan dari perisitiwa yang ada. Toh, kita sebagai orang Islam saja seakan menganggap biasa ketika pencurian sandal di masjid jadi marak. Apa bedanya dengan kasus ini?

Saya ingin mengatakan bahwa keberagamaan kita terkadang masih terlalu menganggap sebagai diri yang maha benar. Terlalu mendaku, sehingga engkau sebagai bagian di luar keakuan kita dianggap sebagai beda yang bisa saja dihakimi. Padahal, dalam dalil Tuhan, perbedaan sengaja diciptakan untuk saling mengenal. Ada pesan persaudaraan dan toleransi yang hendak disampaikan Tuhan pada konteks perbedaan.

Tak hanya wanita Katolik yang dihakimi, pun juga senasib dengan mereka yang dituding pro. Mereka ikut dihakimi, dianggap pro dengan wanita itu. Seperti inilah fakta sosial di lingkaran kehidupan kita. Sangat begitu mudahnya menghakimi.

Palu vonis itu adalah sesuatu yang sakral. Jangan mudah dijatuhkan untuk membuat keputusan-keputusan. Apalagi kita memvonis dengan nalar.

Saya jadi khawatir bilamana akal dinodai kesuciannya sebagai bagian yang paling disebut-sebut juga Tuhan dalam dalil beragama. Ulil albab adalah orang yang berakal, diharapkan oleh Tuhan untuk memakai akal sebagai alat berpengetahuan. Bukan untuk nyinyir dan ikut-ikutan menyebar hoaks. Jangan main-main dengan akal!

Ah, kopi saya tak terasa sudah tinggal beberapa tetes lagi. Sudah tak kuasa menemani untuk terus menulis pikiran-pikiran. Masih begitu banyak hal yang ingin disampaikan pada tulisan. Apalah daya, saya juga bukan orang terlalu jauh memahami agama. Karena itu, keakuan saya untuk mendikte diri sebagai yang benar dalam beragama, malu rasanya. Jauh!

Yang saya inginkan, hendaknya dalam nuansa keberagamaan kita menghadirkan akhlak sebagai bagian yang tak terpisahkan dari fikih. Apalagi sudah tak berfikih juga tak berakhlak, bagaimana mungkin kita merepresentasikan diri sebagai orang yang agamis?

Almarhum kakek saya yang puluhan tahun salat saja, dan hafal ayat-ayat panjang, masih tak sedikit pun terdengar ucapannya untuk berkata ‘sesat, kafir’. Apalagi ritus keagamaan kita yang masih diragukan intensitasnya. Ini bukan riya’ dan ikut menyombongkan kealiman sang kakek. Saya hanya ingin agar siapa pun yang beragama dan mudah memvonis untuk lebih giat muhasabah diri.

Sudahilah semua pertikaian menyangkut agama, meski itu sebatas keributan di media sosial. Jangan mudah tersulut! Memahami informasi lebih penting ketimbang menelan mentah-mentah. Mari kita hadirkan pesan damai dan toleransi dalam beragama.

Dalam ajaran agama, mendidik dan menjadikan diri sebagai orang yang benar itu yang tepat. Bukan menjadi benar ketika mengatakan yang lain salah! Titik. Kopi habis. Kretek pun ikut habis.

Artikel Terkait