"Viral! Suara ikan paus menangis di laut Aljazair, dan Mesir. Pertanda apakah ini? Peringatan bagi manusia bahwa kiamat sudah dekat. Mari bertobat!”

Begitu kiriman seseorang dalam sebuah grup di WhatsApp (WA) milikku. Kemudian ada pula posting video lautan di luar negeri yang di dalamnya terdengar suara aneh. Mungkinkah itu suara ikan paus?

Bagi yang menanggapi dengan wajar akan hanya berkomentar; belum tentu ikan paus menangis, namun lagi menyanyi atau mungkin ikan paus lagi memanggil teman-temannya untuk bermain.

Tapi bagi yang percaya berita itu mungkin akan langsung berujar; iya, kiamat sudah dekat. Azab Allah akan turun, hingga bencana akan terjadi di mana-mana (lagi).

Bukan cuma posting ikan paus itu yang lagi "diviralkan". Sebelum-sebelumnya, di dalam negeri sendiri, bencana-bencana alam seperti gempa, tsunami, sampai banjir (walau itu terkadang berita yang telah terjadi tahun lalu) akan muncul ulang sebagai informasi atau berita bahwa telah terjadi suatu bencana. 

Ada juga posting berita fenomena-fenomena alam, misalnya,l meteor akan jatuh (padahal yang terjadi gerhana matahari dan bulan) dan ujungnya-ujungnya, si penyebar berita akan menyuruh untuk, “Marilah kita bertobat, karena kiamat sudah dekat.” 

OMG, Hellow, jadi takut banget, kan? Gimana kalau kita tiba-tiba mati karena bencana-bencana alam tadi, dan fenomena-fenomena alam, bisa-bisa kita mati konyol dong. Apalagi, ini terjadi di seluruh dunia. Takut…

Haruslah Kita Tobat katena Rasa Takut Tadi?

Dalam Islam, tobat merupakan pengakuan akan kesalahan, dan berjanji pada Tuhan tidak akan melakukannya lagi. Tobat dilakukan dengan mandi dan salat tobat. 

Tobat atau pertobatan dilakukan ketika kita “merasa” melakukan suatu dosa besar. Jika hanya dosa kecil, cukup beristigfar, astagfirullah. Namun, dosa kecil juga bisa menjadi besar ketika kita mengulangnya dengan terus-menerus (katanya).

Contoh dosa besar, misalnya, melakukan syirik dengan “menyembah” orang dalam kubur mungkin, bukan hanya berziarah kubur saja. Atau merasa berdosa sekali karena melakukan sesuatu hal yang dilarang agama. 

Tetapi, persepsi tiap orang bisa saja berbeda ketika berdosa dan melakukan pertobatan.

Namun hari gini, apakah kita disuruh tobat karena bencana-bencana alam dan fenomena-fenomena alam? Oh, bukan. Maksudnya, supaya kita sadar, kalau dosa-dosa kita banyak. Kita adalah mahluk yang penuh dosa alias bergelimangan dosa.

Emang kita habis buat apa sih? Dosa yang besar dan universal? Korupsi miliaran rupiah? Buang sampah sembarangan yang membuat banjir? Atau, dosa kita yang kecil dan pribadi? Marah sama bapak yang selingkuh? Menonton “film biru” untuk konsumsi sendiri? Dan lain sebagainya. 

Terus, orang yang menyebarkan berita atau info-info yang menakutkan tadi yang membuat kita stres dan pesimis pada kehidupan, apakah tidak berdosa dan harus bertobat? Orang-orang yang membuat kita malu dan aneh akan kereligiusan, ketidak-aliman kita karena menganggap berita-berita tadi seperti fenomena alam (hanyalah) sunatullah yang memang akan terjadi dan bencana alam (pasti) akan terjadi karena kelalaian diri kita sebagai manusia si perusak lingkungan, apakah mereka tidak berdosa dan harus bertobat?

Tak Bisakah Beragama Tanpa Rasa Takut?

Meminjam istilah Irshad Manji, seorang intelektual Muslimah Kanada dari bukunya yang berjudul Beriman Tanpa Rasa Takut, mengapa kita tetap beriman atau dan beragama dengan rasa takut, mengapa kita tidak bisa seperti Irshad Manji yang beriman tanpa rasa takut?

Bukankah Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan karena cinta-Nya pada Rabb, Tuhan, mengatakan; “Demi Allah, aku tidak beribadah kepadamu karena berharap pada surga-Mu dan takut pada neraka-Mu, tetapi karena aku cinta kepada-MU."

Atau ajaran Syeh Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula Gusti, yang menyerahkan segala urusan kehidupannya ke Tuhan. Tanpa takut akan "persepsi dan perlakuan" dari Wali Songo.

Dunia memang mau kiamat. Sudahkah kita berpikir untuk menjadi manusia yang lebih baik yang hidup di dunia untuk mengelola alam dan memperlakukannya dengan baik? 

Tapi, menurutku, tidak usah jauh-jauh dulu. Kita harus menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang lebih baik, lebih humanis, seperti kata buya Ahmad Syafii Maarif (ASM) yang juga menjadi prinsip Maarif Institute (for Culture and Humanity); Egaliter, Non-Diskriminasi, Toleran, dan Inklusif.

Sudahkah kita menjadi seperti itu? Karena hari ini, kita selalu merasa sebagai mayoritas yang bisa seenaknya memperlakukan minoritas. Egaliter adalah persamaan derajat pada diri setiap manusia. Setiap manusia mempunyai derajat yang sama di hadapan Tuhan tanpa dibedakan berdasarkan apa-apa. Misalnya, baik itu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), baik kaya atau miskin, dan lain sebagainya. 

Non-Diskriminasi merupakan konsep hidup atau sikap, perlakuan yang adil terhadap orang lain, tanpa membeda-bedakan satu dengan lainnya. Toleran merupakan suatu keadaan di mana kita bisa menerima keadaan lainnya. Misalnya, kita menerima, mau berteman dengan pemeluk agama yang berbeda dengan kita. Inklusi berarti mengajak masuk atau mengikutsertakan yang merupakan suatu cara hidup yang terbuka, dan dinamis (fleksibel).

Setelah menjadi manusia sehakikatnya. Alam juga "berbahagia" melihat umat manusia hidup dengan damai dan rukun. Kita pun harus selaras dengan alam dengan betsama-sama tidak merusak lingkungan dengan ikut menjaga lingkungan. Contoh sederhananya, tidak membuang sampah di saluran air atau got karena dapat membuat banjir ketika saluran air tersumbat.

Sedekah pada alam (laut dan gunung) yang masih dilakukan oleh beberapa masyarakat, suku tertentu adalah suatu hal selaras dengan alam. Ritual pada laut, atau mambaca dio sasi (berdoa pada laut) masih diselenggarakan di kampungku, Mandar, Sulawesi Barat, semoga, ritual ini masih akan terus berjalan seiring bertambahnya zaman dan banyaknya “aliran-aliran” yang menolaknya.

Ada pendapat yang sederhana namun mengena, ketika kita melakukan sedekah laut kita ikut memberi makan ikan di laut secara tidak langsung (bisa jadi). 

Lalu, ketika kita melakukan ritual sedekah bumi, bukan untuk menyembah pohon atau gunung, namun rasa syukur kita pada Tuhan yang telah memberikan rezeki lewat alam tadi. Sekaligus, kita ikut mengingat ada mahluk lain yang bersama dengan kita menempati bumi ini. 

Kenapa kita merasa memiliki bumi ini sendiri? Walaupun kita khalifah atau pemimpin, namun menurutku, kita harus mengakui ada makhluk lain yang diciptakan Tuhan di bumi ini. Dan pada akhirnya, kembali kepada Tuhan haruslah dengan cinta sebagai seorang hamba pada sang Maha Cinta (tanpa rasa takut lagi), namun karena benar-benar mencintai- Nya, mencintai ciptaan-Nya dan makhluk-Nya.

Semoga, ketakutan-ketakutanku ini bisa menjadi pelajaran dan pengalaman melihat berbagai postingan di media sosial (bagiku) menjadi sesuatu yang positif bahwa fenomena-fenomena alam adalah sunatullah, ketetapan Tuhan dan bencana-bencana alam mungkin juga terjadi karena "kezaliman" manusia pada alam.

Sebagai " binatang berakal" semuanya, bisa kita cari tahu asal-usul berita dan informasinya lalu mencari tahu apa yang harus kita lakukan lewat diskusi, dialog, tanpa harus menyebarkan dan menakuti-nakuti bahwa inilah ada dan nyatanya. Bukankah kita manusia yang diberikan akal dan pikiran? Tanpa harus membuat "bencana" sendiri dari  postingan yang menakutkan.