Secara bahasa kata Islam berasal dari bahasa Arab yang diambil dari kata salima yang mempunyai arti “selamat”. Dari kata salima tersebut terbentuk kata aslama yang memiliki arti “menyerah, tunduk, patuh, dan taat”.

Sebab itu orang yang melakukan aslama atau masuk Islam dinamakan muslim, berarti orang itu telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan patuh kepada Allah SWT. Orang yang melakukan aslama akan beroleh keselamatannya di dunia dan di akhirat.

Selanjutnya dari kata aslama juga terbentuk kata silmun dan salamun yang berarti “damai”. Maka Islam dipahami sebagai ajaran yang cinta damai. Karenanya seorang yang menyatakan dirinya muslim harus damai dengan Allah, sesama manusia, dan sesama mahluk (alam raya beserta segenap isinya).

Secara sosiologis, Islam adalah sebuah fenomena sosio-kultural. Eksistensi Islam antara lain sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial di mana ia tumbuh dan berkembang. Sebagai konsekwensi, dinamika Islam dalam sejarah peradaban umat manusia sangat ditentukan oleh pergumulan sosial yang dilaluinya.

Menilik sejarah awal perkembangan Islam di Indonesia, ajaran-ajaran Islam telah banyak memperoleh bentuk penerimaan budaya lokal. Islam sebagai agama memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain yang datang sebelumnya.

Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia.

Di sisi lain budaya-budaya lokal yang ada di masyarakat, tidak otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya lokal ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan tersebut kemudian yang dinamakan “akulturasi budaya”, antara budaya lokal dan Islam.

Bila dilihat hubungan antara Islam dengan budaya, menurut Azyumardi Azra, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas, yakni; (a) Islam sebagai konsepsi sosial budaya, dan (b) Islam sebagai realitas budaya.

Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi lokal), yang dipengaruhi Islam.

Great tradition adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen, atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola bertindak umat Islam.

Little tradition adalah realm of influence, kawasan-kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam great tradition itu. Tradisi lokal ini mencakup unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian budaya, yang meliputi konsep, norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karya-karya yang dihasilkan masyarakat.

Islam sama sekali tidak menolak tradisi atau budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Karenanya dalam tradisi Islam, dikenal salah satu metode melakukan ijtihad yang disebut ‘urf, yakni penetapan hukum dengan mendasarkan pada tradisi yang berkembang dalam masyarakat.

Dengan cara ini berarti tradisi dapat dijadikan dasar penetapan hukum Islam dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang tertuang dalam al-Quran dan hadits Nabi saw. Dalam konteks pemahaman itulah para ulama sejak awal ikut menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekan, mempertahankan, dan membangun bangsa Indonesia.

Tetapi itu masa lalu! Persoalannya, dapatkah generasi islam saat ini dan beberapa kurun waktu ke depan mempertahankan identitas dan karakter bangsanya dalam percaturan global?

Era globalisasi sejak awal abad kedua puluh satu ini telah melahirkan tantangan yang berat bagi bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia. Untuk tetap eksis maka bangsa Indonesia harus mempertahankan identitasnya dan karakternya di tengah pergumulan yang kompleks itu.

Bangsa yang tidak memiliki identitas dan karakter serta hanya mengekor pada bangsa lain dalam sistem nilai, budaya, dan pemikiran, adalah bangsa yang tidak akan mampu untuk survive dalam percaturan global.

Kuat lemahnya karakter suatu bangsa jelas berawal dari kualitas individu-individu yang membentuknya. Jika individu-individu pada bangsa itu telah baik maka bangsa yang bersangkutan telah memiliki modal sangat besar untuk maju.

Umat Islam Indonesia harus mengambil bagian dari upaya pembentukan individu-individu berkuatlitas yang memiliki kemampuan mempertahankan identitas dan karakter bangsanya. Bukan sebaliknya, menjadi bagian dari upaya-upaya penghancuran identitas dan karakter bangsa.

Jika boleh, penulis ingin menyebut individu-individu berkualitas yang memiliki kemampuan mempertahankan identitas dan karakter bangsa itu dengan istilah “insan pancasila”, yakni mereka yang berkesadaran dan berkepribadian pancasila yang termanifestasi dalam sikap dan prilaku sehari-hari, serta bakti dan karyanya.

Generasi Islam ke depan mestinya dapat mengambil peran dan menjadi bagian dari upaya mulia memperthankan identitas bangsa dan membangun karakter bangsa. Generasi Islam kini dan ke depan mestinya malu jika mereka justru tercatat dalam sejarah bahwa di tangan merekalah Indonesia kehilangan identitas dan karakternya.

Di saat yang sama juga Generasi Islam mestinya malu jika tercatat dalam sejarah bahwa melalui tangan merekalah di Indonesia ini Islam menemukan kehancurannya, dalam pengertian Islam tidak memberi manfaat yang berarti bagi bangsa dan Negara.

Wawasan keagamaan dan kebangsaan harus bersinergi. Azas rahmatan lil ‘alamin menegaskan makna tentang betapa urgennya membangun relasi antara Islam dengan budaya, pada ruang dan waktu di mana pun ia berada. Ibarat sebiji bulan yang memendarkan cahaya, dan cahaya tersebut menyentuh bumi tanpa penolakan.

Great tradition (rahmatan) harus terurai ke dalam ruang-ruang little tradition (al-‘alamin). Mengurainya tidak semudah merangkai keduanya dalam sebuah kalimat. Olehnya itu, keasadaran rahmatan lil ‘alamin masih perlu ditopang oleh instrumen akhlaq al-karim dan ‘amalun shalihan.

Islam mesti dibuktikan melalui etik dan moral yang terpuji (akhlaq al-karim) serta karya nyata (‘amalun shalihan), serta dibarengi aktivitas-aktivitas dan karya-karya positif nan konstruktif (‘amalun shalihan) dalam lingkungan sosio-kultural dimana ia berada.

Memasuki 2019, umat beragama, sebagai warga Negara, sebagai anak bangsa, mari kita bertanya pada diri kita masing-masing. Bagaimana mungkin kita mengaku sebagai bangsa beragama yang percaya pada Tuhan, jika agama itu tidak memberi rahmat (damai sejahtera) ke dalam ruang-ruang kebangsaan dan kebudayaan?

Juga, bagaimana mungkin kita mengaku sebagai bangsa berbudaya jika kebudayaan yang kita konstruk justru menjadi mesin arogansi yang mengantar kita semakin jauh pada Tuhan, bahkan mungkin menjadi senjata pembunuh Tuhan?” Wallahu a’lam.