Kematian yang tiba-tiba menyergap dalam kehidupan seorang yang kita cintai, seolah menempatkan kematian seperti Dementor (mahluk menakutkan penjaga penjara Azkaban dalam novel/film Harry Potter) yang menakutkan siapa pun karena siap mengoyak kebahagian dan merampas kebersamaan. Kematian seperti letusan Gunung Vesuvusius (79 Ms) yang mengubah keindahan dan kegairahan menjadi kesedihan dan kemurungan yang memenuhi hari-hari yang dijalani.

Kematian menghadapkan manusia dengan sebuah problem eksistensial. Cara berada manusia terhadap kematian mengambil bentuk yang berbeda-beda. Sementara orang mengambil sikap mengabaikan dan acuh tidak acuh. Mereka melarutkan diri dengan kehidupan saat ini di sini dan tidak ingin membicarakan kematian sebagai sebuah kenyataan.

Ada pula yang begitu takut menyongsong kematian sehingga hidup dipenuhi dengan penantian kematian melalui banyaknya ritual agama yang dijalani demi memastikan dirinya berada di mana saat kematian.

Ernest Becker dalam bukunya The Denial of Death mengkritik masyarakat Barat yang acuh tidak acuh terhadap kematian. Dengan mereka menyibukkan diri pada masa kini, seolah mereka menutupi rasa takutnya terhadap kematian (Yeremias Yena, "Martin Heideger Mengenai Mengada Secara Otentik dan Relevansinya Bagi Pelayanan Kesehatan", Jurnal Melintas, 2015:108).

Para filsuf Abad Pencerahan menolak membicarakan kematian sebagai bagian dari pemikiran Abad Pertengahan. Sebutlah Baruch Spinoza yang berkata, "free man should think of nothing less than death because wisdom in the modern era is focused on contemplations about life, not death" (manusia bebas seharusnya memikirkan bukan selain kematian karena kebijaksanaan di era modern difokuskan pada perenungan tentang kehidupan, bukan kematian - Zohreh Shariatina, "Heidegger's Ideas About Death" - Science direct.com).

Namun bisakah kita mengabaikan kematian ketika kita melihat fakta kematian massal yang mengoyak eksistensi kemanusiaan kita mulai peristiwa "Wabah hitam"  (1347 – 1351), yaitu sebuah pandemi penyakit yang membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa? Bisakah kita berpura-pura terhadap kematian dengan peristiwa genosida yang menghabisi populasi Yahudi di Eropa melalui pogrom Hitler?

Bagaimana mungkin kita melupakan kematian saat Perang Dunia 1(1914-1918) telah mengambil 40 juta nyawa dan Perang Dunia 2 (1939-1945) merampas 63 juta nyawa?

Adalah Heideger, seorang filsuf Jerman yang memberikan ruang pembahasan cukup panjang lebar dan serius perihal kematian dalam bukunya yang terkenal sekaligus sulit dibaca, yaitu Seit Und Zeit (Diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Being and Time). 

Menurut F. Budi Hardiman, "Heidegger adalah salah satu filsuf Barat yang merenungkan kematian secara radikal dan menempatkannya di pusat eksistensi manusia" (Heideger dan Mistik Keseharian, 2016)

Lantas, bagaimana konsep Heidegger perihal kematian? Jika keterlibatan manusia di dunia disebut dengan istilah "In-der-Welt-sein" (Being in the world - Berada di dalam dunia), maka keberhentian eksistensi manusia dipergunakan istilah, "Sein zum tode" (Being toward death - Berada menuju kematian)

Bagi Heidegger, mengada secara otentik adalah mengada sebagai keseluruhan. Dalam cara mengada secara keseluruhan, "Dasein" (nama lain untuk "Manusia") mengada di dalam dunia bersama yang lain namun tidak pernah menjadi yang lain. Melalui suara hati (conscience) dan kekuatiran (angst), Dasein berupaya membebaskan diri dari kejatuhan serentak menerima keberadaannya sebagai ada menuju kematian.

Artinya, kematian adalah bagian konstitutif dari struktur Dasein, sekalipun Dasein terkadang menolak memikirkannya. Menjadi Dasein yang otentik adalah menerima kematian sebagai bagian dari keberadaan dirinya semenjak dia lahir. 

Dasein seharusnya menyongsong kematian sebagai kemungkinannya sendiri. "Death is in any way possible in manual or hegemony, but it is the possibility of Existence” (Kematian dengan cara apa pun dimungkinkan secara manual ataupun hegemoni, namun itu adalah kemungkinan Eksistensi - Heidegger, 2014, p. 335).

Heidegger memang tidak mengajarkan apapun soal dunia sesudah kematian karena ia bukan seorang teolog melainkan filsuf yang berusaha memahami kematian sebagai bagian dari struktur ada manusia. 

Setidaknya Heidegger telah mengajak kita memahami bahwa kematian dan kehidupan adalah sebuah struktur yang telah melekat pada diri manusia. Kematian adalah sebuah kemungkinan untuk tidak lagi mampu merealisir kemungkinan-kemungkinan di masa depan sebagai manusia.

Kesadaran bahwa dalam kehidupan telah dilekati kematian akan membuat seseorang melihat kenyataan secara utuh. Kehidupan tidak berhenti hanya di sini dan kini, melainkan di sana dan nanti.

Karena filsafat tidak memberikan jawaban perihal kehidupan macam apa yang dialami setelah kematian, maka agama-agama mengisi dengan berbagai keragaman konsepsi perihal kehidupan baik (surga) dan kehidupan buruk (neraka) pasca-kematian. Perspektif agama-agama dapat melengkapi perspektif Filsafat yang hanya memfokuskan pada Ada konkret.

Jika ada kehidupan baik dan kehidupan pasca-kematian, maka betapa pentingnya kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Kehidupan bukan lagi akumulasi tindakan bekerja dan memuaskan hasrat libidal serta material belaka. Kehidupan memiliki sebuah tujuan. Kehidupan memiliki sebuah makna.

Menyia-nyiakan kehidupan dengan larut dalam anonimitas ataupun terpenjara oleh hasrat nafsu belaka setara dengan tindakan mengabaikan alias acuh tidak acuh terhadap kematian. Bukankah kondisi ini sama saja dengan orang yang telah mengalami kematian (jiwa) sebelum kematian (fisik) itu terjadi? Bukankah ini pun cara berada manusia yang tidak otentik?

Perspektif Filsafat Heidegger menolong kita memahami kematian sebagai bagian yang melekat dalam struktur eksistensi manusia. Perspektif Agama menolong kita menjadikan kehidupan dengan sebuah kesadaran untuk melakukan kebajikan yang membawa dampak bagi kehidupan setelah kematian.