Pengantar

Jika ada yang dapat dibahas di dalam setiap kata, perbuatan, perasaan ataupun pemikiran manusia, yang membuatnya tak bisa tidur atau oleng saat menyetir kendaraan, sudah pasti itu adalah cinta. Bagi sebagian orang, cinta dianggap sangat serius, ia mampu membuat penulis menorehkan tintanya hanya untuk membahas satu hal ini. Bagi sebagian lainnya, cinta adalah hal yang menggembirakan, membuat hati manusia mabuk kepayang.

Semua metafora tentang cinta dan pergulatan manusia di dalamnya membawa kepada sebuah pencarian akan arti cinta. Manusia semakin banyak berkhayal dan berkarya dalam taraf pikirannya tentang cinta. Semua hal dikaitkan dengan kata cinta, meskipun tiap kali cinta membuat manusia terluka.

Cinta didefinisikan dalam lirik dan lagu oleh para musisi. Cinta diandaikan dalam rentetan kata yang dijalin oleh penyair. Cinta adalah setiap masakan yang dibuat oleh koki. Cinta adalah setiap detik, menit, sampai jam yang digunakan oleh pilot untuk menerbangkan pesawat terbang. Oleh mereka yang putus cinta, cinta dianggap sebagai penyebab luka.

Tak sampai di situ, oleh para politisi, cinta dianggap sebagai usahanya untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Oleh seorang orang tua, cinta adalah setiap keringat yang keluar dari tubuhnya demi memenuhi kebutuhan keluarga. Cinta adalah apa-apa saja yang menjadi penting untuk diperjuangkan oleh manusia.

 Lantas, apakah cinta itu? Apakah keberadaannya benar ada sampai-sampai manusia memperjuangkannya? Lalu mengapa cinta membuat manusia terluka (dari perspektif manusia)?

Cinta menurut Plato

Menurut Filsafat Plato, Cinta adalah sebuah kekuatan. Cinta adalah sesuatu yang menggerakkan jiwa untuk selalu mengarah pada Sang Idea.[i] Ketika berada di dunia, jiwa manusia mengembara untuk mencari jalan kepada Sang Idea. Jiwa manusia terhubung dengan Dunia Idea, sehingga ia akan kembali kepadanya kelak. Dengan demikian, jiwa akan dapat kembali ke asalnya.

 

Namun, mengapa jiwa manusia harus kembali kepada Dunia Idea? Karena, jiwa manusia berasal dari Dunia Idea. Apa yang berasal dari Dunia Idea pada akhirnya akan kembali kepadanya. Sama halnya dengan sesuatu yang berasal dari hal yang satu, akan kembali padanya kelak. Begitulah tujuan dari jiwa manusia.

Lantas, bagaimana cara kerja cinta dalam membuat jiwa kembali pada Sang Idea? Cinta yang adalah kekuatan, menggerakkan jiwa manusia. Sehingga, jiwa tersebut tidak akan berhenti mencari Sang Idea. Cinta tersebut selalu menggerakkan. Cinta tak pernah memberi penderitaan pada seseorang. Di dalam cinta itu, jiwa manusia berusaha mencari pasangannya.

Seperti yang telah disebutkan, jiwa akan kembali kepada asalnya. Begitulah Filsafat metafisika Plato. Sehingga, cinta membuat jiwa manusia mencari pasangan jiwanya pula. Pencarian itu terjadi dan membuat jiwa-jiwa itu terarah untuk menyatukan seluruh hidup mereka. Cinta membuat jiwa manusia bersatu dengan jiwa lainnya untuk merasakan cinta.

Selain itu, menurut Plato cinta membawa manusia pada pencarian tujuan dari hidupnya. Seperti yang disebutkan Plato dan filsuf lainnya, hidup manusia selalu bertujuan pada satu hal, yakni kebahagiaan.  Kebahagiaan yang ada sebagai tujuan untuk dirinya sendiri. Sebuah tujuan akhir bagi hidup manusia.

Cinta ada dan menjadi penggerak. Sehingga, manusia berusaha menuju kebahagiaan tersebut. Melalui apa? Plato mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dicapai dengan melakukan keutamaan. Keutamaan yang terutama adalah kebijaksanaan. Dengan demikian, cinta membuat manusia terus melakukan kebijaksanaan dan mencapai tujuannya itu.

Pada akhirnya, kita dapat mengetahui bahwa cinta membuat manusia terus hidup. Entah untuk dirinya sendiri, maupun bersama orang yang manusia inginkan untuk dicintai. Cinta terus menjadi api dan semangat bagi usaha aktualisasi diri manusia dalam hidup. Sehingga, kita dapat dengan mudah mengatakan bahwa, “Tanpa cinta, hidup tak akan pernah ada.”

Luka ada bersamaan dengan adanya Cinta

Kenyataan bahwa cinta adalah ‘ada’ tak dapat dimungkiri. Keberadaannya sungguh memengaruhi kehidupan manusia, baik bagi manusia itu sendiri, maupun manusia lainnya. Tanpa adanya dia (cinta), manusia mungkin tak akan pernah ada. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia diciptakan oleh karena cinta Pencipta yang sungguh besar. Itu membuat manusia merasakan cinta pula.

Meskipun cinta tak berwujud dan tak dapat disentuh, keberadaannya dapat manusia rasakan. Cinta hadir dan tinggal dalam hati manusia. Cinta secara aktif membuat manusia terus berjuang untuk hidup. Cinta membuat manusia selalu berjuang untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.

Namun, cinta bukan sesuatu yang ada untuk dirinya sendiri. Ia ada sebagai perekat yang menyatukan dua jiwa pengelana. Ia ada sebagai penyatu apa yang sudah seharusnya bersatu. Cinta membuat manusia memulai relasi. Cinta membuat jiwa bergejolak dan mencari jiwa pasangannya. Dengan demikianlah cinta menyatukan dua insan manusia.

Seiring berjalannya waktu, cinta berakar di dalam hati manusia. Ia membuat manusia merasakan kesenangan. Namun di saat semua tidak sesuai harapan, relasi itu berujung menyakitkan. Manusia mulai menyalahkan cinta sebagai penyebab rasa sakit yang dirasakannya. Manusia mulai berpikir untuk menjauh dan mengingkari keberadaan cinta. Dari hal itu, manusia mulai menyebut cinta membawa luka.

Kemudian, apakah cinta membawa luka? Plato mengatakan bahwa cinta tak akan pernah membuat manusia menderita. Cinta selalu menumbuhkan apa yang layak tumbuh, memelihara sesuatu yang layak dipelihara. Dengannya, manusia selalu mampu bergerak pada situasi apapun. Meskipun itu situasi yang sungguh buruk bagi manusia.

Cinta memelihara relasi antar jiwa manusia. Dengannya, manusia mampu berjuang dan berkorban. Dengannya pula, manusia dapat berkembang di dalam cintanya. Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa cinta tak membawa luka. Namun, manusia lah yang tak sanggup berkorban demi pasangan jiwanya. Tak mampu mengalahkan egonya dan menyalahkan cinta.

Orang yang patah hati ataupun putus harapan akan cenderung menyalahkan, entah diri sendiri ataupun orang lain. Bahkan, cinta menjadi objek yang disalahkan. Semua itu normal karena manusia memiliki perasaan. Namun demikian, cinta bukan penyebabnya. Cinta adalah pemelihara sebagaimana disebutkan di awal.

Untuk memahami bagaimana cinta bekerja, mungkin kita dapat meminjam puisi karya Sapardi Djoko Damono. Di dalam puisi tersebut, dijelaskan bahwa mencintai tak perlu melulu berkaitan dengan hal wah atau yang muluk-muluk. Sapardi mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita mencintai, yakni dengan sederhana. Berikut ini adalah puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Aku Ingin...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan


Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. (Sapardi: 1989)[ii]

 

Penutup

Pada dasarnya, cinta tak pernah membawa luka. Ia ada untuk membuat manusia selalu bergairah melanjutkan hidup menuju Sang Idea. Jika di dalam artikel ini cinta dibela habis-habisan, itu bukan karena sudut pandang penulis yang sok tahu tentang cinta. Cinta dan mencintai adalah persoalan yang lebih pelik dari itu. 

Namun demikian, kita perlu sadar bahwa cinta bukan penyebab rasa sakit yang kita rasakan. Mencintai bukan soal sakit. Sakit yang kita rasakan karena kita tak mampu berjuang sampai akhir. Sakit yang kita rasakan karena kita tak mampu berjuang dengan cinta. Lantas, apakah kita sanggup mencintai dan hidup dalam cinta?


  
Daftar Pustaka


 

[i] Kurniawan, Trio. FIlsafat Cinta, diakses dari https://www.betangfilsafat.org/filsafat-cinta/#_ftn2Pada tanggal 4 Februari 2021.

[ii] Damono, Sapardi Djoko. Hujan Bulan Juni. Jakarta: PT GRamedia Pustaka Utama. 2013.