Dulu, sewaktu saya masih bekerja di kantoran dan belum menikah, ada sebentuk mimpi di benak saya tentang mempunyai sebidang kebun luas dengan rumah kaca di dalamnya. Kebun yang dipenuhi oleh tanaman pangan dengan deret panjang bedeng-bedeng sayur dan pot-pot pohon buah. Rumah kaca yang dipenuhi aneka bunga warna-warni.  Bayangan yang menyejukan hati.

Namun itu semua hanyalah cerita yang saya simpan dalam pikiran saya saja. Dengan keseharian saya yang sibuk berkutat dengan pekerjaan kantor, seiring waktu, bayangan tentang kebun dan rumah kacapun perlahan memudar juga dengan sendirinya.

Dan ketika saya telah menikah, bayangan tentang berkebun juga tidak pernah sekalipun terbesit lagi. Bayangan itu sudah jauh terlupakan. Impian yang sudah lama hilang. Hingga kemudian masa pandemi datang setahun lalu.

***

Tidak ada terlintas bahwa suatu saat akan timbul minat saya untuk mau berkebun di rumah tempat  saya tinggal sekarang. Sudah sangat lama saya melupakan bayangan tentang kebun. Namun gagasan untuk mulai berkebun, menanam sayur sendiri di rumah muncul ketika pandemi ini  membawa saya jatuh bangun hingga berhadapan dengan masalah keuangan yang mulai mempengaruhi urusan dapur.

Dan dengan didorong oleh kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu, maka mulailah saya belajar menanam dengan pilihan terbatas yang seadanya di saat ini.

***

Saya tidak tahu bagaimana caranya berkebun. Dulupun sewaktu bayangan tentang kebun dan rumah kaca masih jadi impian, saya juga tidak tahu bagaimana caranya menanam.  Jadi, dari situlah saya memulai. Dari ketidaktahuan saya. Saya mengawali langkah pertama dengan membersihkan pot-pot bekas yang banyak menumpuk di rumah. Mengeruk tanah di halaman belakang dan mengumpulkan daun-daun kering untuk dijadikan media tanam. Membeli benih pangan secukupnya untuk mulai ditanam dan mulai memilah sampah dapur untuk dijadikan pupuk kompos.

Saya mulai mencari tahu cara-cara bertanam. Saya pelajari satu per satu hal yang diperlukan untuk menciptakan sebuah kebun pangan, untuk memenuhi kebutuhan dapur sendiri. Saya belajar dari sumber pengetahuan yang ada, tersedia setiap saat, dan yang paling mudah didapatkan, google dan  youtube. Saya mulai melatih diri saya sendiri untuk menjadi terbiasa dengan rutinitas baru di setiap awal hari, belajar berkebun.

Belajar berkebun membawa banyak perubahan pada diri saya. Saat saya melakukan proses merawat benih mulai dari penyemaian hingga tumbuh besar adalah juga ternyata sebuah proses tentang merawat batin saya sendiri. Bahwa ternyata saya sedang belajar tentang kesabaran dan ketenangan. Kedua hal yang sebelumnya bukanlah bagian dari keseharian saya. Dua hal yang saya latih dalam proses menanam, yang ternyata dapat membantu saya menghadapi apapun yang sedang terjadi pada saya dan sekitar saya sekarang ini.

Sebelumnya saya adalah orang yang sering merasa menjadi yang paling tahu, yang paling pintar, yang paling benar sendiri. Sampai sekarangpun saya masih dan sering merasa seperti itu. Karenanya, saya berlatih untuk lebih peduli pada setiap perasaan apapun yang datang. Berlatih untuk menyadari, menerima dan mengakui setiap emosi yang hadir. Melatih diri untuk mengakui diri sendiri.

Dalam setiap langkah kecil yang saya lakukan di kebun, saya telah membantu diri saya untuk kembali pulih. Ketika saya menyiram sebuah pot kecil berisi pohon kering yang nyaris mati karena teriknya matahari, sebagian kecil dari batin saya juga turut tersejukan. Turut menyerap air kehidupan yang saya kira tidak akan pernah saya dapati lagi. 

Menanam tanaman pangan mengajarkan saya untuk lebih menghargai sebuah proses. Sebelumnya ketika makanan terhidang di meja, tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa apa telah tersedia di hadapan saya adalah sebuah proses kehidupan kecil yang telah mengalami perjalanan panjang demi memenuhi kenikmatan indra pengecap saya. Dan kini, alam memberikan saya kesempatan untuk mengalami sendiri sebuah proses panjang untuk lebih mengerti tentang makna berproses itu sendiri, untuk bertumbuh, untuk belajar menghargai kemampuan diri sendiri.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa bumi dan alam sekitar kita sekarang ini sedang sakit. Dan bahwa dengan melakukan kegiatan berkebun, menanam, memilah sampah, peduli pada lingkungan, kita sedang membantu bumi untuk pulih kembali suatu saat nanti. Namun saya mempunyai pendapat yang berbeda. Bumi tidak sedang sakit sekarang ini. Semua jenis hewan dan tumbuhan juga tidak ada yang sedang sakit. Satu-satunya mahluk yang sedang sakit sekarang ini adalah kita, manusia yang dengan ponggahnya menyebut diri paling pintar, paling berbudi, yang paling mulia, dan saya adalah salah satunya.

Saat ini alam justru sedang memberikan banyak waktu untuk saya menjadi pulih. Bumi menyediakan sarana yang tidak terbatas untuk saya berlatih. Tanah dan seisinya memberikan saya kesempatan untuk belajar. Mereka menunjukkan kepada saya masing-masing keindahannya, kesabarannya, kekuatannya, sekaligus keajaibannya. Mereka tidak mengharapakan kesempurnaan. Tidak ada kata menghakimi, tidak mengenal tudingan salah atau benar. Yang ada hanyalah sebuah proses pembelajaran.

Saya sedang menolong diri saya sendiri dengan berkebun. Semua peristiwa yang menuntun saya untuk belajar menanam adalah cara alam yang sedang membantu saya untuk menemukan diri saya kembali, untuk berkenalan dengan diri sendiri.