9 bulan lalu · 89 view · 3 min baca · Pendidikan 89572_13925.jpg
Dokumen Pribadi

Bentuk Bullying dalam Keluarga dan Sekolah

Dalam sejarah perkembangan Islam, Khalifah Umar bin Al Khattab tercatat sebagai orang pertama yang menetapkan tahun Hijriah sebagai kalender Islam. Fakta ini sering disampaikan dalam syiar-syiar dakwah yang dilakukan oleh para penda’i Islam. Hingga semua orang Islam tahu bahwa sejarah kalender Islam dimulai sejak era kekhalifahan Umar.

Namun, ada satu fakta lain yang jarang diketahui oleh publik Islam tentang kKalifah Umar, yaitu tentang perhatian Umar bin Al Khattab terhadap perilaku mengejek. Sebagaimana dituliskan oleh Syaikh Muhammad Sa’id Mursi dalam bukunya berjudul Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar, Umar bin Al Khattab tercatat sebagai orang pertama yang menghukum orang yang mengejek.

Mengejek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti; mengolok-olok (menertawakan, menyindir) untuk menghinakan, dan mempermainkan dengan tingkah laku. Dengan demikian, mengejek dapat dipahami sebagai perilaku yang mengolok-olok, menyindir atau mempermainkan dengan tingkah laku yang sifatnya untuk menghinakan pihak lain.

Karena perkembangan zaman, di mana kata serapan asing banyak “terketam” dalam keseharian masyarakat Indonesia, maka untuk istilah mengejek pun mendapat pengaruh ejaan asing, di mana mengejek populer disebut dengan bullying. Kata bullying berasal dari bahasa Inggris yang berarti penggertak, menggertak, dan mengganggu (Echols dan Hassan, 1992:87).


Pun dewasa ini, semua pihak sudah paham bahwa ketika disebutkan kata bullying, maka di dalamnya terdapat tindakan mengejek atau mengolok-olok. (untuk selanjutnya penulis akan menggunakan kata bullying menggantikan kata mengejek)

Bullying merupakan salah satu bentuk perilaku penyimpangan yang sangat berbahaya, di mana pelaku bullying berusaha untuk mengganggu pihak lain (korban bullying), baik dalam bentuk ucapan atau tindakan dengan tujuan merendahkan harkat dan martabat korbannya.

Kadar bahayanya bullying adalah sebangun dan sejajar dengan bahaya penyalahgunaan narkoba. Keduanya sama-sama mengakibatkan pihak lain; terbunuhnya mental dan karakternya.

Perilaku bullying memang sudah ada sejak era Rasulullah. Bahkan Rasulullah sendiri pernah menjadi korban bullying dari penduduk Quraisy, baik ketika mengabarkan pengalamannya setelah melakukan Isra’ Mi'raj, saat sedang melakukan ibadah salat, maupun dalam aktivitas sehari-harinya yang dikatakan gila (karena kabar peristiwa Isra’ Mi’raj).

Sehingga, dalam beberapa riwayat disebutkan, Khalifah Umar yang terkenal dengan gelar Al-Faruq (pemisah antara yang hak dan yang bathil) membuat terobosan berupa kebijakan dan undang-undang yang di dalamnya termasuk mengenai bullying.

Dewasa ini perilaku bullying sering kali terjadi di lingkungan sekitar kita. Bahkan termasuk di institusi keluarga (tempat pertama seorang individu masyarakat menerima sosialisasi) dan juga di institusi pendidikan (institusi yang memegang peran besar dalam kemajuan peradaban manusia).

Tentunya kenyataan tersebut sangat miris dan memalukan. Sejatinya dua institusi tersebut (keluarga dan pendidikan) menjadi tempat seorang individu masyarakat untuk berlindung dari segala bahaya kemungkaran sosial, yang salah satunya adalah bullying.

Dalam sebuah keluarga, tanpa disadari orangtua acap kali melakukan bullying terhadap anggota keluarganya. Sebagai contoh, misal, dengan cara membandingkan kesuksesan anak pertama dengan anak kedua atau anak selanjutnya. Dalam hal membandingkan tersebut, disertai dengan cara komunikasi yang kurang elegan. Sehingga si anak (anggota keluarga) merasa terhina atau direndahkan.


Bahkan yang paling ironi, ada juga orangtua yang membandingkan kadar kecantikan antara anak-anaknya. Padahal kecantikan merupakan sesuatu yang sifatnya alamiah (anugerah dari Sang Pencipta), sama halnya dengan tingkat kecerdasan, meskipun dua-duanya bisa dimaksimalkan dengan sebuah proses atau usaha.

Begitu juga di sekolah, tak jarang didapati seorang guru—meskipun dengan niat mendidik—melakukan bullying terhadap peserta didiknya. Baik melalui ucapan yang sifatnya menyindir, sikap yang membanding-bandingkan antara siswa yang satu dengan siswa lain, ataupun melalui tindakan lainnya.

Terkadang si guru juga tak sadar, melalui pernyataan yang sepele, telah meruntuhkan mental peserta didiknya. Misalnya dengan mengatakan anak bernama A “malas sudah sejak sekian tahun”, mengatakan anak yang bernama B “memang bodoh dan tidak bisa apa-apa”. Apalagi membungkam anak didiknya yang menanyakan sesuatu yang sifatnya sensitif dan tidak dapat dijangkau secara keilmuannya oleh si guru saat itu.

Sekolah dengan guru yang “model ini”, diakui atau tidak, menambah “derajat” lingkungan sosial masyarakat menjadi lebih suram. Tentu kita tidak sanggup membayangkan bagaimana peradaban manusia di masa depan jika bullying dilakukan di sekolah-sekolah, yang tak lain merupakan institusi yang memegang peran terhadap kemajuan peradaban manusia itu sendiri.

Oleh karenanya, merupakan sebuah kemestian untuk lembaga keluarga dan sekolah agar menjadi sosok penyelamat generasi di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang kurang bersahabat ini. Bagi orangtua, pihak yang mengelola lembaga keluarga, mulai dari sekarang, silakan untuk berintropeksi diri. Apakah selama ini sering melakukan bullying? Jikalau ada, maka sudah waktunya berhenti.

Dan, bagi penyelenggara atau pengambil kebijakan di institusi pendidikan (sekolah), sudah saatnya untuk membuat regulasi atau semacam aturan khusus yang bisa diterapkan guna meminimalisasi perilaku bullying di lingkungan institusi pendidikan. Agar, baik lingkungan keluarga maupun pendidikan, menjadi media yang aman bagi generasi kita ke depan.


Artikel Terkait