2 bulan lalu · 112 view · 3 min baca menit baca · Politik 20086_24736.jpg
Tribunnews

Bentangan Kenyataan Pasca-Pilpres

Pilpres telah usai. Pemenang telah tampak terlihat dan tergambar dari berbagai lembaga survei yang melakukan quick count dan tinggal menunggu hasil pengumuman resmi dari KPU. 

Terlepas siapa yang terpilih, yang mesti dihadirkan kepada publik adalah menyalurkan energi kebersamaan dan optimisme menyongsong hari esok.

Kata orang, perubahan terasa sangat cepat lajunya. Bagi kalangan pencinta kuda bisa saja berseloroh, "Kok kecepatan kudaku terkalahkan oleh kecepatan hasil quick count?" Sudah jelas terbaca dan terlihat pasca-pilpres antara perubahan dan kecepatan berpacu, entah tetap pada porosnya atau pindah poros.

Gambaran hasil quick count pada pilpres menimbulkan gejala dan respons psikologi yang berbeda. Bagi pemenang pilpres, cerita manis bukan tidak mungkin akan menambahkan pemanis terhadap kemenangannya. Lemparan senyum dan aura sejuk senantiasa bak semerbak yang senantiasa ditebarkan pada semua.

Pepatah lama menyatakan: lain lubuk, lain ikannya; lain koalisi Jokowi, lain koalisi Prabowo. Bagi Prabowo, upaya menanggulangi efek psikologi yang ditimbulkan dari hasil quick count yang menempatkan Prabowo di posisi yang tidak menggembirakan, baik bagi dirinya mapun bagi teman setianya di koalisi.

Kondisi yang tidak menggembirakan bagi Prabowo memiliki beberapa konsekuensi. Setidaknya Prabowo mesti menunjukkan kekompakan dan kesolidan koalisinya, untuk tetap menunjukkan pada publik bahwa teman koalisinya tetap dalam porosnya, segaligus menjaga geliat yang bisa membuyarkan kekompakan, setidaknya sebelum keluar hasil resmi KPU dan penempatan posisi strategis di parlemen guna mengimbangi kekuasaan presiden.


Tetapi, selihai-lihainya katak melompat pasti akan terjatuh jua. Bila dilihat semenjak awal, koalisi Prabowo telah lama terombang-ambing dan digoyang deru angin, bahkan sebelum menjelang hari H pemilu. Tiupan angin itu seakan tak terbendung, mulai dari pernyataan yang dinilai menyerang SBY padahal dalam barisan koalisi yang sama.

Ketidakharmonisan koalisi Prabowo telah lama memendam asa mulai dari cuitan Andi Arief, politisi Partai Demokrat, sebelum pilpres. Hingga pasca-pilpres, AHY menyalip laju kuda Prabowo dengan mobil bernomor polisi B 2024 AHY dan adanya geliat Zulkifli Hasan yang dinilai berpotensi berbalik arah.

Pertemuan Jokowi dan AHY memiliki banyak makna, setidaknya bagi Jokowi menjadi sinyal yang menaikkan pamor politiknya dan pesan keterbukaan Jokowi untuk menambah teman koalisi yang baru. Jelas, periode kedua Jokowi membutuhkan banyak figur untuk mengisi jajaran pos-pos strategis. Setidaknya pesan merangkul memiliki keuntungan bagi Jokowi, apalagi figur muda seperti AHY.

Peran SBY dan Partai Demokrat dalam perhelatan Pilpres 2019 unik dan menarik. Unik bila dilihat dari segi pergerakan politiknya yang mengesankan dirinya tidak lagi bersaing di pilpres dan menunjukkan pada publik perlakuan yang tidak mengenakkan yang diterima oleh Partai Demokrat dengan merobek balihonya.

Segi menariknya, SBY dan Partai Demokrat di atas kertas berkoalisi bersama Prabowo-Sandi. Tetapi manuver kader-kadernya kadang berbicara lain. Respons SBY dan Partai Demokrat terkesan membiarkan dan mengizinkan kondisi tersebut. Apakah ini strategi dari awal yang sengaja dilakukan, melayarkan Partai Demokrat di antara dua kubu koalisi?

Prabowo pada saat debat menggulirkan wacana liar yang bukan tidak mungkin juga secara menyasar orang-orang dalam koalisinya menjadi meradang dengan pernyataan “Itu kesalahan pemimpin-pemimpin sebelum bapak”. Kader Partai Demokrat merespons bak api yang disiram bensin, seruan meninggalkan koalisi sebelum pertarungan berahir. Kondisi ini menjadi peluang Partai Demokrat fokus pada pileg, sedangkan soal pilpres senyap.

Kesenyapan Partai Demokrat menemukan ketepatannya pasca-pilpres yang dari hasil quick count menempatkan pasangan Jokowi-Ma'ruf meraih posisi teratas. Tak berselang lama kesenyapan Partai Demokrat berbuah dengan pertemuan AHY dan Jokowi di Istana Negara. Tampaknya kemilau Bintang Mersi (Partai Demokrat) terpantul hingga istana bersama harapan 2024.

Prabowo masih butuh dukungan moral, setidaknya untuk menunjukkan bahwa koalisi dan pendukungnya masih tidak sepi guna menghindari sorotan kamera banyaknya kursi yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya di tenda koalisi Prabowo. Lalu, di mana dukungan moral itu mesti diupayakan bagi Prabowo?


Bila stok pendukung dari partai mulai bubar penghuninya, maka Prabowo setidaknya memiliki satu stok cadangan yang masih tersisa dan kiranya sudih menemaninya hingga akhir. Stok cadangan itu masih sangat melimpah dari kalangan pendukungnya yang berbasis agama, sebagai pasukan terakhir untuk mengisi batalion koalisinya.

Stok pendukung Prabowo yang berbasis agama memiliki arti secara strategi. Sebab, sebagai seorang kandidat capres yang kalah bila dilihat dari hasil quick count, stok pendukung berbasis agama masih bisa diandalkan mengawal agenda-agenda stategis politik Prabowo ke depan. Entah wujudnya ke depan seperti apa. Minimal stok pasukan cadangan masih tersedia, biar ada reunian 212 dan semacamnya.

Stok cadangan berbasis agama memiliki kelenturan dan kesetiaan yang tiada duanya bagi Prabowo. Entah akan lahir ijtimak demi ijtimak sebagai respons yang terorganisasi untuk melakukan agenda-agenda politik yang sifatnya sektarian dan kepentingan Prabowo.

Sejak munculnya Prabowo sebagai kandidat capres 2019 telah memberikan kontribusi bagi umat Islam, setidaknya memfasilitasi untuk silaturahmi secara nasional dan membuat Jokowi menggandeng sosok ulama Ma'ruf Amin. Mungkin perlu berucap pada Prabowo, jazakumullah khairan katsiran.

Artikel Terkait