Video amatir itu beredar luas, dan lagi-lagi bikin cemas. Beberapa pemuda berseragam Banser dengan agak susah payah menyalakan korek di bawah dua lembar kain hitam. Kain pertama cukup lebar, seukuran bendera. Kain kedua kecil memanjang, seukuran ikat kepala.

Di atas kain-kain hitam itu tertulis kalimat dalam bahasa Arab: Lailahaillallah Muhammadarrasulullah, tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah. Dan, orang-orang itu membakarnya!

Saya terbelalak, mereka membakarnya. Masih dalam beberapa detik ketegangan, muncullah rasa di hati saya. Perih.

Karena saya merasa pedih campur sedih saat melihat "Bendera HTI (katanya)" dibakar, Anda mungkin akan langsung menduga saya radikalis, kaum mabuk agama, atau semacamnya. Terserah saja, suka-suka Anda. Tapi, Anda harus paham bahwa pengalaman batin manusia berbeda-beda.

Saya seorang muslim. Sebagai muslim yang dididik sejak kecil dalam ajaran Islam, fondasi itu tetap menjadi bagian paling dasar dari segenap bangunan keyakinan yang saya peluk hingga detik ini: Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Maka, bagaimana Anda bisa menyalahkan saya dan sebersit perasaan pedih di hati saya, jika sebuah teks kalimat dengan muatan makna yang sangat mendasari agama dan cinta saya dibakar orang?

Pada detik-detik itu, yang tertangkap oleh mata fisik dan mata perasaan saya semata-mata hanyalah kalimat Lailahaillallah Muhammadarrasulullah. Tidak lebih dari itu. Sebuah perasaan yang terbangun dari bawah sadar emosi puluhan tahun tidak akan punya cukup waktu untuk mencerna warna kain tempat kalimat itu diletakkan, konstelasi sosial-politik yang menempatkan teks itu dalam sebuah tarik-ulur kepentingan global, dan perkara-perkara rumit lainnya. Itu kejauhan.

Memang, kemudian saya memahami konteksnya. Dan, di atas papan konteks inilah segala kerumitan ini bermula.

***

Dalam pandangan saya, teman-teman Hizbut Tahrir itu cerdas sekali, sekaligus licin sekali, untuk tidak mengatakan saya curang atau semacamnya. Baca dulu penjelasan saya.

Mereka membangun sebuah organisasi, yang mereka sebut sendiri sebagai sebuah partai (secara harfiah Hizbut Tahrir bermakna 'partai pembebasan'). Kemudian, mereka memilih bendera Rasulullah Muhammad SAW sebagai simbol mereka. Dalam logo internasional Hizbut Tahrir, bendera tersebut tergambar utuh sebagai bendera, lengkap dengan tiangnya, ditambahi bola dunia, dan tulisan Hizb ut-Tahrir dalam huruf Arab dan alfabet.

Saya tidak ingin masuk ke dalam perdebatan tentang akurasi historis atas bendera Nabi Muhammad tersebut. Namun, dengan pemilihan logo bendera Nabi dalam posisi utuhnya sebagai bendera, permainan simbolisasi visual berkembang lebih jauh lagi.

Maka, kita pun menyaksikan, dalam setiap aksi yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), para anggotanya membawa bendera-bendera seperti itu. Nuansa hitam-putih selalu dominan dalam segenap aksi HTI, dengan bendera putih bertulisan hitam, atau bendera hitam bertulisan putih. Semuanya memajang kalimat yang sama: Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.

Pada satu sisi, saya memaklumi kenapa mereka menggunakan simbol bendera tersebut. Mereka meyakini diri sebagai kelompok yang memperjuangkan Islam paling kaffah, sehingga merasa wajib memajang simbol yang merepresentasikan Islam. Itu hal yang normal saja dalam belantara klaim kebenaran dari segala jenis kelompok Islam. Toh, masing-masing kelompok juga merasa menjalankan Islam yang benar.

Problemnya, simbol bendera hitam dan putih itulah yang paling memainkan citra visual terkuat atas HTI di tengah-tengah publik. Bukan simbol resmi Hizbut Tahrir sendiri. Saya belum pernah melihat para aktivis HTI memanggul logo resmi Hizbut Tahrir dalam aksi mereka. Kalau toh ada, pasti kalah dominan dengan kemunculan bendera hitam dan putih.

Walhasil, secara riil, simbol HTI yang paling dikenal publik adalah bendera hitam dan putih bertuliskan Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.

"Loh, bendera itu juga dibawa orang saat demo pembelaan atas Palestina, juga pada peristiwa 212! Bukan cuma orang HTI yang mengibarkannya! Itu bukan bendera HTI!"

Tunggu dulu, sayangku. Ini bukan tentang hal-hal sporadis seperti itu. Sebagaimana publik awam tidak mengintip lembar akta notaris HTI, citra dominan yang tertangkap di mata mereka pun hanya berupa hal-hal yang berlaku paling lazim dan paling umum. Dari keumuman itulah bendera tauhid hitam-putih dan HTI menjadi dua entitas yang identik di mata masyarakat awam Indonesia.

Ini sesungguhnya mekanisme psikologis biasa, classical conditioning. Etalase terluar HTI adalah aksi-aksi unjuk rasa, poster-poster, spanduk-spanduk. Di ruang-ruang itulah bendera hitam dan putih selalu hadir terpajang. Di mana bendera hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid berkibar, maka 90% kemungkinannya kelompok HTI-lah pembawanya. Proses itu berlangsung terus-menerus, berulang-ulang, dalam skala yang masif.

Begitulah cara kerja semiotika. Begitulah simbol-simbol terbentuk secara alami, bukan dengan logika legal-formal. Publik tidak akan punya kepentingan untuk setiap saat mengintip akta notaris HTI (sebelum mereka dibubarkan), atau menengok papan nama kantor cabang HTI di kota terdekat, tempat simbol-simbol resmi Hizbut Tahrir menampakkan diri.

Ringkasnya, secara legal memang simbol HTI adalah bendera ditambah bola dunia ditambah tulisan Hizb ut-Tahrir. Namun, secara de facto dalam benak dan persepsi publik luas, simbol HTI adalah bendera hitam dan putih dengan kalimat tauhid.

Situasinya mirip dengan tanda gambar Partai Komunis Indonesia (PKI), saya kira. Jika kita benar-benar melihat simbol resmi PKI, kita akan tahu tanda gambarnya bukan palu-arit saja. Lambang resmi PKI adalah palu-arit yang dipadu dengan bendera merah-putih, dirangkai dengan padi dan kapas di samping kiri dan kanan, latar gambar bintang besar berwarna merah, juga pita merah di bagian bawah bertuliskan PKI.

Namun, dalam penampilan PKI setiap saat pada masanya, yang selalu dimunculkan adalah simbol palu-arit saja. Hasilnya, dalam konteks persepsi publik masyarakat Indonesia, orang melihat bahwa simbol PKI adalah palu-arit. Simpel sekali. Kita tidak perlu mengatakan bahwa palu-arit bukan simbol PKI, dengan dalih bahwa tanda gambar resminya lebih kompleks ketimbang sekadar palu-arit. Begitu, bukan?

Sekarang, coba bandingkan dengan organisasi-organisasi Islam lain. Dalam logo Muhammadiyah, misalnya, terkandung teks syahadat berhuruf Arab: asyhaduallailahaillallah wa asyhaduanna muhammadarrasulullah. Itupun merupakan format lain dari kalimat tauhid, dan sama-sama merupakan dasar suci ajaran Islam.

Bedanya, dalam setiap penampilan publik Muhammadiyah, yang selalu nongol adalah logo utuh Muhammadiyah, lengkap dengan gambar matahari bersinar dan kaligrafi Arab berbunyi "Muhammadiyah" dalam kombinasi warna hijau-putih. Bukan cuma teks syahadatnya. Maka, orang tidak akan melihat bahwa teks syahadat identik dengan Muhammadiyah saja.

Kasus yang sama terjadi pada lambang Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai tersebut memiliki lambang Kakbah, bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam. Namun, bersama Kakbah, ada juga unsur lain, yakni warna hijau dan huruf-huruf PPP. Para peserta pawai kampanye bermotor PPP tidak pernah secara dominan membawa tanda gambar Kakbah saja. Mereka juga membawa unsur dominan warna hijau, juga tulisan PPP.

Itulah sebabnya, siapa pun yang sedang khusyuk berdoa di depan Kakbah saat haji atau umrah, tidak serta-merta teringat wajah Romahurmuziy.

Kita kembali ke HTI. Mekanisme pembentukan simbol HTI beda dengan Muhammadiyah dan PPP. Maka, bendera hitam atau putih dengan teks kalimat tauhid muncul dalam persepsi publik sebagai simbol HTI.

Di situlah cerdas, cerdik, dan curangnya HTI. Ketika orang-orang bersikap resisten kepada HTI, otomatis mereka akan resisten juga kepada simbol-simbolnya. Namun, ketika resistensi itu ditujukan secara spontan kepada simbol-publik HTI, yakni bendera hitam-putih bertuliskan kalimat tauhid, orang-orang HTI akan menampar balik.

"Itu bukan simbol HTI! Itu bendera Rasul! Bendera tauhid! Jadi kamu membenci tauhid!"

Nah, nah, nah. Enak sekali HTI ini. Karena simbol de facto mereka adalah bendera Rasul, bendera tauhid, maka dengan gampang mereka menghadang setiap ketidaksukaan kepada HTI dengan tuduhan "membenci tauhid", "membenci panji-panji Rasulullah", dan entah apa lagi.

Saya yakin, ketika pembubaran HTI dilaksanakan waktu itu, aparat pun garuk-garuk kepala. Kekuatan negara sekalipun tidak dapat membubarkan ideologi, karena ideologi letaknya di otak dan hati. Satu-satunya yang dapat dijalankan hanyalah membubarkan fisiknya. Mencabut akta notarisnya, menjadikannya berstatus ilegal, melarang acara-acara resmi yang menggunakan nama organisasi resminya, dan melarang simbol-simbolnya.

Masalahnya, bagaimana mau melarang simbol HTI jika simbol riil mereka yang berlaku di lapangan adalah simbol yang diklaim sebagai "bendera Rasul" atau "bendera tauhid"?

"Jadi kalian itu mau membungkam HTI, apa membungkam Islam?" Akhirnya, retorika klise seperti itu muncul lagi dengan instan.

***

Dengan segala gambaran mekanisme pembentukan simbol dalam psikologi massa itu tadi, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa anak-anak muda Banser di Garut itu murni cuma sedang membakar bendera HTI, lalu berkesimpulan bahwa mereka tidak bersalah sama sekali. Bukan seperti itu. Saya cuma ingin membayangkan situasi yang terjadi pada kedua belah sisi.

Kita tidak bisa mengatakan bahwa anak-anak muda Banser itu 100% bermaksud membakar bendera tauhid, dan oleh karenanya mereka menghina tauhid. Mereka muslim juga, dan saya pribadi haqqul yaqin mereka masih beriman kepada Allah dan Muhammad. Persoalannya, dalam mekanisme semiotika alami, simbol yang mereka bakar itu, di mata mereka, memang simbol HTI.

Tapi, untuk mengatakan bahwa simbol tersebut murni simbol HTI pun saya pribadi sangat tidak bersepakat. Bagaimanapun terkandung kalimat Lailahaillallah Muhammadarrasulullah di situ, satu kalimat yang paling sakral dalam iman seorang muslim.

Buktinya, saya yang sama sekali bukan simpatisan HTI, yang bahkan sangat sering berseberangan dengan mereka, pun merasakan sakit yang sama saat kalimat suci yang saya cintai itu dibakar di depan mata.

Saya yakin, ada ribuan orang yang posisinya sama persis dengan saya. Barangkali Anda juga.