Suatu malam di balik jendela kos, seorang mahasiswi yang "katanya" mau belajar itu malah sedang asyik memainkan sosial media. Mahasiswi tersebut tengah memilah dan memilih barang mana lagi yang akan dia check-out. 

Tak henti-hentinya dia men scroll bulir demi bulir halaman konten-konten viral yang ditampilkan oleh salah satu platform yang menjadi favorit para milenial ini di depan layar kaca sampai tidak kenal waktu. 

Suatu ketika, muncul konten yang menampilkan suatu produk lucu nan viral dan dia tergoda untuk membelinya yang bahkan aslinya dia sedang tidak butuh barang tersebut.

Apakah kamu pernah terpengaruhi menuruti keinginan yang bukan kebutuhan utamamu? Misal, promo flash sale yang memunculkan perasaan sangat sayang buat dilewatkan sebagai akibatnya kita tidak tahan check out benda lucu, viral, atau aesthetic terbaru yang tidak kita butuhkan. 

Kadang, kita spontan berbelanja barang promo tanpa sadar. Tetapi seringnya, kita justru melakukan hal itu secara sadar penuh, kemudian menyesal setelah mendapati barang yang kita beli semata-mata karena kalap tidak terlalu bermanfaat.

Media sosial membentuk kita terpapar gaya hidup dan tren modern. Sepintas, semua itu tampak terkini dan elegan secara visual jadi menarik minat kita untuk mengikuti tren. 

Kita ingin terlihat sama dengan orang-orang di media sosial, minimal dalam hal pakaian. ini masuk akal, namun bila dilakukan dengan tanpa daripada luar kemampuan, maka boleh dikatakan kita sudah masuk perangkap konsumtivisme. Ya, teknologi bernama media sosial itu yang mengarahkan kita sebagai warga konsumtif.

Memang manusia butuh kesenangan diri sendiri. Namun, sering kali orang terjebak dalam kesenangan berupa konsumsi materi yang tiada henti. Konsumtivisme seolah sudah menjadi ideologi baru. 

Adalah, konsumtivisme memberi makna hayati menggunakan segala pemenuhan materialistis hingga-hingga orang lain sesuatu menggunakan mengukur dan tujuan yang sifatnya materialis. orang menggunakan sifat konsumtif terjebak pada impian sementara serta tidak memiliki skala prioritas.

Mahasiswa dan Internet saling terkait erat, dan partisipasi mahasiswa dalam penggunaan Internet berarti mereka akan memanfaatkan berbagai kemungkinan Internet, terutama belanja. 

Belanja online dapat menawarkan banyak kemudahan kepada konsumen. Misalnya, penghematan biaya, pengiriman barang langsung ke rumah, pembayaran melalui transfer bank, dan harga murah saat pelajar tidak perlu lagi mengunjungi pasar mau tidak mau memanjakan pengguna untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. 

Selain itu, tidak perlu menunggu waktu luang atau liburan untuk membeli barang di pasar atau mall. Penggunaan internet telah membawa banyak perubahan pada gaya hidup mahasiswa, termasuk berbelanja. 

Sebagai contoh diri saya sendiri dan banyak juga dari lingkungan pertemanan saya, perilaku konsumtif melalui online shopping fashion seolah bukan hal yang asing lagi di panca indra mereka. 

Disimpulkan bahwa kita kebanyakan melakukan belanja secara berlebihan, melakukan belanja karena kesenangan semata, serta pembelian impulsif. Perilaku belanja yang dilakukan ini sudah menjadi gaya hidup, informan rela menjual barang berharga seperti anting, kamera, handphone untuk membeli barang yang diinginkan dan subyek juga rela makan seadanya asal bisa beli baju branded dengan model yang berbeda dari orang lain serta merasa bangga memiliki banyak baju dan setiap bepergian selalu memakai baju yang berbeda-beda tanpa ada orang lain memakai baju yang sama.

Belanja online bagi kalangan mahasiswa saat ini adalah fenomena nyata yang selalu menjadi pembicaraan hangat di kalangan mahasiswa pada berbagai kesempatan. Sebagian mahasiswa mengetahui apa itu belanja online walaupun tidak semua mahasiswa menggunakan jasa tersebut sebagai pemenuhan kebutuhan. 

Mahasiswa yang sudah merasa mendapat keuntungan yang didapatkan dari penggunaan jasa belanja online seperti kenyamanan dalam belanja, mudah untuk mendapatkan barang yang diinginkan, serta harga yang terjangkau akan merasa kecanduan untuk terus menggunakan sistem belanja online dalam memenuhi kebutuhannya, karena apabila sudah pernah sekali berbelanja online pasti ingin lagi dan lagi belanja online. 

Belanja secara online dinilai lebih praktis dan cepat untuk memperoleh barang barang yang diinginkan seperti pakaian, jilbab, tas, sepatu, sandal, aksesoris, kosmetik dan lainnya, oleh karena kepraktisan inilah para mahasiswa menjadi sulit mengendalikan diri dan hal ini menimbulkan kecanduan dalam belanja yang mana pada akhirnya menjadikan mahasiswa berperilaku boros. 

Karena dalam penggunaannya mahasiswa tidak lagi memikirkan seberapa besar barang tersebut dibutuhkan melainkan hanya terfokus pada keinginan dalam belanja produk-produk online. Hal ini dengan jelas menunjukkan perilaku konsumtif mahasiswa benar benar terjadi.

Menurut Marcuse, kepuasan sejati diperoleh melalui pemenuhan kebutuhan yang mendukung perkembangan dan perwujudan diri secara bebas. Kepuasan sejati tidak mungkin diperoleh dari pemenuhan kebutuhan yang terkekang. 

Yang kedua ini lebih cocok disebut sebagai pelampiasan, alih-alih sewajarnya pemenuhan kebutuhan. Pemuasan kebutuhan yang tepat bisa diukur dengan mempertimbangkan kelayakan, kepantasan, tingkat kebebasan, serta tujuan sesungguhnya yang hendak diraih dari sana.

Naasnya, keputusan seseorang dalam rangka pemenuhan kebutuhannya sering kali dieksploitasi. Kebebasan individu dalam membuat keputusan dikaburkan dengan adanya doktrin dan manipulasi kesadaran oleh media, utamanya hal-hal viral di media sosial. Orang yang tidak memiliki skala prioritas akan mudah goyah dan tergoda hal-hal material ketika dihadapkan pada situasi ini.

Selalu tanyakan kepada diri sendiri tentang kebutuhan yang hendak dipenuhi. Untuk apa, mengapa, dan bagaimana jika produk tersebut kita beli? Jangan-jangan, kita tidak benar-benar butuh, tapi cuma lapar mata.

Sudah pasti butuh pun bisa kita tanyakan lagi preferensi kita terhadap produk-produk dengan fungsi serupa. Mengapa perlu membeli produk dengan merek ternama yang harganya mahal ketika ada produk serupa dengan harga jauh lebih murah biarpun mereknya tidak terkenal? Mampukah kocek kita menjangkau produk-produk bermerek yang sebetulnya tidak terlalu berguna itu? Apa keunggulan produk itu bagi kita selain citra?


Nah, mari kita sama-sama berefleksi, apakah diri kita ini termasuk golongan orang-orang konsumtif?