Menjadi wakil ketua kelas saat SMP tidak pernah terbayang sama sekali dalam hidupku. Banyak sekali rintangan dan cerita yang terjadi pada masa biru putih ini, terlebih lagi pada saat itu aku masih belum memiliki pondasi yang kuat dalam mengambil sebuah keputusan.

Tidak ada niatan sama sekali bagiku untuk mendaftar atau bahkan mencalonkan menjadi Wakil Ketua Kelas di SMP. Namun, suara dari teman-teman yang menginginkan aku menjadi wakil lah yang mengharuskan aku ikut dalam pemilihan seleksi itu.

Pengumuman pun dibacakan oleh wali kelas. Seperti dugaan, aku terpilih dan di berikan sebuah amanat untuk menjadi wakil ketua kelas. Sebenarnya tidak masalah jika aku diberi tugas menjadi wakil ketua kelas. Namun, yang menjadi permasalahan yakni berada pada ketua kelasnya.

Ketua kelasku ternyata merupakan orang yang aku benci sejak aku duduk di SMP. Ya, dia adalah cowok yang selalu bikin aku darah tinggi ketika berurusan dengannya. Sebut saja namanya Bagas. Manusia yang memiliki tinggi badan kurang lebih 180 cm ini, hampir setiap harinya selalu membuat aku emosi dan darah tinggi.

Entah nasib atau bagaimana, tempat duduk Bagas itu berada di depanku persis. Hampir setiap hari harus melihatnya dan berurusan dengannya. Apalagi, sekarang aku menjadi wakil ketua kelas yang mengharuskanku untuk sering mendiskusikan beberapa hal dengannya.

Bagas termasuk siswa aktif di organisasi Pramuka. Bahkan, dia menjadi pengurus harian di organisasi tersebut dan banyak sekali yang kenal dengan Bagas. Satu lagi, dia disukai oleh banyak sekali adik kelas maupun dari teman satu angkatan. Padahal, jelas-jelas dia adalah cowok yang sangat tidak waras dan patut untuk diasingkan ke Nusakambangan.

Dengan dia mengikuti organisasi pramuka ini, dia sangat sibuk dan sering sekali tidak ada di kelas. Jika ada panggilan ketua kelas atau hal yang menyangkut urusan satu kelas, aku lah yang harus menyelesaikannya. Sangat merepotkan bukan?.

Suatu ketika, ada panggilan ketua kelas yang sangat urgen karena akan membahas masalah event karya seni yang akan diikuti oleh seluruh anggota kelas 9 dan diselenggarakan oleh pihak sekolah. Seharusnya ketua kelas lah yang harus mewakili ini. Namun, lagi-lagi aku lah yang harus datang untuk mewakili kelasku, dikarenakan Bagas sibuk dalam organisasi Pramuka.

Ternyata, perwakilan kelas yang datang pada saat itu mau tidak mau ditunjuk sebagai ketua yang akan mengkoordinir kelasnya dalam event karya seni ini. Emosi dan kesal bercampur aduk saat mengetahui itu. Seharusnya, Bagas lah yang mewakili ini dan menjadi ketua dalam mengkoordinir kelas nantinya. Kalau begini kan aku yang harus repot dan harus memikirkan ide untuk stand yang akan kelas kami bangun nantinya.

Masih banyak sekali hal yang membuatku emosi akan cowok ini. Namun, entah nasib buruk atau bagaimana yang selalu mempertemukanku dengan Bagas. Seperti pada pembagian kelompok yang padahal sudah diacak oleh guru, namun aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku satu kelompok dengannya dan itu sering terjadi ketika pembagian kelompok lainnya.

Lagi dan lagi aku harus direpotkan olehnya karena ada tugas untuk praktik memasak. Bagas setuju jika kita mengerjakan praktik itu di salah satu rumah teman kami. Namun, ternyata si Bagas yang gak ada akhlak dan budi pekerti itu malah tidak datang untuk kelompokan. Kalian tahu alasannya apa? Karena Ketiduran.

Hebat sekali manusia satu ini. Padahal ada jadwal kelompokan yang sudah disepakati bersama mengenai waktu dan tempatnya, namun dia malah tidak datang dan dengan santainya mengatakan kalau ketiduran. Keesokan harinya, dia langsung aku ejek dengan kata “Duh, enaknya tidur pules di saat teman yang lainnya kelompokan”. Dengan santainya dia menjawab “Enak, lah. Kenapa? Iri?”. Refleks langsung aku tendang kakinya karena emosi yang meluap.

Banyak sekali hal yang selalu kami perdebatkan, padahal masalah tersebut sangat lah sepele dan perdebatan kami tidak luput dari pantauan teman-teman satu kelas. Banyak yang mengatakan kalau kami sering berdebat, nantinya akan tumbuh benih-benih cinta. Langsung saja aku menyangkalnya dengan berkata “cuihga sudi”.

Perkataanku itu lah yang menjadi boomerangku saat ini. Saat mendekati wisuda, dia mulai jarang di kelas selama kurang lebih seminggu dan hanya di kelas pada waktu istirahat saja. Aku pun tidak menanyakan kepadanya ataupun kepada temanku yang lain tentang alasan Bagas jarang di kelas.

 Waktu wisuda perpisahan, Bagas tidak hadir dalam acara ini. Setelah aku tanya kepada salah satu temanku, ternyata Bagas sedang mengikuti tes untuk masuk ke salah satu sekolah Akademi Militer. Entah mengapa pada saat itu aku merasa ada yang 'kurang'. Dimana yang hampir setiap harinya kita berdebat dan tidak akur bagaikan Tom and Jerry, namun sekarang aku malah mencarinya. Aneh bukan?.

Setelah acara wisuda selesai, anehnya aku terus memikirkan Bagas. Bahkan aku memimpikannya selama tiga hari berturut-turut. Dalam hati pun mulai menerawang, apakah aku mulai timbul rasa suka padanya?.

Kata hati pun tidak bisa dipungkiri. Aku jujur akan perasaan ku bahwa aku suka padanya. Aku termakan oleh omongan sendiri yang pernah mengatakan kalau aku tidak bakal jatuh cinta padanya.

Teruntuk kalian semua yang membaca tulisan ini. Ingatlah bahwa cinta bisa tumbuh kapan saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Ada beberapa kisah yang memulainya dengan saling berdebat, ledek-meledek dan bahkan saling tidak akur. Kita tidak bisa menebak tentang perasaan itu.

Jangan salahkan takdir yang selalu mempertemukan kalian dengan seseorang yang kalian benci, karena sejatinya kita tidak tahu orang tersebut ditakdirkan untuk bersama kalian atau sekedar ilusi yang lewat melalui pikiran dan di hati. Nikmati saja alur hidup ini, serahkan semuanya kepada Tuhan yang maha mengetahui dan jangan ada rasa membenci.