Penikmat Kopi Senja
1 tahun lalu · 354 view · 3 menit baca · Politik 68972_89670.jpg
Newrepublic.com/Putin dan Donald Trumph

Benci Komunis Mesra dengan Kapitalis

Harus diakui bahwa komunis yang dibawa PKI pernah melakukan 'kecelakaan' sejarah. Muso dan DN Aidit adalah dua tokoh PKI yang serupa walaupun tak sama. 1948 dipimpin Muso dan 1965 dipimpin Dipa Nusantara Aidit, PKI melakukan kegiatan yang berakhir dengan perang saudara.

Kini, PKI muncul lagi menurut beberapa orang yang mengenal pola gerakan mereka. Ideologi komunis yang berdasarkan TAP MPRS dilarang hidup di Indonesia, kabarnya bangkit lagi. Tulisan ini tak akan masuk keranah remang-remang itu, selain banyak mudharat dari pada manfaat, nantinya malah dijadikan dalil.

Faktanya, Indonesia telah menetapkan komunis sebagai ideologi terlarang, dan segala yang berbau komunis harus dibenci. Bangsa Indonesia harusnya berada diantara ideologi lainnya, tidak memihak salah satu karena sudah memiliki Pancasila. Namun mengapa Indonesia begitu mesra dengan kapitalisme? Kita semua paham bahwa kapitalisme dan komunis merupakan rival, perang dingin yang belum berakhir hingga kini.

Korea Utara dan Cina, dua negara penganut paham komunis dan disisi lain ada Amerika Serikat sebagai simbol kapitalisme. Perang dingin mereka menyeret negara-negara lain untuk mendukung, dan Indonesia salah negara yang terseret pertarungan adikuasa. Itu artinya membicarakan PKI harus melibatkan kepentingan global di Indonesia.

Perang Vietnam Utara dan Selatan adalah contoh pengkondisian negara-negara adikuasa terhadap negara lain. Hari ini perang Korea belum juga berhasil mencapai perdamaian abadi, perang ideologi yang saat ini bertujuan ekonomi. Indonesia sejak lama menjadi sekutu kapitalisme walaupun secara de jure Indonesia menyatakan diri independen. 

Masih segar dalam ingatan kita ketika Amerika Serikat mengembargo persenjataan kita. Indonesia melirik peralatan senjata dari Rusia sebagai solusi, hubungan Indonesia-Australia semakin memburuk. Amerika Serikat sebagai sekutu Australia melakukan embargo sebagai bentuk dukungan terhadap Australia. Semua konflik ideologi tersebut dilandasi kepentingan ekonomi walaupun dibungkus dengan stempel berbeda.

Kemesraan Soekarno dan Uni Soviet sangat menggangu kepentingan AS di Indonesia. Soekarno dianggap menjadi penghalang perusahaan AS untuk menguasai Sumber Daya Alam (SAD) Indonesia. Soekarno pun jatuh setelah peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965, sejarah yang hingga kini masih menjadi polemik.

1965 sebenarnya bukan kali pertama PKI melakukan kesalahan, Musso (1948) telah melakukan percobaan kudeta terhadap pemerintahan saat itu. Wajar bila kemudian bangsa ini menjadi benci terhadap PKI, wajar pula bila rumor kebangkitan PKI direspon dengan tindakan. Namun menjadi tidak wajar bila isu PKI ditunggangi kapitalisme, terutama AS sebagai simbolnya.

Selama ini pemerintahan Jokowi memang terlihat mesra dengan Cina, Vietnam maupun Korea Utara. Ke-3 negara yang memiliki partai komunis sebagai penguasa. AS tentu tidak senang apalagi sejak Indonesia lebih memilih membeli pesawat dan senjata buatan Rusia. Pangsa pasar AS tentu saja berkurang, belum lagi kasus Freeport yang notabenenya perusahaan Amerika Serikat.

Rakyat Indonesia harus bebas dari kedua paham ini, kita telah memiliki Pancasila. Politik luar negeri Indonesia harus bebas aktif tanpa dipengaruhi apalagi dtekan negara manapun. Skenario ini harus bisa dibaca seluruh komponen anak bangsa, kita digerbang perang saudara sebagaimana yang terjadi di Vietnam, Jerman, maunpun Korea.

Kemiskinan dan pengangguran ditambah tingkat pengetahuan serta literasi yang rendah, merupakan potensi konflik horizontal terjadi. Sejarah mencatat, Islam di Indonesia merupakan Islam paling damai. Hari ini kekuatan Islam terus diprovokasi oleh ujaran dan pernyataan yang ingin mengajak umat Islam bertarung secara fisik.

Bangsa Indonesia harus sadar bahwa membenci komunis dan mesra dengan kapitalisme bukan sikap Pancasilais. Kita harus sepakat bahwa keduanya hanya ingin mengambil keuntungan semata. Permainan komunis dan kapitalis harus kita pahami, sudah banyak catatan sejarah terkait hal itu.

Kebencian pada komunis dan kemesraan pada kapitalisme jangan sampai kita buta pada kebenaran. Kita harus mampu membedakan mana tulus dan mana munafik, Orang munafik akan selalu ada sepanjang zaman apalagi mereka yakin tak bisa mengalahkan kekuatan Islam (Syaikh Shalih Al-Fauzan; At-Tauhid.20). 

Siapakah orang munafik dalam kontek ke-Indonesiaan? Mereka yang benci namun mesra dengan kapitalisme, mereka yang menyatakan perang terhadap komunis namun bersama kapitalisme terus mengambil Sumber Daya Alam (SDA), korupsi, kolusi dan nepotisme. Lihatlah bagaimana angka-angka pengurusan proyek yang menggunakan uang rakyat dimanipulasi, apakah orang-orang seperti ini lebih baik dari komunis.

Kita sepakat komunis tak boleh berkarya di Indonesia namun apakah kita disaat yang sama memberikan akses kepada kapitalisme. Apakah hal itu berarti kapitalisme kiblat kita, dan melupakan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pernahkah kita berpikir bahwa ada skenario memecah belah bangsa ini demi kepentingan ekonomi global? 

Pernahkah kita berpikir negara-negara adikuasa memanfaatkan isu komunis sebagai bargaining politik mereka? Siapa paling diuntungkan dari terbelahnya bangsa ini, apakah kita mendapatkan keuntungan atau malah sebaliknya, mari kita memilih taqdir bangsa kita sendiri, jangan berikan pada mereka yang ingin bangsa ini saling bunuh.

Kitapun patut mencermati, menganalisa lalu bersikap, mungkinkah negara-negara adikuasa berdiam diri terhadap konflik yang sedang terjadi. Hari ini semua tokoh mudah dijadikan tertuduh, ingat!!! Intelijen Asing itu nyata ada di Indonesia walaupun sebagaian kita tak melihatnya.

Mari diskusi yang lebih produktif, jangan mau ditunggangi Asing yang mengambil keuntungan dari kebodohan dan emosional kita