Karyawan
1 bulan lalu · 90 view · 4 menit baca · Lingkungan 71212_92551.jpg
ilustrasi.int

Bencana Lingkungan Tanggung Jawab Siapa?

Aku menutup jendela kamar pada suatu sore tahun 2014. Waktu itu aku tinggal di salah satu perumahan tengah kota Pekanbaru, bersama 3 ekor kucing dome yang kutemukan di jalan. Ketiganya kuberi nama Rowena, Maya, dan Browi.

Sudah 2 hari belakangan, Rowena dan Browi flu, sehingga keduanya kupisahkan dari Maya yang mendapat tempat khusus di kandang belakang. Aku kembali mengenakan masker hijau dan mulai memberi mereka obat oral. 

Masih teringat jelas kenangan sore itu saat akhirnya aku mengumpat karena kesal, kabut asap semakin tebal, dan kondisi kewarasan siapa saja mulai terganggu.

Dari berbagai sumber yang kubaca, kabut asap merupakan jenis polusi yang dihasilkan dari campuran beberapa gas dan partikel yang bereaksi dengan sinar matahari. Gas-gas yang terlibat dalam proses ini adalah karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO2), sulfur oksida (SO2), senyawa organik volatil (VOC), dan ozon. 

Sementara itu, partikel-partikel yang terdapat dalam kabut asap adalah asap itu sendiri, debu, pasir, dan serbuk sari.


Banyaknya kandungan yang ada pada kabut asap membuat penghirupnya, selain berisiko mengalami dampak buruk jangka pendek, juga memicu timbulnya dampak buruk jangka panjang seperti kanker paru-paru dan kulit, sebab kabut asap mengandung zat karsinogen atau partikel pemicu kanker.

Penyebab kebakaran lahan dan hutan yang menimbulkan kabut asap tebal diberitakan merupakan ulah manusia yang sengaja melakukannya untuk mengambil keuntungan membuka lahan hutan menjadi areal industri atau sesuatu yang mereka butuhkan. Tidak hanya ulah manusia secara langsung, kebakaran salah satu penyebab sering serta rutinnya terjadi kebakaran hutan di Riau dan sekitarnya juga dipicu oleh luasnya lahan gambut.

Lahan gambut sendiri memiliki karakteristik basah dan lunak yang terbentuk dari akumulasi bahan-bahan organik serta tercampur dengan lapisan mineral dan terendapkan. Asal mula gambut sendiri tersusun dari pelapukan sisa tumbuhan, lumut, hingga binatang yang mati.

Belasan tahun lalu, keluargaku memiliki lahan semi gambut yang diubah menjadi perkebunan. Aku biasanya bermain cari serangga atau mencabut pohon-pohon kecil yang lucu untuk ditanam kembali dalam polybag

Tanah tersebut sangat mudah melesak atau, jika tidak berhati-hati, orang yang menginjak di titik tertentu akan terjeblos masuk ke dalam tanah karena ada bagian-bagian yang memiliki rongga cukup besar di bawah permukaan.

Karakteristik dan lapisan-lapisan yang membangun lahan tersebut membuat lahan gambut sulit dipadamkan jika sekadar tersulut putung rokok atau akibat serpihan api yang tertiup angin, sebab apinya akan dengan cepat merambat. Meski hanya setitik, ia mampu membakar lahan tersebut dengan baik. Intinya, lahan gambut merupakan lahan yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Rongga-rongga yang ada di bawah permukaan lahan gambut tersebut akan membuat api bertahan sangat lama, dan merambat cepat melalui bawah tanah. Itu sebabnya, jika pemadaman dilakukan di permukaan, belum tentu kebakaran selesai. Karena jika api di bawah permukaan tidak padam, maka akan ada waktu untuk membuat api tersebut kembali ke permukaan.

Karena lahan gambut yang mudah terbakar, sulit padam, dan cukup besar pengaruhnya terhadap bencana asap yang bertahun-tahun muncul, maka dibuatlah Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016 tentang gambut, yang di dalamnya terkandung perlindungan dan larangan pengelolaan gambut menjadi perkebunan.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah hal itu mengatasi masalah asap? Jawabannya adalah ya, mengurangi. Tapi tidak menuntaskan. 


Lantas apalagi yang diperlukan? Kesadaran individu yang mewakili kepentingan khalayak, seperti yang dilakukan perusahaan pemegang izin Hutan Tanaman Industri dan Hak Guna Usaha di Riau yang membentuk aliansi dengan beberapa perusahaan dan pemerintah guna mencegah kebakaran lahan dan hutan, sampai tertibnya masyarakat dalam hal kecil yang bermanfaat seperti pembuangan sampah pada satu tempat khusus, sehingga tidak perlu lakukan pembakaran sampah sendiri.

Permasalahan lingkungan sejatinya memang tanggung jawab bersama, tanggung jawab semua orang, sebab yang menghuni bumi bukan hanya pemerintah, sehingga hanya pemerintah saja yang menanggulangi. Bukan pula hanya perusahaan-perusahaan besar dengan segala aktivitasnya yang berkewajiban memulihkan lingkungan, melainkan seluruh lapisan makhluk yang ada di muka bumi.

Membentengi lingkungan dari bencana asap atau sekadar pencemaran dapat dimulai dengan edukasi personal. Jika kita tinggal di daerah sekeliling gambut, maka perlu untuk mencari tahu mengenai gambut dan kiat-kiat tepat agar dapat menghindari bencana kebakaran lahan dan hutan yang dapat timbul akibat gambut sedini mungkin.

Aku jadi berpikir, apakah sebaiknya dibuat pelajaran khusus agar para pelajar kita mengerti dampak dan fungsi menjaga lingkungan dengan benar seperti apa, bukan hanya sekadar sekali pembahasan lalu saja dalam pelajaran tertentu.

Ingatanku kembali ke tahun 2017, di mana waktu itu awal bulan April, aku melepaskan beberapa ekor kucing di pagi hari, lalu membuat sesuatu untuk di makan. 

Ketika memutuskan memakan nasi goreng sederhana itu, kubuka pintu dan mendapati mulut seekor kucingku dipenuhi darah segar dan suaranya tercekat. Dia meringkuk di bawah kursi berpegangan. Dengan perlahan aku berhasil mengecek apa yang membuatnya berdarah sedemikian; sepotong tulang ikan tuna, hasil pencarian si kucing di got rumah tetangga.

Tetanggaku, bahkan aku sendiri, tidak tahu jika sepotong tulang ikan tuna yang dibuang sembarangan akan membunuh seekor kucing lucu. Dari situ kita dapat belajar mengenai pentingnya penanganan tepat. 

Meski tidak sengaja, biar bagaimanapun, tetanggaku telah membunuh kucing tersebut melalui tulang yang dibuangnya. Begitu pula dalam kasus hal lain, walaupun tidak sengaja melakukan hal kecil, sesuatu dapat membuat kerugian yang besar di masa depan.

Banyak contoh yang dapat kita ambil dari ketidaksengajaan berujung malapetaka, meninggalkan ponsel terbuka saat sedang bercakap online dengan selingkuhan, lalu 3 detik kemudian istri Anda membaca pesan tersebut, maka habislah kepercayaannya.


Kita dapat belajar dari apa yang telah terjadi, kita dapat membuat perbedaan yang baik. Melalui tulisan ini, aku ingin menggugah agar selalu melakukan hal yang baik, sebab hal baik selalu melahirkan kebaikan baru, setidaknya harapan tetap ada selama hal baik terjadi.

Hari ini akhir April 2019, langit cerah, belum tahu bagaimana nanti.

Artikel Terkait