Satu tahun lalu dan kedepan adalah tahun yang berat. Di awal 2021, dalam jarak yang tidak terlalu lama, bencana terjadi secara beruntun. Dari kecelakaan pesawat, banjir, longsor, erupsi gurung merapi, gempa dan yang terbaru tenggelamnya kapal selam KRI Manggala 402. 

Belum sempat hilang rasa cemas karena covid-19, bencana hadir bertubi-tubi menaikkan tensi kecemasan dan kepanikan kita. Di tengah informasi mulai menurunnya tren Covid-19 di belahan dunia termasuk Indonesia. Beredar berita dan video tentang lonjakan kasus covid-19 yang meningkat drastis di India. 

Visual tentang jenazah yang memenuhi rumah sakit dan korban yang menjalani perawatan di luarnya secara langsung membuat rasa kuatir kembali meningkat. Pacu jantung kita belum sempat mereda, sudah ada lagi berita duka lainnya.

Berita duka menyelinap di beranda sosial media kita dan menjelma menciptakan kecemasan dan kepanikan publik. Intensitas kecemasan dan kepanikan akan semakin tinggi ketika informasi tersebut dibicarakan secara terus menerus di media, baik media sosial maupun media mainstream.

Kecepatan dan Bencana 

Hari ini kita sedang memasuki satu kondisi dimana demokratisasi informasi sedang berlangsung melalui teknologi. Thomas L. Friedman (2005) menyebut dalam bukunya sebagai pendataran bumi (the world is flat). Akses informasi tidak lagi didominasi oleh bagian belahan tertentu, tetapi melalui teknologi terutama internet semua orang bisa mendapat hak yang sama atas informasi.

Teknologi membuat batas antara yang disana dan disini menjadi menjadi kabur. Batas antara kota dan desa, negara maju dan berkembang sudah tidak ada bedanya selama terkoneksi dalam satu moda komunikasi yakni internet. Teknologi internet yang menjadikan akses kecepatan informasi banyak merubah tatanan dunia.

Kecepatan menjadi kata kunci penting yang merubah banyak hal. Disatu sisi internet menciptakan pola agaliterisme baru tetapi disisi lain kecepatan justru menciptakan petaka. 

Virilio dalam Nugroho (2020) menjelaskan bahwa kecepatan teknologi juga menciptkan kecenderungan yang mengarah pada kepanikan dan kecemasan global. Diksi “kecepatan” tidak selamanya baik. Justru semakin cepat semakin banyak resiko yang dihadapi.

Kemajuan teknologi yang mendengungkan kecepatan dan akselerasi, seolah tidak memberi pilihan ruang dan semua hal dipaksa mengikuti arus yang serba cepat. Dalam kontek tersebut Virilio menyebutkan bahwa kemajuan juga memiliki cacat, yaitu kecenderungan totaliter.

Kejadian beberapa bulan terakhir dimana bencana mendera secara terus menerus dan diberitakan secara massif dapat meningkatkan intensitas kecemasan publik. Dalam konteks cepatnya akses informasi atas bencana yang mendera tidak sedikit membuat orang kehilangan nalar reflektif dan rasa empatinya.

Hoax dan Empati. 

Ketika bencana melanda di era teknologi, banyak pihak, baik individu maupun media berusaha menjadi yang utama menyebarkan kondisi terkini. Berebut menjadi yang utama memberi informasi adalah salah satu ciri era ini.

Konsekuensi dari hal tersebut tanpa budaya check dan re-checks seseorang dengan mudah mendapatkan sekaligus membagikan informasi. Namun, dari kemudahan itu muncul suatu masalah baru, yakni tersebarnya hoax dengan mudah.

Hoax merupakan kekacauan informasi yang sering dipahami sebagai misinformasi dan disinformasi. Misinformasi adalah informasi yang tidak benar namun orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi tersebut benar tanpa bermaksud membahayakan orang lain.

Sementara disinformasi adalah informasi yang tidak benar dan orang yang menyebarkannya juga tahu kalau itu tidak benar. Hal ini merupakan kebohongan yang sengaja disebarkan untuk menipu, membahayakan dan bahkan menciptakan kecemasan.

Penyebar atau pembuat hoax merupakan manusia yang minim nalar reflektif. Betapa bahayanya ketika hoax mampu menciptakan kecemasan, kerusuhan dan bisa jadi sampai menghilangnya nyawa. 

Dalam kondisi bencana, disinformasi kerap kali dilakukan oleh pihak, oknum atau pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai panggung politik. Ada agenda tertentu atas bencana yang sedang terjadi.

Melalui pemberitaan yang massif atas sebuah bencana, dengan harapan intensitas kecemasan meningkat, sebisa mungkin ada pihak yang memanfaatkan kondisi tersebut. Dalam kondisi masyarakat yang cemas, agenda politik mereka mudah untuk dijalankan.

Sementara dalam kontek matinya empati, sebagian media kita mungkin lebih tertarik memberitakan kesedihan korban atau keluarga korban. Mereka suka menjual air mata dan narasi-narasi irrasional atas bencana. Demi rating atau adsense, mereka tidak lagi memperdulikan rasa empati.

Hal tersebut bisa kita lihat dalam kejadian jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 beberapa bulan lalu dan semoga hal yang sama tidak terjadi pada kejadian tenggelamnya kapal selam KRI Manggala 402.

Gambaran diatas menggambarkan bagaimana kecepatan teknologi sangat mungkin menciptakan petaka yang tidak kalah dasyat dari era-era sebelumnya. Demokratisasi informasi yang diagung-agungkan juga menciptakan paradoksal. Sebuah kondisi dimana teknologi juga bisa menciptakan petaka-petaka baru.

Maka bisa dikatakan bahwa salah satu bencana kita hari ini adalah kecepatan teknologi. Ketika kecepatan tidak mampu lagi membuat orang mampu berfikir mendalam (reflektif) sehingga dengan mudah menyebar informasi yang belum jelas asalnya. 

Ketika kecepatan dimanfaatkan untuk membangun gelembung-gelembung citra untuk kepentingan pragmatis. Maka ketika itu pula petaka itu hadir. Dunia sedang menghadapi masalah baru ketika hal tersebut tidak mampu diatasi.