Sindrom Desember


Malam ini,
aku meminta izin untuk menulis puisi.
Tentang sebuah bulan pada kalender Masehi.
Menyiasati penghujung bulan yang tak berujung:
"Membuatku meminta kembali sebelas bulan sebelumnya"

Bulan ini,
aku memanjatkan amin bagi semoga.
Tentang sebuah doa untuk tiga ratus enam puluh lima hari.
Menjelajahi dimensi ruang dan waktu yang telah silam:
"Kembali ke masa di mana hari-hari lebih indah dan nyata dari hari ini"

Saat Kabisat belum menjerat tanggal fana.
Saat kau dan aku, manunggal dalam cinta.
Dua wajah, dua tubuh namun satu jiwa.
Dalam rasa, dalam altar tanpa berhala.

Saat pancaroba tubuh dan perasaan,
belum mengejawantahkan bait temu.
Saat musim penghujan belum datang,
menuangkan berbagai sakit dan penyakit.

Seperti saat kemarin,
yang memberikanku Flu.
Dan sekarang,
yang menghadiahi Rindu.

Aku sendirian,
bersama Desember
bersama Hujan
Namun tanpa dirimu


Pagi, Siang, Sore dan Malam yang Muram


Aku selalu memulai pagi dengan perasaan kehilangan.
Ketika kau diam-diam keluar dari mimpi.
Namun mimpi adalah cara Tuhan: 

"Mengingatkanku bahwa setidaknya pada suatu hari, hatimu pernah aku miliki"

Siangnya, aku semakin terbengkalai bersama sendiri.
Ketika keramaian tak mampu lagi mengusir sepi.
Namun adakah yang lebih setia dari secangkir kopi: 

"Yang bersetia dalam sunyi saat rindu menyayat-nyayat relung renung dengan tak peduli"

Tapi, sore akan tetap datang untuk melahirkan beberapa sajak.
Membantu bahasa yang tak kuasa mengikis arti dari bersarak.
Dan surat yang tersirat adalah suratanku: 

"Dan kelak disaat bumi membuat jarak, aku masih punya sajak dan jejakmu untuk kujajak"

Ufuk senja, memang selalu pekak serupa gelak dari sang gagak.
Namun jingga tak dapat menenangkan lebam dan bengkak.
Abu, biru, ungu dan semua warna pilu membentak: 

"Ketika sesak memori telah terkunci dalam ingatan, selalu membuatku terinjak-injak dan tak pernah mau beranjak"

Namun guruh akan kembali bergemuruh.
Dan aku ingin menjadi kupu-kupu saja.
Sebab kau adalah kupu-kupu hitam: 

"Yang terbang di gelapnya masa silam, betapapun tak nampak, kepakmu akan selalu menggetarkan bayangan"

Dan pada malam hari, aku ingin menangkap kunang-kunang.
Dan akan kulepaskan ketika siang.
Jika ia bisa terbang saat itu juga: 

"Maka aku akan berhenti merinduimu saat ini, kini, nanti dan selamanya"

Sungguh, pada heningnya jam tiga pagi aku kian sekarat.
Penuh noda dan trauma yang berkarat.
Aku hanya ingin mencurahkan rasa: 

"Pada lampu jalan aku berterus terang, pada alam raya aku menabuh genderang, karenamu aku tetap gemirang"

Namun aku tetaplah aku.
Dari sudut manapun kau melihatku.
Aku bukanlah rumah:

"Aku adalah entitas yang pernah kau beri identitas sebagai kekasih, namun tak pernah kau perbolehkan mendiami rumah kasih dari kekasih"

Ah lupakan, aku ingin menatap kaca dengan berkaca-kaca.
Bersenda gurau dengan jarum jam yang terus tertawa.
Namun sungguh sekarang aku memanjat asa:

"Aku akan tetap mencintaimu dengan sepenuh doa, dan mendoakanmu dengan sepenuh cinta"

Atau mungkin aku ingin terdiam seraya menyilam kelam.
Memaknai kepergian warna dan nada.
Menumbuhkan bunga dengan air mata:

"Agar diam-diam aku dapat menukil esensi dari sebuah perpisahan yang bahkan tanpa aba-aba"

Ooo sayangku, tolong jaga setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki.
Agar cahaya fiksi tetap menelusup sudut-sudut realitas yang ironi.
Sekadar melontarkan tanya atau diskusi:

"Masihkah kau peduli dengan kabarku? Atau dengan hubungan ini?"


Ajari Aku Menjadi Bencana


Ajari aku menjadi tanah agar kelak menimbulkan gempa depresi..


Ajari aku menjadi api agar kelak menimbulkan kebakaran mimpi..


Ajari aku menjadi air agar kelak menimbulkan tsunami elegi..


Ajari aku menjadi angin agar kelak menimbulkan taifun gobar hati..


Atau ajari aku menjadi dia yang tahu bagaimana membuatmu terlunta-lunta..


Dia yang membuatmu terisak-isak sedu dan tertimpa hujan dalam payung nestapa..


Dia yang membuatmu kehilangan spektrum warna sececah pelangi terbias sempurna..


Dia yang menggurat sakit yang justru engaku rakit menjadi kata dan frasa berirama cinta..


Tolong, tunjukan padaku di bagian sebelah mana luka dan darah dapat ku torehkan..


Sebab, aku juga ingin menjadi sesuatu yang kelak selalu engkau ingat dan puisikan..


Aku Adalah...


Aku adalah Nahkoda

dengan Perahu Cinta

berbahan bakar Air Harapan

yang tak pernah kau beri samudera

untuk sampai pada Pelabuhan Hatimu


Aku adalah Pilot

dengan Pesawat Cinta

berbahan bakar Angin Rindu

yang tak pernah kau beri landasan

untuk sampai pada Bandara Hatimu


Aku adalah Masinis

dengan Kereta Cinta

berbahan bakar Api Hasrat

yang tak pernah kau beri rel

untuk sampai pada Stasiun Hatimu


Aku adalah Sopir

dengan Bus Cinta

berbahan bakar Solar Ambisi

yang tak pernah kau beri aspal

untuk sampai pada Terminal Hatimu


Aku adalah Kusir

dengan Delman Cinta

berbahan bakar Tenaga Renjana

yang tak pernah kau beri tanah

untuk sampai pada Ibukota Hatimu


Aku adalah Kekasihmu

dengan Motor Cinta

berbahan bakar Bensin Puisi

yang tak pernah kau perbolehkan

untuk sampai pada Rumah Hatimu