Dua kali Indonesia diguncang gempa dalam tempo yang berdekatan. Lombok diguncang gempa beruntun pada 29 Juli 2018 bermagnitudo 6,4 dan pada 5 Agustus 2018 bermagnitudo 7 (Kompas, 2018) serta menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luluh lantaknya beberapa rumah, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan infrastruktur lainnya. 

Isak tangis, rasa takut, rasa sedih, dan rasa sakit tergambar jelas pada setiap wajah korban bencana. Bantuan kemudian berdatangan, dari relawan, pemerintah, hingga penggalang dana sosial. TNI, Polri, Basarnas juga berjibaku untuk melaksanakan prosedur penanganan korban terdampak bencana alam tersebut. 

Ucapan dukacita dan keprihatinan yang luar biasa juga ditunjukkan oleh masyarakat kita. Bantuan-bantuan secara moril hingga materiil terus diupayakan untuk korban terdampak bencana. Tidak mudah memang menghadapi ancaman maut yang mengepung segenap jiwa dan raga kala tempat untuk dipijak pun rasa-rasanya juga sedang berperang melawan kita.

Belum tuntas kesedihan dan ketakutan berlalu, ganti masyarakat Palu dan Donggala yang dikepung maut. Gempa bermagnitudo hingga 7,4 mengguncang kehidupan yang ada di sana pada tanggal 28 September 2018 (Tirto, 2018). Tidak tanggung-tanggung, setelah tanah terkoyak, gelombang tsunami pun menyahut dari laut yang membuat masyarakat berteriak penuh rasa takut karena nyawa mereka sedang diujung maut. 

Palu dan Donggala hancur luluh lantak. Jiwa dan raga para korban terdampak bencana pun ikut tersentak dan terkoyak. Hanya puing-puing bangunan dan hamparan mayat tertimbun reruntuhan yang semakin meluluhlantakkan hati setiap mata yang memandang. Bantuan pun juga langsung berdatangan dari berbagai kalangan. 

Pemerintah daerah setempat dan pemerintah pusat juga saling bahu-membahu untuk melakukan penanganan para korban yang terdampak bencana alam. Bahkan, beberapa negara lain juga ikut merasakan kepedihan sehingga menawarkan bantuan. Di sinilah nilai-nilai kemanusiaan yang sesungguhnya menjadi tampak dan dirasakan.

Dari dua bencana alam yang terjadi di tempat yang berbeda ini lantas juga menimbulkan narasi. Kita akan melihat dan mendengar beragam narasi. Salah satunya adalah narasi superstitious beliefs. Narasi ini tidak jarang memantik beragam ekspresi dini yang justru bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan cenderung menimbulkan antipati. 

Narasi non saintifik yang didengungkan pasca bencana alam juga tidak baik dari segi psikologi maupun sosiologi. Baiklah, untuk memulainya, seyogyanya kita harus tahu tentang apa itu superstitious beliefs dan mengapa hal tersebut menjadi berbahaya terutama di saat-saat pilu pasca bencana seperti ini. 

Superstitious belief dalam Oxford Dictionary didefinisikan sebagai “A widely held but irrational belief in supernatural influences, especially as leading to good or bad luck, or a practice based on such a belief”. Secara sederhana, superstitious beliefs merupakan kepercayaan secara irasional yang cenderung membuat orang mempercayai bahwa ada campur tangan supranatural atas kejadian sosial. 

Dikatakan irasional karena kepercayaan ini cenderung non-saintifik dan tidak teruji kebenarannya (Talmont & Kaminski, 2009). Superstitous beliefs ini hadir karena manusia percaya bahwa ada kekuatan (supranatural) di luar kemampuannya yang turut serta menentukan hasil dari tindakan yang dilakukannya. 

Superstitious belief ini merupakan konsekuensi dari kultur masyarakat religi yaitu yang percaya bahwa adanya kekuatan adikodrati di atas manusia memiliki pengaruh dalam apa yang mereka lakukan dan apa yang akan terjadi (Zad, 2014). Perbedaan dari superstitious beliefs dan religion beliefs terletak pada asumsi apakah Kitab Suci memuat ajaran tentang itu. 

Misal, superstitious belief tentang angka 13 yang membawa kesialan, padahal dalam ajaran agama tidak pernah menyebutkan tentang hal itu. Meski pun demikian, seperti yang sudah disebutkan bahwa superstitious belief merupakan konsekuensi yang hadir dari kultur sosial masyarakat religi yaitu masyarakat yang percaya pada kekuatan supranatural yang mempunyai pengaruh pada kehidupan dan tindakan-tindakan mereka.

Block & Kramer (2009) menyebutkan bahwa ada dua klasifikasi superstitious belief. Pertama, yaitu cultural superstitious belief yang hadir dalam kultur sosial masyarakat dan dipercayai secara luas seperti angka 7 yang membawa keberuntungan dan angka 13 yang membawa kesialan. Masyarakat menjadi percaya bahwa angka 7 menjadi angka good luck dan hal tersebut akan membawa hasil yang baik dalam kehidupan mereka. 

Lalu, angka 13 yang menjadi symbol bad luck yang cenderung membawa kesialan dan hasil buruk dalam kehidupan. Secara mistis mereka mempercayai bahwa ada kekuatan supranatural yang mempengaruhi angka-angka tersebut sehingga secara kultural mereka percaya terhadap konsekuensi penggunaan angka-angka tersebut dan hal itu “a widely held” yaitu dipercayai secara luas. 

Kedua, yaitu personal superstitious belief yang dihadirkan secara personal oleh setiap individu seperti benda-benda pribadi yang dianggap sakti (jimat), dan juga personal superstitious belief lainnya yang secara personal diyakini. Lebih lanjut, Sagone & Caroli (2013) juga menyebutkan bahwa ada dua tipe superstitious belief yaitu positive superstitious belief seperti menggunakan simbol-simbol keberuntungan yang dipercayainya agar tidak sial. 

Lalu, negative superstitious belief seperti melihat kucing hitam, mendengar suara gagak, foto seseorang dalam pigora yang jatuh dan pecah, yang dipercayai sedang dan akan terjadi hal-hal buruk, dan lain sebagainya

Narasi superstitious belief ini juga menjangkiti masyarakat kita pasca bencana alam di Lombok, Palu, dan Donggala. Di Lombok, pasca gempa yang meluluhlantakkan Lombok dan membuat pilu hati korban terdampak bencana, ada narasi yang jauh lebih memilukan terjadi. Tidak tanggung-tanggung, korbannya adalah Muhammad Zainul Majdi yang akrab disapa TGB. 

Ia yang kala itu notabene masih menjadi Gubenur Nusa Tenggara Barat. Narasi superstitious belief yang membuat TGB menjadi korban ini dihadirkan dengan narasi politis. Kita sekalian tahu, bahwa TGB dulunya adalah salah satu pendukung dari kubu Prabowo, ia juga sempat masuk dalam jajaran tim sukses Prabowo. 

Singkat cerita, ia berbelok arah, ia akhirnya memutuskan untuk mendukung Jokowi dua periode. (Tribunnews, 2018). Keputusan TGB ini lantas memantik banyak reaksi. Ada yang menyayangkannya mengapa berbelok arah, ada juga yang mendukung keputusan bulatnya tersebut. 

Beberapa waktu pasca kejadian itu, Lombok diguncang gempa beruntun yaitu pada 29 Juli 2018 bermagnitudo 6,4 dan pada 5 Agustus 2018 bermagnitudo 7 (Kompas, 2018). Saat korban terdampak bencana sedang berduka, ada kejadian pilu lain yang terjadi. Sialnya, TGB yang menjadi korbannya. 

Beberapa kalangan masyarakat (warganet) lantas mengaitkan kejadian gempa yang mengguncang Lombok tersebut dengan keputusan politik TGB bergabung ke kubu Jokowi. Mereka menyebutkan bahwa kekuatan supranatural (Tuhan) sedang menegur TGB karena justru berbalik mendukung Jokowi. 

Bahkan, tragedi gempa yang menelan banyak korban jiwa tersebut dikait-kaitkan dengan hukuman Tuhan pada TGB yang ikut ditanggung oleh masyarakatnya (Tirto, 2018). Personal Superstitious Belief masyarakat yang seperti ini sama sekali tidak rasional dan berbahaya.

Superstitious Belief yang seperti ini bukan yang pertama kali terjadi. Rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga mengalami hal serupa. SBY yang ketika itu naik jabatan sebagai presiden pada tahun 2004 terpaksa menanggung konsekuensinya. Mengutip dari Qodari (dalam VOA News, 2009) yang menyebutkan bahwa tragedi Tsunami Aceh dan rentetan bencana lainnya oleh beberapa kalangan masyarakat diyakini sebagai dampak dari SBY yang menjadi presiden. 

Masyarakat tersebut mempercayai bahwa Tuhan sedang menghukum Indonesia karena SBY menjadi presiden kala itu. Superstitious belief yang terjadi pada TGB di tahun ini tentu saja sangat berbahaya mengingat bahwa narasi yang diangkat merupakan narasi politis. Kita tahu bahwa konstelasi perpolitikan kita sedang panas-panasnya. Bahkan, masyarakat juga dilanda polarisasi sosial karena perbedaan preferensi politik. 

Dalam suasana berduka ini, segi emosional dan mental masyarakat sedang dalam kondisi yang amat lemah. Narasi Superstitious Belief dalam balutan politis tersebut bisa jadi sebuah hal yang sangat berbahaya secara sosiologi karena ada peluang terjadinya konflik sosial. Masyarakat yang sedang lemah secara mental dan emosional memang cenderung akan irasional dan mudah terpengaruh, apalagi jika dikaitkan dengan politik dan unsur religi. 

Mengingat bahwa track record keduanya di Indonesia sedang dalam kondisi yang sensitif sehingga sentuhan sentimental sekecil apa pun dapat berpengaruh. Dikhawatirkan, jika masyarakat terpengaruh dengan narasi yang diangkat, terlebih narasi tersebut menyudutkan orang lain, bisa jadi prasangka timbul dan ujungnya mengarah pada antipati. Mengerikan sekali.

Belum selesai duka masyarakat Lombok, beberapa waktu berselang Palu dan Donggala diguncang gempa hingga magnitudo 7,4 sekaligus merangsang tsunami yang meluluhlantakkan tempat tersebut (Tirto, 2018). Kita kembali harus melihat kesedihan, kematian, dan beragam duka terpancar dari saudara-saudara kita di sana. Rasa sedih dan kehilangan menyelimuti segenap masyarakat Indonesia. 

Namun, di tengah-tengah suasana duka, masih ada saja superstitious belief yang dikumandangkan dengan narasi politis. Adalah Ketua DPP FPI Sobri Lubis yang mengatakannya dalam sebuah acara “Doa Untuk Keselamatan Bangsa” yang digelar oleh FPI di pelataran Monas tanggal 29 September 2018 silam. 

Dalam sambutannya, ia menyangkutpautkan tragedi bencana di Palu dan Donggala dengan isu kriminalisasi yang melanda Habib Rizieq  dan Gus Nur (Mojok, 2018). Ia menyebutkan bahwa kasus Habib Rizieq dan penetapan Gus Nur sebagai tersangka telah dibalas oleh Tuhan dengan mendatangkan gempa dan tsunami di Indonesia, tepatnya di Palu dan Donggala. 

Gempa dan tsunami di Palu dan Donggala menurutnya merupakan teguran sekaligus hukuman atas kriminalisasi terhadap Habib Rizieq dan Gus Nur oleh rezim. Lagi-lagi, kita harus mendengar dan melihat perilaku irasional ini muncul dan menjangkiti masyarakat. Superstitious belief yang dibalut dengan narasi politis dikumandangkan dengan terang-terangan. Irasionalitas digemakan secara sosial dan emosional. Di tengah kedukaan besar bangsa ini, melihat hal tersebut rasa-rasanya seperti mengalami kesedihan yang berlipat ganda.

Memiliki superstitious belief atau tidak memang merupakan hak personal dari tiap individu. Selama superstitious belief tidak menimbulkan kegaduhan sosial ya it’s okay, it’s fine. Tapi, ketika superstitious belief dinarasikan secara personal dengan narasi politis ditengah-tengah suasana duka yang menyelimuti bangsa ini, sekaligus suasana panas konstelasi perpolitikan saat ini, itu sangatlah berbahaya. Irasionalitas yang dikumandangkan bisa jadi menimbulkan kegaduhan yang memantik konflik sosial, apalagi ada narasi politis dan unsur religi di dalamnya. 

Boleh saja berkata bahwa bencana alam merupakan salah satu cara Tuhan menegur manusia. Supaya manusia-manusia tersebut selalu mawas diri. Namun, menjadi salah ketika menarasikannya melalui narasi yang irasional dan berpotensi memicu prasangka, antipati, dan konflik sosial. Analisis situasi kelompok rentan dalam bencana benar-benar harus diperhatikan agar setiap persepsi yang muncul pasca bencana tidak memantik kegaduhan sosial. 

Saudara-saudara kita sedang membutuhkan pertolongan, dan bukan saatnya mempertunjukkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Hal yang lebih dianjurkan adalah melihat bencana itu secara saintifik, yaitu merupakan fenomena alam yang tak terhindarkan. Sehingga masyarakat bisa berjaga-jaga dan mengambil keputusan yang rasional dalam menyikapinya.

DAFTAR PUSTAKA

Block & Kramer. 2009. The Effect of Superstitious Beliefs on Performance Expectations. Journal of The Academic Sciences, No. 37, 161-169.

Dictionary, Oxford. 2018. Definition Superstition.(online) https://en.oxforddictionaries.com/definition/superstition (diakses 7 Oktober 2018)

Kompas. 2018. 8 Fakta Terbaru dari Gempa Lombok: Jumlah Korban Hingga 199 Gempa Susulan. (online) https://regional.kompas.com/read/2018/08/06/22483671/8-fakta-terbaru-dari-gempa-lombok-jumlah-korban-hingga-199-gempa-susulan (diakses 7 Oktober 2018)

Mojok. 2018. FPI Sangkut-Pautkan Gempa dan Tsunami Palu Dengan Kriminalisasi Habib Rizieq dan Gus Nur. (online) https://mojok.co/red/rame/kilas/fpi-sangkut-pautkan-gempa-dan-tsunami-palu-dengan-kriminalisasi-gabib-rizieq-dan-gus-nur/ (diakses 7 Oktober 2018)

Sagone & Caroli. 2013. Locus of Control and Beliefs About Superstition and luck in Adolescents: What’s Their Relationship?. Journal of Social and Behavioral Sciences, No. 140, 318-323.

Talmont & Kaminski. 2009. The Fixation of Superstitious Beliefs. Journal of Teorema, Vol. 28, No. 3, 81-95.

Tirto. 2018. Mengapa Sebagian Warganet Gemar Mempolitisasi Bencana Sebagai Azab?. (online) https://amp.tirto.id/www.google.co.id/amp/s/samp.tirto.id/mengapa-sebagian-warganet-gemar-mempolitisasi-bencana-sebagai-azab-cQE4 (diakses 7 Oktober 2018)

Tirto, 2018. Penyebab Gempa Palu dan Donggala 28 September yang Memicu Tsunami. (online) https://amp.tirto.id/penyebab-gempa-palu-dan-donggala-28-september-yang-memicu-tsunami-c3vf (diakses 7 Oktober 2018)

Tribunnews. 2018. Keputusan Tuan Guru Bajang Dukung Jokowi 2 Periode Ramai Diperbincangkan, Ini 5 Fakta Gubernur NTB. (online) http://aceh.tribunnews.com/amp/2018/07/05/keputusan-tuan-guru-bajang-dukung-jokowi-2-periode-ramai-diperbincangkan-ini-5-fakta-gubernur-ntb (diakses 7 Oktober 2018)

VOA News. 2018. Superstitious About Indonesia’s Disasters May Affect Political Fortunes. (online) https://www.voanews.com/amp/a-13-2006-07-25-voa12/329777.html (diakses 7 Oktober 2018)

Zad, Roghayyeh Ebrahimi. 2014. Superstitious Beliefs and Some Its Causes (Case Study:Ghachsaran Citizens). Journal of Environment, Pharmacology and Life Sciences, Vol. 3, No. 2, 286-290.