Beberapa hari belakangan ini, hampir di segala penjuru media digemparkan oleh berita seputar problem bencana  alam  yang terjadi di negara ini. Berawal dari berita tanah longsor di Sumedang, banjir di Kalimantan Selatan, hingga berujung pada gempa yang menghantam Majene Sulawesi Barat, dan mungkin masih ada bencana lainnya yang akan menyusul. 

Bencana-bencana alam ini pun membuat kita semakin panik, takut, dan tentunya gelisah. Betapa tidak, penyebaran pandemi Covid-19 belum berakhir, berbagai fenomena alam lainya pun datang bertubi-tubi. Bangsa ini masih berduka akibat ganasnya pandemi Covid-19, kita berduka lagi akibat dihantam oleh berbagai fenomena-fenomena alam lainnya. 

Akibat dari fenomena-fenomena alam ini pun bukan main ganasnya. Selain mengakibatkan rusaknya lingkungan tempat tinggal manusia, fenomena alam juga berimplikasi pada hilangnya nyawa manusia. Banyak manusia yang terkapar akibat reruntuhan bangunan atau karena terseret arus banjir. Misalkan saja banjir bandang di Kalimantan Selatan yang menghantam 120.284 KK dengan korban yang meninggal dunia sampai saat ini berkisar 21 orang (KOMPAS.com, 2021). 

Menariknya, fenomena-fenomena alam yang terjadi pun memicu munculnya berbagai spekulasi liar di ruang publik. Ada yang menggeneralisasi bahwa bencana itu terjadi akibat pembalasan alam terhadap manusia. Ada pula yang berperspektif bahwa itu adalah implikasi dari sikap manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan. Bahkan ada yang memparalelkan bencana alam itu dengan ‘hukuman dari Tuhan.’

Pencermatan lebih jauh akan bencana alam yang terjadi kiranya juga mengindikasikan bahwa sebagai manusia, kita sejatinya harus merenung dan bernanah diri sembari bertanya; Mengapa semua ini terjadi? Apakah betul Tuhan menggunakan bencana alam untuk menghukum manusia? 

Tulisan ini ingin menempatkan bahwa berbagai bencana alam yang terjadi hari-hari ini, merupakan akibat ulah dari manusia sendiri. Karena itu, manusia harus introspeksi diri serentak juga harus menyadari bahwa selama ini, kita (manusia) memang sudah menunjukkan sikap yang tidak bersahabat dengan alam.

Bencana alam  dan ulah manusia

Bencana alam terjadi di Indonesia hari-hari ini tidak sepenuhnya terjadi karena faktor alam. Memang menurut letak geografis, geologis, hidrologis, dan demografis bahwa Indonesia termasuk daerah yang rentan bencana alam. Sehingga kalau hujan ekstrem datang, potensi bencana alam besar. Namun itu tidak mengindikasikan bahwa sepenuhnya berencana  alam yang terjadi akibat faktor alam, bukan manusia. Bencana alam seperti banjir juga sepenuhnya adalah ulah manusia. 

Kita ambil contoh perihal banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan. Di Kalsel, penyebab banjir yang utama adalah tidak sepenuhnya oleh curah hujan ekstrem. Ada beberapa faktor lain yang menjadi penyebab seperti, rusaknya daerah tangkapan air, karena lubang-lubang tambang yang menganga, degradasi hutan, dll (KOMPAS, 25 Januari 2020). Dengan itu, hemat saya bahwa fenomena alam seperti banjir sejatinya juga adalah akibat sikap manusia yang tidak bersahabat dengan alam.

Menggali dari Ensiklik Paus Fransiskus yang berjudul Laudato Si (Puji Bagi-Mu), bahwa berbagai bencana alam atau yang oleh Fransiskus sebut sebagai ‘kemerosotan alam’ terjadi akibat mental manusia yang serakah dan pola kerja manusia yang destruktif atau kemerosotan ‘lingkungan manusia’ (Fransiskus, Laudato Si, 2015). 

‘Kemerosotan alam’ dan ‘kemerosotan lingkungan manusia’ keduanya saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Perihal kemerosotan alam, Paus mengambil beberapa contoh seperti; polusi, perubahan iklim, masalah air, dan hilangnya masalah keragaman hayati. Sedangkan perihal kemerosotan lingkungan manusia, Paus mengambil contoh persoalan seperti penurunan kualitas hidup manusia, kemerosotan kehidupan sosial, serta ketimpangan global (Fransiskus, Laudato Si, 2015). 

Bertolak dari ‘refleksi’ Paus Fransiskus, saya pun menduga bahwa berbagai fenomena alam yang terjadi hari-hari ini seperti banjir sangat erat kaitannya dengan sikap manusia. Dalam arti, bahwa fenomena banjir seperti di Kalimantan adalah ulah manusia sendiri. Akhlak dan hati nurani manusia yang mati ketika berdampingan dengan alam. Sehingga yang terjadi hanyalah pemusnahan dan penghancuran terhadap alam.

Bencana alam dan Tuhan

Ketika bencana alam terjadi, orang kemudian menghubungkannya dengan Tuhan. Biasanya selalu muncul pertanyaan-pertanyaan besar; apa mau Tuhan dengan semua ini? Kenapa Tuhan yang Maha pengasih dan Penyayang membiarkan dan menciptakan bencana buruk semacam banjir yang menimbulkan berbagai kerusakan bahkan korban jiwa? Di mana keadilan Tuhan?

Bukan tidak mungkin bahwa pertanyaan-pertanyaan besar seperti itu sempat terlintas di benak masyarakat yang terkena terkena bencana alam seperti banjir. Dan menjadi suatu yang wajar kalau saja pertanyaan-pertanyaan semacam itu dilontarkan dalam situasi yang chaos. Tapi apakah betul bahwa semuanya itu adalah hukuman Tuhan atas ulah manusia? 

Bencana alam bukanlah kehendak Allah atau bagian dari rencana Allah untuk menghukum manusia. Tentu kita kenal dengan premis-premis seperti; Tuhan itu Maha Baik, Maha Kuasa, Maha Adil. Melihat premis-premis ini, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa Tuhan itu jahat atau buruk. Kesimpulan demikian pastilah inkonsistensi dengan premis-premis yang sebelumnya tadi. Kalau menghubungkan premis-premis tersebut dengan fenomena-fenomena alam yang terjadi hari-hari ini, apa boleh kita menyimpulkan bahwa Tuhan adalah Allah yang menghukum? 

Jelaslah bahwa bencana alam yang sekarang terjadi, misalkan banjir bandang yang melanda Kalimantan Selatan tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan atau bukan pula campur tangan yang ilahi. Memang sebagai orang yang beriman, kita tentunya sangat mengagumi dan mengakui bahwa Tuhan yang kita percaya adalah Tuhan Sang Pencipta. Karena Sang Pencipta, tentu ia punya otoritas penuh dalam mengendalikan dan mengatur ciptaan-Nya. 

Merubah Cara Pandang Tentang Alam

Berhadapan dengan pluralitas bencana alam yang hari-hari ramai diperbincangkan, saya menyimpulkan bahwa faktor utamanya sikap manusia sendiri. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa sebagai manusia kita seringkali menampilkan sikap yang destruktif terhadap alam. 

Oleh karena itu, transformasi sikap dan pola pikir kita tentang alam harus segera diubah. Kita tidak boleh lagi memandang alam sebagai objek kita. Kita harus lebih bertanggung jawab dan bersahabat terhadap alam. Dengan sikap seperti itu, pastilah kita terhindar dari bencana alam seperti banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan.

Seperti kata Paus Fransiskus dalam Laudato Si, bahwa sikap, kebiasaan, tindakan, pola pikir, dan egoisme dalam memandang alam harus segera diubah, sebab “ memandang alam sebagai objek laba dan keuntungan saja, memiliki konsekuensi serius bagi masyarakat” (Fransiskus, Laudato Si, 2015). 

Dengan demikian, yang menjadi harapan kita bersama adalah semoga tidak ada lagi bencana alam terjadi, seperti banjir bandang yang memporak-porandakan Kalimantan Selatan. Dan harapan ini tentunya dibarengi dengan sikap kita yang lebih bersahabat dengan alam.