Penulis
2 tahun lalu · 588 view · 3 menit baca · Politik 2016-04-23_21.21.28.jpg
Foto hasil reklamasi pantai Manado

Benarkah Reklamasi Hanya untuk Orang Kaya?

Sebelum membicarakan hasil reklamasi teluk Jakarta yang masih jauh dari penampakan, apalagi sudah tertunda, ada baiknya kita melihat hasil nyata reklamasi teluk Manado yang kini sudah dinikmati fungsinya baik yang dulu pro maupun kontra.

Meski yang masih mengaku menolak, setahuku, saban hari duduk nongkrong di atas tanah reklamasi. Menelanjangi diri sendiri, menikmati tapi masih berkoar: “Saya tetap tolak.” Itulah ciri khas gerakan sosial di Indonesia: tindakan dan perkataan selalu tidak sejalan. Kaum Munafikin, meminjam istilah teman yang berprofesi Ustadz.

Bagi saya penting untuk berkaca dari Kasus Reklamasi Pantai Manado, Pertama karena alasan penolakan sama persis yang di Jakarta saat ini: pemiskinan nelayan tradisional, merusak ekosistem laut, dan dampak sosial lainnya yang dihasilkan.

Sementara sisi lain, alasan pentingnya reklmasi saat itu, karena geografi Kota Manado yang di selimuti gunung yang menyebabkan sempitnya ruang hidup dan berusaha. Suka tidak suka reklamasi adalah pilihannya. Sama dengan Jakarta: ruang usaha yang makin sempit.

Mungkin yang membedakan dalam urusan penolakan reklamasi, hanya pada alat kampanyenya. Bila dulu bermodal selebaran, saat ini mengunakan media sosial. Menulis sembari menikmati kopi. Itulah buah karya dari kapitalisme yang kita hujat saat ini.

Menulis sambil menikmati tulisan di Qureta.com: Sesat Pikir dan Hilangnya Rasionalitas, tulisan ini lahir sebagai tanggapan dari tulisan saya sebelumnya “Andai Karl Marx Bangkit dari Kuburnya dan Menyoal Kenaifan Aktivis Anti-Reklamasi.

Inti dari tulisan Sesat pikir dan hilangnya rasionalitas itu: hujatan pada Pemodal yang membuat reklamasi, hanya mencari untung dan membuat orang makin miskin. Meski tanpa memberikan data berapa orang miskin sebelum dan sesudah reklamasi.

Benarkah Tuduhan itu?

Saya punya teman nelayan, tinggal di Karang Ria. Saya memanggilnya Ungke (Panggilan sayang, etnis Sangihe), ia juga tinggal di kawasan reklamasi Pantai Manado tahap II.

Apakah ia miskin karena reklamasi? Setahu saya, sebelum reklamasi keluhannya: Ikan sudah susah di laut dekat pantai, ikan makin kelaut dalam, sementara alat tangkapnya tidak memadai, hanya pukat tradisional, plus lampu petromaks. Dua bulan lalu, saat saya ke rumahnya, keluhan yang sama itu tetap muncul.

Nah, dengan situasi seperti itu apakah akan kita mengatakan reklamasi memiskinkan nelayan. Ok, kita keluar dari Manado, ke Kota Bitung. Kota yang jauh dari reklamasi pantai.

Setahuku, sebagai orang pernah hidup dengan mereka di Kota Bitung, pernah ikut ke laut juga. Keluhannya nelayan dari tahun 1997 sampai saat ini: masalah alat tangkap yang tradisional, kekurangan bahan bakar. Keluhan yang menyebabkan kemiskinan itu sudah berurat-karat, bukan karena reklamasi.

Kembali ke kawasan reklamasi Pantai Manado, seperti Pondol, Sario Tituwungen dll. saat ini menjadi kawasan mahal, menjadi kawasan kos-kosan bagi mereka yang bekerja di Kawasan Reklamasi, jadi kawasan kuliner, menambah pendapatan hidup bagi mereka yang tinggal di kawasan ini.

Belum lagi, dulu PKL yang harus dikejar sana-sini karena berjualan dipinggirin Trotar. Kini mereka bisa menjual bebas makanan di kawasan reklamasi Marina Plaza.

Coba buka memori lagi, 15 Tahun lalu sebelum reklamasi pantai. Kawasan Boulevard Manado itu gelap-gulita, hanya tempat pembuangan sampah dan segala macam hajat manusia. Di penghujung tahun 1998, saat melewati kawasan yang gelap gulita itu, saya harus digebuk preman. Coba Bandingkan sekarang!

Karena Reklamasi pantai, angkah penganguran di Kota Manado berkurang, angkatan kerja yang tidak tertampung jadi PNS kini bisa bekerja di kawasan reklamasi. Selama 5 Tahun terakhir, angka penganguran di Kota Manado hanya berkisar di angka18,000-an jiwa (Data BPS-Tahun 2014)

Imbasannya, adalah naiknya Indeks Harapan Hidup. Selama 5 tahun terakhir, Provinsi Sulawesi Utara berada di 3 besar di Indonesia, dan Kota Manado (72,62) tertinggi dari wilayah lainnya di Sulawesi Utara. So..nikmat apalagi yang kalian dustakan dari reklamasi Pantai?

Itu hal yang utama bila bila ingin mengatai-ngatai ada pemiskinan terstruktur lihat dulu angka harapan Hidup di suatu wilayah. Pertanyaannya, siapa yang hilang sisi kemanusiaanya? Saya atau anda semua yang tidak mengakui tapi menikmati secara terang-terangan hasil reklamasi.

Benarkah terjadi penggusuran nelayan? Lihat data, Tahun 2000 Jumlah Nelayan di Kota Manado hanya berkisar 4%, angka ini tidak mengalami penurunan drastis selama 10 Tahun terakhir. Bila pun ada penurunan jumlah itu alami. Sama juga dari perpindahan dari PKL jadi PNS atau dari petani bekerja di Sektor Jasa.

Nah kalau ada pertanyaan, kenapa hanya berkutat sisi ekonomi dari reklamasi. Ya, ialah itu pasti. Karena itu basis dasar ketika bicara Kemanusiaan. Manusia hidup itu, hal dasar yang harus dipenuhinya adalah kebutuhan ekonomi, sebelum yang lainnya.

Terakhir, sisi kemanusiaan saya terbangun dari fakta dan data yang nyata. Bukan dari menuduh orang berkonspirasi dengan kekuasaan. Itu sudah usang. Saya tidak membangun rasionalitas dari romantisme belaka. Karena romantisme itu palsu.