Berdasarkan survei yang dilakukan Indo Barometer, disebutkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja kabinet Jokowi mencapai 54 persen lebih. Angka ini lebih baik jika dibandingkan kabinet sebelumnya dalam periode yang sama (100 hari).

Dalam survei tersebut, juga disebutkan jajaran menteri yang mendapatkan ranking terbaik. Temuan mereka mengatakan Prabowo bersaing ketat dengan Sri Mulyani, diikuti Erick Thohir.

Sebuah survei yang dilakukan dengan kaidah ilmiah sejatinya dapat dipercaya. Akan tetapi, boleh pula diragukan kesahihannya. Hal itu terkait dengan istilah survei sebagai potret dan lukisan.

Sebagai koordinator provinsi sebuah lembaga survei yang berkantor di Jakarta, saya punya sedikit pengalaman terhadap survei, mengapa sebuah survei dikatakan lukisan dan potret. Lukisan berarti gambaran berdasarkan keinginan klien, sementara potret survei apa adanya tanpa rekayasa.

Pertanyaannya sekarang, apakah survei yang dilakukan Indo Barometer merupakan lukisan atau potret? Sebab muncul pertanyaan itu dikarenakan transparansi keuangan lembaga survei patut dipertanyakan. Selain itu, tenaga teknis di lapangan yang sering mengisi sendiri lembar pertanyaan.

Latar belakang pendidikan dan politik pewawancara selama ini juga tak pernah dipublikasi lembaga survei. Barangkali hanya koordinator provinsi dan kabupaten/kota yang dipublikasikan. Meski ini teknis, akan tetapi memiliki pengaruh terhadap hasil survei.

Bayangkan saja apabila mereka pendukung Prabowo, kita semua pasti dapat menebak hasil wawancara tersebut. Kejujuran pekerja lapangan dan koordinator sangat diperlukan. Kalau mau objektif, apa yang membuat Prabowo meraih 26,8 persen?

Selama ini, tidak ada inovasi dan gebrakan dari Prabowo yang berarti. Apakah karena ia cukup dikenal sehingga angka 26 persen ia raih? Bahkan urusan Sukhoi hingga kini belum kelar, bagaimana mungkin Prabowo menteri terbaik?

Jika tujuan survei agar Prabowo makin kerasan bersama Jokowi, saya kira survei ini sukses. Namun jika ingin memberikan penilaian objektif, saya kira survei ini sangat subjektif.

Setidaknya Prabowo belum mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak bergantung pada Amerika Serikat. Salah satu sebab Sukhoi belum terealisasi karena kita takut embargo Amerika Serikat.

Menhan dan jajarannya juga tidak memiliki visi bagaimana Indonesia menyejajarkan diri dengan negara Asia, mampu berkreasi dengan produk sendiri. Belum ada arah terobosan dari kemenhan dan jajarannya.

Membaca survei Indo Barometer sebaiknya diselingi tawa dan senyum. Tidak perlu serius menanggapinya, apalagi sampai memuja-muji Prabowo dan Jokowi. Apa mereka lakukan hanya melaksanakan tugas sesuai dengan gaji dan fasilitas yang diberikan rakyat.

Jika pembandingnya kabinet masa lalu, saya kira sudah wajib kabinet ini lebih baik. Sesekali pembandingnya kabinet negara lain yang lebih majulah. Jangan jago kandang.

Usaha survei agar pendukung Prabowo dan Jokowi senang sejauh ini sukses. Politik memang begitu, sering melupakan substansi dan membesarkan kulit persoalan. Kan, yang penting pada fanatik senang?

Dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan belaka, termasuk politik. Siapa pun dapat direkayasa menjadi pahlawan, bahkan superhero. Ilmuwan pun rela mengkhianati ilmunya sendiri.

Bukan berarti survei dan penelitian tidak dapat dipercaya, akan tetapi sikap ragu-ragu merupakan bagian dari sikap ilmiah. Jangan sampai dominasi kebenaran hanya dimiliki lembaga survei mana pun.

Ketika masih aktif di lembaga survei, saya sering mempersoalkan kesahihan hasil survei sendiri. Saya tidak ingin ikut-ikutan membodohi publik, karena tujuan ilmu itu mencerahkan, mencerdaskan, bukan malah menyesatkan.

Sayangnya, selain Indo Barometer, lembaga lain belum memublikasikan temuan mereka. Harapannya ada temuan yang berbeda seperti survei capres. Tidak harus membebek. Hasil berbeda justru akan membuat publik memiliki bahan diskusi, memiliki data pembanding.

Saya dan barangkali Anda boleh tidak puas dengan hasil survei Indo Barometer. Lalu bagaimana sikap kita? Sebaiknya tertawa saja. Toh kebanyakan kita tidak melakukan survei sendiri. Kita sekadar pengamatan dan analisis dari berita-berita yang dipaparkan media online dan cetak.

Namun demikian, sikap kritis harus kita jaga. Jangan sampai lembaga survei memengaruhi sikap itu. Jangan sampai survei membuat kita subjektif menilai pemerintahan saat ini. Entah Anda pendukung Jokowi atau Prabowo maupun menteri lainnya, sikap kritis tetap harus dijaga.

Saat bersamaan, sikap fanatik sebaiknya dikurangi. Mereka itu politisi, berjanji itu keharusan dan menetapinya bukan keharusan. Hidup ini terlalu berharga, jangan dihabiskan dengan memuja aktor-aktor politik.

Hasil survei harus dijadikan bahan untuk lebih kritis lagi. Apakah Prabowo pantas menjadi menteri dengan kinerja terbaik? Apakah benar kinerja kabinet kali ini makin meningkat? Apa prestasi mereka? Kewajiban bukanlah prestasi. 

Apakah selama ini Prabowo melakukan langkah-langkah taktis dan strategis? Lah bicara di publik saja menggunakan juru bicara, lebih berperan juru bicaranya ketimbang Prabowo, bagaimana mungkin ia menjadi menteri terbaik.

Demikian pula dengan menteri-menteri lain. Bagaimana mungkin Sri Mulyani dan Erick Thohir mendapatkan ranking bagus sementara saham-saham BUMN babak belur di bursa saham? Jangan-jangan survei tersebut sebuah lukisan?

Entahlah. Mari tertawa merespons hasil survei tersebut sambil menikmati kopi pagi dan sore.